Catatan Menuju Metropolitan

catatan menuju metropolitan

Catatan Menuju Metropolitan – Kau mau tahu kenapa lulusku lama? Mendekatlah, aku mau berbisik. Setidaknya bisikan yang paling lirih. Ini adalah catatanku 3 tahun silam (tentunya dengan beberapa perombakan). Kala aku memutuskan pergi sejauh-jauhnya dari Indonesia, namun uangku hanya mampu mencapai Vietnam. Jadi, yah, maaf sekali jika tulisan saya kali ini amat mentah. Toh, Mas Ri—selaku Pemimpin Redaksi media yang sedang kalian baca ini—tidak keberatan.

**

Aku merasa amat lambat. Atau dunia yang berjalan begitu cepat. Aku tak bisa mengikuti dan pastinya akan tersendat. Aku terdiam di sebuah stasiun, ribuan manusia melewatiku, beberapa menyenggolku, ada pula yang berteriak, sebuah umpatan yang tak aku ketahui artinya apa. Aku merasa paling normal, di tengah alien yang gila akan pekerjaan. Aku sudah berada di Hanoi dalam rangka upacara melarung luka.

Bajingan, bajingan, aku membuang uang hanya untuk melakukan peribadatan membakar luka yang nantinya bakal jadi bara juga. Jadi hangus juga. Kayunya adalah diriku, apinya adalah rasa sedihku. Lantas asapnya apa? Haha, bahkan aku tak tahu harus menjawab apa—bagaimana, mengapa, berapa…asu, ya?

Aku tak peduli kepada dunia. Kuliah aku tinggalkan. Pertemanan aku abaikan. Media sosial tentunya aku enyahkan dalam beberapa segmentasi kehidupan. Lantas ia pergi begitu saja. Seperti kereta yang meninggalkan satu shelter, menuju shelter berikutnya. Aku bukan tujuan, ya? Tak mengapa. Yang membuatku menjadi bingung, mengapa seluruh dunia menyalahkanku dan membela dirimu?

Aku angkat kaki dari Indonesia. Aku meninggalkan segenap petaka yang kau haturkan. Aku sudah tak lagi seperti diriku, pun dirimu tentu saja. Kau merasa terluka dan menangis, lantas apakah aku tak boleh merasakan hal yang serupa? Kau ingin Bahagia, lantas aku buang-buang waktu menunggu dirimu tanpa adanya kepastian. Hanoi meremang kala malam, teriakan manusianya abadi tak terhentikan.

Dalam guyuran ritmis sang hujan, kepalaku menghadap atas tanpa batas. Ah, bajingan, tak ada langit di kota ini, yang ada hanyalah kabel yang saling bertautan. Langit tak ingin melihatku. Ia tak sudi melihatku yang pergi dari Indonesia hanya untuk mengubur luka dalam-dalam. Sekat padat sang langit, seakan tak mengizinkan aku berdoa kepada Tuhan lantaran pada akhirnya terbentur kabel juga. Lagi pula ini Vietnam, kawan, Tuhan bukan barang elit dan rupawan.

TERKAIT:  Quarter Life Crisis dari Pandangan Penderita Mental Illness

Di sebuah kuil aku melihat beberapa orang beribadah. Rasanya aku ingin berbisik kepada salah satu dari mereka, menitip sebuah doa. “Tapi Tuhan kita berbeda,” barangkali itu jawaban mereka. Aku memegang dada, sakit yang menyingsing sampai masuk ulu hati, mengiris tipis-tipis teritori paling perih yang pernah aku rasa. Air jeruk mengucur pada luka yang menganga, dan aku menangis di depan pintu sebuah kuil, di mana ratusan orang abai melihatku yang layaknya seekor anjing sekarat yang mendapatkan ludah. “Esok juga sudah mati,” mungkin begitu kata mereka yang melihat.

Aku hanya ingin berdoa, kepada Tuhan yang mana saja. Semisal yang ada Yahweh pun tak masalah. Sungguh, tak masalah. Aku butuh Tuhan, Tuhan yang mengirimkan seorang perempuan yang bertugas menambal luka-luka di dadaku yang menganga. Perempuan yang ada kala aku jatuh di titik paling nadir kehidupan.

Apakah perempuan seperti itu yang ada dalam fiksi saja? Apakah aku tak diberi kesempatan bertemu dengan perempuan seperti yang aku sebutkan?

Vietnam menamparku dengan kesepian di tengah keramaian. Aku terus membayangkan sosok perempuan yang aku inginkan. Perempuan yang tak perlu baik luar dan dalam, asal bisa menerima segala luka di masa laluku yang berkelindan saja sudah lebih dari cukup.

Aku menangis di depan bendera Partai Komunis, namun hasilnya justru membuatku makin teriris. Akhirnya aku membuka sebuah catatan. Catatan paling sunyi, dari ketikan demi ketikan yang bisu. Tak perlu Tuhan, tak perlu bendera partai. Tak perlu orang lain yang langkahnya cepat (ada apa sih dengan mereka yang langkahnya begitu cepat? Menjemput kematian?). Ah, peduli setan, yang ada di pikiranku saat ini hanya menulis sebuah surat—menulis sebuah rasa lebih tepatnya. Aku tak pandai balas dendam, namun yang sudah ya biarlah enyah. Ke mana? Entah. Semoga saja ke antah berantah.

TERKAIT:  Sepaket Memorabilia #3

Surat yang aku ketik di tengah metropolit padat. Sebuah surat untuk perempuan yang akan aku sua esok, lusa, atau kapan saja. Perempuan yang aku berjanji akan aku sunggi setinggi langit, aku bahagiakan sampai akhir sebuah masa kehidupan. Di mana sangkakala ditiupkan, Isa Almasih turun dari langit setelah tertidur cukup lama. Mimpi apa ya dirinya? Peduli setan. Begini surat yang aku ketik dengan penuh perasaan.

**

Untuk perempuan yang akan datang dalam kehidupanku di masa depan,

Kamu di mana? Semoga dalam kondisi baik, ya? Aku sedang berada di Vietnam. Hanoi lebih tepatnya. Kau tahu, di sini berisik sekali. Klakson mungkin harga mati, kesunyian di hatiku lah yang abadi.

Apakah kamu sudah makan? Sehat, kan? Bagaimana hari ini? Semoga semua lancar. Kau mau tahu hariku? Aku tengah melewati badai besar. Badai itu terus bergemuruh mengikutiku, tiada jedanya. Tiap malam, aku merasa dilahap bulat-bulat oleh keadaan. Aku menangis perih, tak ada dampak yang bergilir sunyi.

Aku sehabis terluka. Aku kalah melawan dunia. yang selama ini aku kira baik-baik saja, justru berbalik menjadi bajingan. Aku tak berdaya. Kamu di mana, sih? Aku menunggumu di sebuah metropolit berisik yang membawa kesunyian. Tak ada kabut, namun napasku sesak. Tak ada angin kencang yang melenggang, namun aku lari tunggang-langgang.

Kau masih disimpan Tuhan, ya? Bangsat memang si Absolut yang satu ini, aku bahkan tak diberi kisi-kisi di mana dirimu berada. Aku tak diberi barang satu petunjuk, di mana manusia yang aku damba ini disimpan dengan baik dan benar. Aku bukan cenayang, aku bukan pembawa wangsit, namun harapan akan hadirmu, makin hari makin besar dan bergemuruh bertubi-tubi.

Aku mohon maaf sebesar-besarnya jika diriku pun telat menemui dirimu, kala engkau juga dikalahkan oleh dunia. Aku tak berdaya, namun aku tak pernah berkhianat akan usaha. Napasku hadir kala manusia tertidur pulas, aku mencarimu sekuat tenaga, ah, mohon maaf belum bersua juga.

Atau Tuhan menyimpan pertemuan kita agar kita sama-sama siap terlebih dahulu? Tuhan maha penyimpan rencana, bukan? Apakah ia sudi merencanakan kisah cinta pada hambanya yang tak pernah menengadahkan tangan seperti diriku? Semoga kau yang berdoa, aku yang mengecap nikmatnya hasil doa tulusmu itu, ya? Tak mengapa? Semoga boleh.

TERKAIT:  Catatan Menuju Ketinggian #2

Aku tak peduli kau berasal dari mana. Terpenting kau lahir dari Rahim hangat seorang ibu kuat. Itu sudah cukup. Itu sudah lebih dari cukup. Boleh aku bersumpah atas nama leluhurku? Boleh aku bersumpah atas nama sebuah untaian peristiwa tragik di keluargaku? Bahwa esok, lusa, pun kelak, kala kita bertemu dalam sebuah kisah yang baik dan benar, tak akan sia-sia dirimu dilahirkan ke dunia. Aku tak ulung menepati janji, namun untuk janji yang satu ini, tolong percaya dan amin-i.

Kau harus membaca tulisan ini. Kau setidaknya harus tahu aku telah melewati hal gila seperti apa. Aku tinggalkan dua semester hanya untuk menangis di depan bendera Partai Komunis. Ho Chi Minh mungkin tertawa, Sukarno jika ada pastilah menamparku keras-keras. Semasa kuliah menulis tentang nalar, justru kala patah hati aku kehilangan apa yang aku kaji dengan benar.

Untuk perempuan yang akan datang dalam kehidupanku di masa depan, dirimu, tentu dirimu,

Kau tak harus menjadi yang terbaik di dunia. Aku akan bertugas menjadi orang yang menyadarkan itu semua. Kau tak apa merasa buruk, tapi tolong lihat aku. Tolong tatap aku. Nah, sekarang kau bukan satu-satunya yang buruk di dunia. Sekarang ada aku yang menemani dirimu yang buruk itu.

Capek menjadi yang terbaik di setiap mata orang lain. Cukup di mataku saja. Tak apa. Dunia cen bajingan. Hooh aku paham. Tapi Tuhan memberiku tugas amat gampang, yakni memberi tahu bahwa kau aman ada bersamaku.

Inilah ­Catatan Menuju Metropolitan. Sebuah upaya untuk membiasakan mencari dirimu, dari satu kota ke kota lainnya, dari satu mungkin ke mungkin lainnya. Karena aku sadar, kau, perempuan yang akan datang dalam kehidupanku di masa depan, adalah sebaik-baiknya baik, sehormat-hormatnya hormat.

Hanoi, Vietnam, 2017

Gusti Aditya A. S.

Gusti Aditya

Pernah makan belut

View all posts by Gusti Aditya →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *