Catatan Menuju Ketinggian

credit image unsplash.com

Catatan menuju ketinggian – Setelah insiden batuk berdarah dua malam lalu, aku tidak bisa memastikan apakah aku masih waras atau justru sudah gila. Satu yang bisa kupastikan, saat bercermin, ternyata benar kata kawan-kawanku yang masih menyimpan kepedulian padaku—entah pura-pura atau memang demikian adanya—bahwa tubuhku makin menyusut. Sebuah kondisi yang menyedihkan.

Aku sendiri mulai merasa kesehatanku agak terganggu belakangan ini. Ah, ayolah! Satu bulan lagi aku harus menemani kawan baikku menuju Gunung Selamet, puncak tertinggi kedua di Jawa. Ia ingin menuntaskan pendakian 3S-nya (Sindoro, Sumbing, dan Selamet), juga seven summit of Java yang ia impikan dengan menggebu.

Lalu apa tujuanku? Entah. Aku bahkan tak tahu pasti untuk apa semua perjalanan ini kulewati, dan entah berakhir di titik ketinggian yang mana. Namun, kamu tetap harus tahu, bahwa kamulah alasan aku memulainya. Dan itulah yang membuatku berani menulis  Catatan Menuju Ketinggian ini.

Awalnya kuniatkan untukmu. Tapi satu sisi aku sadar sepenuhnya kalau kamu tidak akan pernah sudi membacanya. Tak soal! Aku akan tetap menulisnya. Kelak, jika aku mati dan ada orang yang berbaik hati mengumpulkan tulisan-tulisan ini, semoga saja tulisan ini sampai di tangan kekasihmu, suamimu, atau justru anak-anakmu.

Tentu agar mereka tahu perihal kegagalanku melupakan kekasihnya, perihal kenaifanku pernah begitu keras kepala ingin memiliki ibunya, sekali lagi. Lebih dari itu, agar mereka bersedia memaafkanku yang berkali-kali gagal membaca apa yang kamu mau. Juga kesalahan yang, katamu, tak akan pernah bisa kutebus dengan pengorbanan apapun. Apalagi hanya dengan tulisan melankolis dan sok puitis ini.

Aku sampai lupa. Beberapa saat setelah bercermin, seorang kawan lain yang kuliah di jurusan kedokteran mengabariku lewat WhatsApp bahwa—setelah mengetahui gejala-gejala yang menyebabkanku batuk berdarah—ada kemungkinan aku terkena bronchitis. Hmmm, untuk sementara waktu jangan pedulikan dia, aku toh belum sempat pergi ke dokter THT (sungguhan).

TERKAIT:  Surat-surat di Stasiun #2

Aku hanya butuh banyak olahraga, makan teratur, sebats secukupnya, dan betul-betul mengurangi kebiasaan buruk menenggak minuman beralkohol atau minuman bersoda. Oh ya, kamu pasti belum tahu. Sejak kamu mengakhiri hubungan kita sembilan bulan yang lalu, tragisnya aku justru jadi peminum. Alih-alih “menemukan kebahagiaan masing-masing” seperti yang kamu katakan.

Di titik tertentu, akhir hubungan kita adalah bencana. Setidaknya bagiku. Sekaligus juga awal perjalanan tanpa ujung ini dimulai. Perjalanan menuju ketinggian.

Aku masih sangat ingat—dan sepertinya akan selalu kuingat. Sebab mengingatmu selalu jauh lebih mudah daripada melupakanmu—sembilan bulan lalu, di halaman rumahmu pukul  setengah sepuluh pagi, di pertengahan bulan Juli.

“Kita selesai!” katamu dengan tegas dan penuh amarah.

Sungguh, aku sangat ingin menerima kenyataan itu dengan lapang dada, dengan tersenyum selepas mungkin. Karena toh aku yang salah, aku yang gagal untuk menjadi yang terbaik. Setiap hal yang kuniatkan untuk menjaga dan menyenangkanmu, hasilnya selalu berujung sama saja: membuatmu sakit dan kecewa.

Maka dari itu, pilihan untuk mengakhiri semua yang sudah kita bangun selama hampir empat tahun tentunya aku sepakati. Aku tak berniat menyangkalnya, setidaknya di hadapanmu. Kendati jauh di luar itu, aku masih lelaki yang keras kepala. Yang—kalau meminjam puisi Aan Mansyur—tengah berada di ambang jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi.

Aku menangis, kamu tahu? Persis beberapa langkah dari halaman rumahmu, aku menangis, lirih. Rasanya ada yang menghantam dadaku dengan keras, teramat keras, hingga aku merasa sesak dan sulit bernapas.

Sembilan bulan berlalu dengan begitu berat, …! (Sehabis tanda koma dan sebelum tanda seru, ingin sekali kusebut namamu. Tapi aku takut itu membuatmu tidak nyaman).

TERKAIT:  Catatan Menuju Ketinggian #2

Sembilan bulan berlalu dan aku hampir kehabisan cara untuk benar-benar melupakan setiap hal yang pernah ada kita di dalamnya. Perkara yang membuat orang-orang di sekelilingku makin berisik. Kata mereka, “Merasa kehilangan hanya akan terjadi bagi seseorang yang merasa pernah memiliki.”

Terdengar sangat sufistik. Tapi orang-orang tak tahu saja, bahwa patah hati adalah situasi simalakama. Karena bersamaan dengan melupakan adalah upaya untuk menikamkan belati ke jantung sendiri. Sementara dengan terus mengingat, justru akan membuat diri sendiri makin sekarat.

Aku pernah mencoba mencari penggantimu, seperti yang orang-orang sarankan. Mereka teramat yakin dengan lirik lagu Banda Naira, “Yang patah tumbuh, yang hilang berganti” itu.

Nahasnya, kepada perempuan yang di hadapanku itu, aku masih dibayangi ketakutan-ketakutan. Bagaimana jika aku sama gagalnya dengan saat mencoba menjadi yang terbaik buatmu?

Dan jauh sebelum itu, pada satu bulan pertama sejak peristiwa pagi di halaman rumahmu itu, saat aku sedang terpuruk-terpuruknya, aku memulai perjalanan ini, pendakian pertamaku sekaligus pintu awal untuk pendakian-pendakian yang aku lakukan selanjutnya, seterusnya, dan entah akan berakhir di mana. Ditemani seorang kawan baik yang selalu memintaku berhenti menyalahkan diri sendiri. Walaupun lebih banyak mengataiku sebagai lelaki lemah yang jadi idiot gara-gara cinta.

Inilah ­Catatan Menuju Ketinggian. Sebuah upaya untuk membiasakan diri (tanpamu), dari gunung ke gunung, dari satu ratapan ke ratapan yang lain.

Karena aku memang tak sedang berupaya melupakanmu. Aku hanya mencoba membiasakan diri menjadi seperti sediakala, saat kita masih bukan siapa-siapa.

Dan karena aku memang tak sedang berupaya menyembuhkan luka. Gunung adalah cita-cita lama kita, bukan? Dan aku sedang berupaya mewujudkannya, walau sendirian, walau sangat menyedihkan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *