Agama dalam Hierarki Sosial

A Question of Faith

Agama dalam hierarki sosial – Bicara agama akan selalu sensitif. Jika tidak, mungkin Arswendo Atmowiloto tidak harus mendekam di penjara. Agama memiliki tempat yang istimewa. Mungkin terlalu istimewa jika kita berlandasan realitas.

Agama adalah belati, dan belati selalu punya manfaat dan masalah bersama kilat tajamnya. Dan bicara karya dari Gusti Aditya tentang agama sebagai kabar buruk dari langit, serta Aly Reza tentang agama sebagai jalan pulang, saya percaya bahwa agama berada dalam posisi abu-abu. Agama bisa membawa senyum dan pengharapan, sekaligus memenggal kepala manusia yang berkhianat.

Jika bicara bagaimana agama lahir, maka pemaparan sederhananya seperti ini: Manusia bertanya tentang apa yang dilihat. Ketidakmampuan manusia menjawab membuat mereka memikirkan entitas yang lebih mulia. Manusia membangun filsafat entitas ini dan berakhir menjadi teologi. Kemudian teologi ini disepakati bersama dan dilembagakan menjadi agama. Sampai sini, agama membawa pengharapan dan jawaban.

Kemudian pelembagaan agama menghasilkan hierarki sosial. Pihak yang merasa “terpilih” karena menelurkan dan memahami teologi ini menuntut pembedaan posisi. Pembedaan ini melahirkan struktur yang terlindung oleh kehadiran agama. Manusia kini bekerja di bawah kendali teologi berikut ketakutan di dalamnya. Bermodalkan “izin dari langit”, otoritas dalam hierarki ini berhak mengatur hajat hidup manusia lain. Sampai di sini, agama menjadi algojo pemenggal manusia. Secara literal dan kiasan.

Dwifungsi agama inilah yang melahirkan realitas sosial hari ini. Ada golongan ekstrimis, surpresi otoritas, penindasan kaum minor, dan konflik berdarah. Namun, di satu sisi lahir golongan filantropis, kepedulian pada kemanusiaan, misionaris sosial, serta solidaritas global. Sampai di sini, saya tidak bisa memutuskan bagaimana agama harus disikapi.

TERKAIT:  Agama (atau) Ketakutan

Kita posisikan diri sejenak sebagai pengamat di luar gelanggang. Melihat agama dari luar memang menarik. Agama menjadi alat kontrol sosial selayaknya uang dan negara. Di satu sisi, agama punya corak yang membuat manusia berani berharap. Agama menentramkan, sekaligus mengancam. Agama menyentuh hati yang luka, dan membakar dunia serta isinya.

Franco menindas, namun Bunda Teressa merawat. Paus Urban mengobarkan perang, namun Paus Yohanes Paulus II membawa keceriaan. Al Kindi menabur pengetahuan, dan Harun Yahya berbohong. Mungkin Anda akan berkata, “Itu semua hanya oknum!” Tidak, Sayang. Mereka semua hadir karena agama hadir. Agama jelas mengatur harmoni dalam masyarakat. Agama melahirkan manusia keparat sekaligus begawan penuh kasih.

Lalu sebenarnya di mana posisi agama? Agama bisa menjadi kompas moral yang menata kehidupan manusia. Namun agama juga menjadi kompas palsu demi pembenaran. Semua tergantung siapa yang berada pada puncak hierarki. Karena agama selalu berada di puncak hierarki. Tidak melulu karena keilahian, namun demi kendali politis dan sosial.

Para pembenci agama akan menunjukkan penggunaan agama sebagai alat penindas. Sejak Zoroasterisme sampai lahirnya Baha’i, agama adalah kedok indah penguasa yang lalim. Dari perang salib sampai perang melawan terorisme menjadikan agama sebagai Causa Belli.

Terlalu panjang jika saya bicara agama dan perang. Dan lebih panjang ketika bicara represi berlandaskan agama. Tidak bisa dimungkiri, agama bukanlah fakta ilmiah. Agama adalah ide yang tidak berlandaskan benda fisik. Dari pengekangan Copernicus sampai tindakan represif pada LGBT+Q adalah bukti.

Lalu, bagaimana agama dicinta? Terlepas urusan janji abadi, agama menjadi kendali yang “pantas” dalam perjalanan manusia. Banyak tokoh alim yang menebarkan kasih perlindungan atas dasar agama. Bahkan perlawanan terhadap pemerintahan yang lalim sering dilandasi nilai-nilai agama.

TERKAIT:  Krisis Kesadaran Privasi di Tengah Negeri Polisi

Dari revolusi turban kuning di Tiongkok sampai perlawanan pendudukan Inggris menempatkan agama sebagai pegangan bersama. Agama menjadi alasan nir fana dalam menghadapi penindasan. Agama juga melahirkan agen solidaritas bersemangat misionaris.

Kedua sisi agama ini lahir sebagai dampak dari penempatannya yang begitu mulia. Bahkan melampaui akal logika. Posisi ini melahirkan kendali yang dikuasai oleh mereka yang mulia dalam sistem agama. Para wali dan pendeta memiliki wewenang yang saling terikat dengan pemimpin politis. Tarik ulur ini membuat agama wenjadi legal causes dalam setiap tindakan otoritas.

Tapi, agama sebagai kompas moral ikut berpartisipasi dalam tata kelola masyarakat. Sebagai sebuah hukum yang disepakati bersama, agama berperan dalam perkembangan ide masyarakat. Termasuk ide-ide revolusioner seperti contoh di atas. Dan terakhir, agama menjadi pengharapan paling paripurna. Menjadi obat psikologis dari situasi yang tidak bersahabat.  Pantaskah kita membenci agama? Atau kita harus mencintainya sepenuh hati? Ini rumit karena agama adalah irisan dari perkara duniawi serta ilahiah. Yang pasti, agama tetaplah pisau bermata dua. Agama adalah bencana dan kerinduan, Kehancuran dan jalan pulang. Sentuhannya menyembuhkan hati, dan ciumannya menghancurkan dunia.

Den Baguse Prab

Orang yang setia untuk mempertanyakan segala hal. Membenci banyak hal dan orang dalam kebencian yang setara dan egaliter.

View all posts by Den Baguse Prab →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *