Agama, Jalan Pulang

Religion as a Private Matter dari LibertyMagazine

susahtidur.net – Persis yang diramalkan Daniel Bell dalam The Coming of Post Industrial (1976), bahwa kelak—yaitu hari ini—manusia tidak bisa menyangkal kemunculan spesies baru dalam lingkaran peradaban mereka, yakni yang dipopulerkan Bell dengan istilah post industrial society (masyarakat post industrial). Kelompok masyarakat dengan keuletan—juga ketergantungan—pada sistem teknologi dan informasi.

Bersamaan dengan itu, ilmu pengetahuan semakin maju, arus teknologi kian pesat,  gelombang digitalisasi semakin tak terbendung, dan metafisika tradisional—dalam hal ini adalah agama—dipandang sebagai sesuatu yang tidak lagi relevan. 

Pada tingkat yang lebih ekstrim, agama, bagi masyarakat pasca industri, tidak lebih dari  sekadar mitos dan dongeng-dongeng sebelum tidur. Agama adalah parasit; penghambat kemajuan; batang kayu—atau reruntuhan tanah—yang melintang di jalan saat orang-orang tengah berlari dengan tergesa, dan lebih dari itu, agama, di mata mereka, adalah bencana; adalah kabar buruk dari langit. Singkatnya, manusia sudah tidak butuh agama. 

Jika agama adalah jalan damai, manusia merasa jauh lebih damai justru saat mereka memilih menanggalkan atribut keagamaan yang sebelumnya mereka kenakan. Tidak ada lagi kebanggaan, ketakjuban, lebih-lebih kebahagiaan atas agama. Sekali lagi, agama hanyalah kabar buruk dari langit, kutukan yang dimulai sejak Adam diusir dari surga dan bakal berakhir di periode zaman yang mana. 

Bahkan hingga masa Muhammad Saw pun, saat kitab-kitab menyebutnya sebagai titik kulminatif dari sejarah panjang agama-agama Semitik, peperangan justru pecah berkali-kali. Menjadi sebuah narasi klasik yang dikisahkan secara heroik dan di kemudian hari selalu menjadi dalih untuk saling membunuh dan membantai. Untuk kesekian kalinya, di manakah jalan damainya?

Masyarakat post industrial—selanjutnya sebut saja “kita”—lalu sepakat dengan kesimpulan, bahkan tanpa agamapun, dunia akan tetap baik-baik saja. 

TERKAIT:  Adat yang Mengikis Agama

Ya, sama baik-baik sajanya jika manusia tetap memegang teguh agama sebagai prinsip dan nilai.

Sampai di sini saya jadi teringat dengan Ibrahim (bapak dari agama-agama Semitik). Saya penasaran saja, sebagai seseorang yang lahir tanpa mengenal konsep agama, apa hal yang membuatnya terusik; membuatnya termenung menatap langit berhari-hari; dan dengan rasionalitas serta kesadaran penuh tiba-tiba mendeklarasikan sebuah agama yang ia yakini berasal dari “Yang Tunggal” dan “Yang Tak Terbatas” itu. Deklarasi yang pada akhirnya menggiring dirinya ke tiang perapian di tengah kota Babilonia.

Ah, bukankah harusnya ia tidak perlu repot-repot. Bukankah harusnya jauh lebih damai ketika ia memilih bertumbuh sebagaimana sedianya ia dilahirkan: tanpa agama, tanpa Tuhan, sehingga ia tidak perlu mengalami hukum bakar dan bahkan sampai harus menyembelih putranya sendiri. 

Atau barangkali begini, tanpa agama dunia mungkin bakal baik-baik saja. Tapi dengan agama, nampaknya dunia bakal terasa jauh lebih baik.

Kata Ibnu Arabi, agama—apa pun itu—pada prinsipnya adalah cinta. Agama membekali manusia dengan cinta dan kasih sayang. Sekarang coba kita bayangkan, bagaimana jadinya jika manusia hidup tanpa cinta (agama)? Betapa keringnya, betapa kacau, betapa tak berartinya kehidupan dan kemanusiaan. 

Atau pada aspek praktis, agama memegang kendali dan kontrol sosial. Mencoba mengatur lalu lintas hidup manusia agar tidak terjadi tabrakan satu sama lain. Hukum-hukum agama lahir, betapapun sering tidak masuk akal, sebagai upaya untuk membuat segalanya tampak proporsional. 

Andai saja seluruh manusia menyangkal eksistensi agama, saya tidak yakin betul manusia dengan labilitas kehendak dan tabiat antroposentrisnya itu bisa menyelematkan dunia dari kehancuran massal. Duh, kiamat bisa jadi datang lebih cepat kalau begini. 

Sekeras apa pun kita menyangkal agama, sayangnya agama adalah jalan pulang. Sejauh apa pun kita bergerak menjauh, tragisnya kita justru tengah menuju lebih dekat dengan agama. Karena persis yang dikatakan Mariasusai Dhavamony, manusia selalu butuh yang Transenden. Sebab, hakikatnya kita, mengutip istilah dari Pierre Teilhard de Chardin, bukanlah makhluk manusia yang memiliki pengalaman spiritual, melainkan makhluk spiritual yang memiliki pengalaman sebagai manusia. Disadari atau tidak, diterima atau tidak. 

TERKAIT:  Agama adalah Kabar Buruk dari Langit

Betapapun Auguste Comte, Herbert Spencer, Emile Durkheim, Max Weber, Karl Max, atau mungkin Anda sekalipun memprediksi agama akan mati di tengah gemerlapnya masyarakat post industrial, yang terjadi selalu sebaliknya. Agama justru tetap menyala. Ia tak terdesak ke tepian, lenyap, lalu punah. Ia tetap eksis, setidaknya hingga paruh waktu masa ini.

Agama yang Dikambinghitamkan

Saya sendiri, di titik tertentu, juga tidak bisa menolak kebenaran perihal kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan oleh agama. Tunggu, atau yang benar adalah kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan oleh penganut agama; tafsiran-tafsiran sepihak, dan oleh cara beragama yang solipsistik, yang pada gilirannya menghendaki dunia ini takluk di bawah kendali agama secara total.

Dengan begitu, bukan agama yang salah, dong. Tapi cara kita dalam memahaminya saja yang kurang presisi. Bukan agama yang menghambat, namun kita, para penganutnya yang membuatnya terkesan demikian. Bukan agama yang sesungguhnya kabar buruk, tapi kita saja yang mewartakannya sebagai kengerian dan ketakutan-ketakutan. Jika begitu, maka terlalu prematur untuk sampai pada konklusi bahwa kita sama sekali tidak membutuhkan agama.

Begini, misalnya saja ada seseorang yang tidak bisa menyalakan motor matic karena standar-nya belum dinaikkan, lantas apakah kita bisa menyimpulkan jika motor matic tidak berguna dan tidak dibutuhkan? Alih-alih memberi pemahaman perihal bagaimana prinsip operasinya.

Apalagi sampai menganggap agama—dalam arti nilai—sama tidak pentingnya dengan kolom agama di KTP. Padahal itu adalah dua urusan yang sama sekali lain.

Baiklah, kita butuh cara beragama yang unitive; cara beragama yang tidak sekadar ritus dan ornamental belaka. Lebih dari itu, yakni model keberagamaan dengan spiritualitas dan moralitas. Tapi itu kita bicarakan lain waktu saja.

TERKAIT:  Distopia Masyarakat Teistik Vis a Vis Utopia Wacana Sekularisasi Total

Yang ingin saya sampaikan adalah, saya tidak tahu pasti apakah agama berasal dan/atau diciptakan oleh Tuhan sendiri. Barangkali hanya monopoli dari orang-orang terpilih yang disebut Nabi itu. Saya tidak tahu pasti.

Tapi jika kita menyangkal kebenaran agama hanya karena tidak masuk akal, bukankah memang seharusnya demikian? Agama—dan komponen di dalamnya—jauh lebih terdengar masuk akal justru karena ia tidak pernah masuk akal. 

Dan Mircea Eliade toh sudah terlanjur menemukan konsep hierophany. Kurang lebih sama dengan penjelasan Teilhard de Chardin, bahwa kita—dan seluruh yang ada di semesta—adalah emanasi dari “Yang Tunggal” dan “Yang Tak Terbatas”. Memangnya saat ini sedang ke arah mana kita kalau tidak sedang pulang menuju ke SANA?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *