Agama adalah Kabar Buruk dari Langit

gambar dari history.com

susahtidur.netDari sebuah pertanyaan goblok macam “Agamamu apa?” maka jadilah tulisan ini. Dari hal bajingan macam pengelompokan kolom agama di KTP untuk hidup bermasyarakat dengan damai, maka jadilah tulisan ini. Dari hal-hal jembut yang mengitari seputar agama, agama, dan agama, maka jadilah tulisan ini. Padahal, sampai detik ini kita tak pernah adil menelaah apa itu agama secara supremasi.

Jika kalian merasa hidupmu tidak berguna, ingatlah ada yang namanya kolom agama dalam KTP di dompetmu yang tipis itu. Setipis rasa keadilan dari negara kepada para pemeluk kepercayaan. Inilah Rata Kiri.

**

Agama adalah penyelamat umat manusia dari berhala mitos-mitos, begitu kata buku-buku tua rujukan untuk dibeli para mahasiswa. Filsafat entah ke mana, tak masuk dalam rujukan utama. Pindahnya sistem “mitos” kepada “agama”, itu bak memindahkan air larutan garam ke lautan lepas. Kita menendang kisah Zeus si pemegang petir, lantas mempercayai lautan yang terbelah. Kita mentertawai Hades si Putra Tertua Kronos yang mengalahkan Titan, lantas mempercayai sebuah tongkat yang berubah menjadi ular.

Arti lain, agama yang menjadi rujukan itu tak jauh dari sebuah fiksi yang tak pernah bergerak jauh menuju kemajuan. Tunggu dulu. Tidak, saya tidak sedang menyerang satu atau dua agama secara eksplisit. Yang saya maksud, pengertian agama tidaklah sesempit itu. Agama tidak hanya seputar ritus, agama pun tidak seputar rasa cinta manusia yang luar biasa kepada suatu zat yang absolut. Jika agama hanya sesempit ritus penyembahan, maka tak ubahnya agama hanyalah kabar buruk dari langit belaka.

Yang Kudus akan hangus

Bahkan kita sudah salah sejak dalam pengartian terminologi dari kata agama. Agama sebagai kata, bukan perangkat. Agama melalui terminologi paling luas menyetir banyak sekali makna, bukan hanya termaktub manakala harus bersentuhan dengan sebuah ritus pemujaan. Agama tidak harus merujuk kepada rasa percaya kepada Transenden, melainkan mengacu kepada sebuah proses yang lebih dalam perihal pengalaman kepada yang kudus dan sebagai konsekuensinya, berhubungan erat dengan konsep ada, makna, dan kebenaran. Mircea Eliade dalam The History of Religious Ideas mengatakan demikian.

TERKAIT:  Agama, Jalan Pulang

Mircea Eliade banyak berbicara kepada sesuatu yang kudus, jika ditelaah secara seksama, melalui tulisan Dialektika yang Kudus: Tersembunyi dan Tersingkap oleh Hary Susanto, Eliade merujuk kepada konsep Rudolf Otto dalam bukunya yang berjudul The Idea of the Holy (Susanto, 2010:306). Eliade mencoba menjelaskan berbagai macam manifestasi yang kudus dan menunjukan perbedaan kontras antara manusia religius yang ingin hidup “di dalam yang kudus” dan manusia nonreligius—manusia modern—yang memilih hidup di dunia yang sudah didesakralisasikan.

Maka agama bukan hanya konsep memegang teguh kepada sebuah ritus, namun juga mendobrak homogenitas imanensi yang hanya berkutat kepada ruang dan waktu belaka. Eliade lebih dalam lagi mengatakan bahwa yang kudus itu tersamar di dalam yang profan. Konsep ini tidak mengidentifikasi sang kudus dengan objek apapun, entah itu berupa kekuasaan, keilahian, seorang dewa, ataupun pluralitas para dewa yang transenden.

Mircea Eliade dalam Le Sacré et le Profane (1965: 15-16), “Setiap objek yang memanifestasikan yang kudus berubah menjadi sesuatu yang lain, tetapi sekaligus tetap menjadi dirinya sendiri, karena objek itu tetap terus berpartisipasi dengan lingkungan kosmis di sekitarnya. Sebuah batu yang kudus tetaplah sebuah batu. Tampaknya, atau tepatnya dari sudut pandang profan, tidak ada yang membedakannya dengan batu lain. Tetapi bagi mereka yang melihat manifestasi yang kudus di dalamnya, realitas batu itu berubah menjadi realitas supranatural.”

Sebuah batu yang dipercaya fantastis, akan biasa saja di mata kaum nonreligius—sebagaimana disebutkan oleh Eliade. Melalui bukunya yang berjudul Traité d’Histoire des Religions, mukjizat adalah peristiwa yang tidak dapat dimengerti oleh akal. Intervensi yang kudus dalam dunia ini selalu tersamar dalam bentuk historis. Sedangkan sebuah zaman selalu maju, agama pun serupa, yang ada agama justru “menjajah” kepercayaan-kepercayaan di bumi yang mereka singgahi.

TERKAIT:  Valentine dan Kelindan Agama di Sekitar Kita

Kolom agama dalam KTP

Pengaplikasian konsep salah kaprah perihal agama sejak dalam terminologi ini jelas berimbas kepada masa sekarang. Agama yang seakan dipersempit pada ‘Kemahaesaannya’, ruang gerak kosep yang lain pun seakan runtuh. Lantas diperparah dengan tafsir-tafsir liar seputar “Maha Esa” tadi atas nama Tuhan. Agama menjadi rujukan yang paling megah, padahal, ya sama saja bak sampah organik yang tak bisa diolah.

Rosni Simarmata, saksi pemohon dalam sidang uji materiil Undang-Undang No 24 Tahun 2013 tentang Administrasi Kependudukan (Pasal 61 ayat (1) dan (2) dan Pasal 64 ayat (1) dan (5)) dalam sidang perkara Nomor 97/PUU-XIV/2016, 2017 silam, menghadirkan kisah yang perih. Rosni bercerita nasib buruk anaknya kala melamar pekerjaan dan ditanya mengapa kolom agama di KTP-nya kosong.

Dilansir dari laman Mahkamah Konstitusi, pengosongan kolom agama pada KTP elektronik bagi penganut kepercayaan mengakibatkan pemohon sebagai warga negara tidak bisa mengakses dan mendapatkan hak-hak dasar lainnya seperti hak atas pendidikan, hak atas pekerjaan, hak atas kesehatan, hak atas jaminan sosial beserta dengan seluruh layanannya, sehingga hal ini jelas melanggar hak asasi manusia.

Pada tahun 2019 maka kolom KTP itu tidak lagi kosong, melainkan dituliskan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Dilansir dari Tempo, Prosedur pembuatannya harus melampirkan rekomendasi dari organisasi aliran kepercayaan.

Walau di masyarakat, menentukan perubahan kolom agama dalam KTP pastilah akan mendapat berbagai macam stigma. Patennya kesalahan terminologi perihal agama, tak akan mampu mengubah hal-hal saklek di masyarakat. “Agama itu ya sistem kepercayaan,” begitu pastilah yang diucap, bahwa tak sadarkah penyembah dinamo itu juga layak disebut sebagai agama. Agama adalah sesuatu yang kudus, sayangnya manusia tak bisa mencapai titik kudus tersebut.

TERKAIT:  Lennon dalam Lanskap Politik dan Agama

Manusia biasa hanya bisa masuk kepada dua hal; memuja atau membunuh. Memuja tentu saja dengan melakukan ritus, sedang membunuh adalah jalan terjal berupa meragukan posisinya di lingkup makrokosmos dan mikrokosmos. Membunuh adalah memilih jalan berada di persimpangan mana yang akan ia pilih.

Gusti Aditya

Pernah makan belut

View all posts by Gusti Aditya →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *