Jogja Tidak Pernah Krisis Estetika, Tapi Krisis Humas dan Content Creator!

susahtidur.net – Jogja krisis humas

susahtidur.net – Daerah mana yang gemar bersolek dan estetis lahir batin? Jika Anda menjawab Venice, ngga salah sih. Tapi jawaban yang saya maksud adalah Jogja. Bicara estetika, Jogja memang jagonya. Atau lebih tepatnya, bicara pembangunan berbasis estetika. Bahkan Ridwan Kamil yang terkenal sebagai pembangun estetis saja kalah kalau diadu dengan Jogja.

Bagaimana tidak? Sekadar merombak satu landmark saja bisa habis milyaran rupiah. Itu pun dirombak terus tiap tahun. Perkara lampu jalan saja, Jogja sudah estetis paripurna. Pokoknya, estetika Jogja istimewah!

Setiap sudutnya bisa diromantisasi. Bahkan kemiskinan saja diromantisasi. Jal bayangno, daerah mana yang bisa memoles kemiskinan sebagai kearifan lokal? Harusnya Venezuela dan Ethiopia belajar ke Jogja. Biar krisis yang mereka alami bisa dikemas jadi hal yang romantis.

Sayangnya, upaya meromantisasi ini gugur ketika disampaikan ke khalayak ramai. Ada saja yang bisa dirujak dari romantisasi Jogja yang struktural dan kultural ini. Bahkan sekadar konten instagram saja masih bisa ditemukan cacatnya.

Menurut saya, Jogja sudah krisis dalam perkara membangun opini masyarakat. Utamanya di media sosial. Jogja sedang krisis humas dan content creator! Jika Jogja sudah mahir dalam urusan humas, sudah pasti saya tidak bisa cangkeman seperti ini!

Apa benar? Coba anda amati postingan akun Humas Jogja tanggal 21 Februari lalu. Resapilah muatan, amati fotonya. Menurut saya, ini adalah postingan paling ndlogok dan ra cetho dari sekian banyak romantisasi yang dilakukan secara terstruktur. Kok ra nganggo mikir ki lho?

Postingan ini memuat isi sapa aruh dari Sri Sultan HB X. Bagian yang di-bold adalah, “Sekecil apa pun penghasilan kita, pasti akan cukup, bila digunakan untuk kebutuhan hidup.” Jelas, ungkapan ini disampaikan untuk memberi semangat bagi kawula Jogja yang dirudapaksa oleh pandemi.

Sebenarnya, kata-kata yang ditampilkan ini sih memang ra mashok. Lha kalau pendapatan benar-benar lebih kecil dari angka kebutuhan hidup layak (KHL), mau akrobat sampai kepising juga ga akan cukup. Tapi kita sudahi saja kemarahan pada ungkapan ini. Yang jelas, teknik penyampaian dari humas saja sudah mawut.

Kalimat (dan bersama kalimat yang lebih utuh) ini disematkan dalam sebuah foto. Dalam foto tersebut terdapat sosok ibu-ibu bakul sayur di pasar sedang menatap kosong ke depan. Memang pakai masker, tapi saya melihat tatapan pasrah dan sedih dari mata ibu itu. Terlihat juga tumpukan sayur yang seperti belum laku. Situasi sekitar juga sepi dari konsumen. Secara global, visual yang disajikan penuh kesedihan.

Yo ra ngono konsepe, blok! Jika mau mengajak masyarakat bersabar, jangan tampilkan nuansa sedih tanpa harapan. Bukan bermaksud mengkritisi sosok ibu bakul tadi, njenengan sudah pas menunjukkan wajah asli rakyat Jogja. Tapi mbok yo dipikir ki lho, heh pak buk humas!

Pantas saja postingan ini dirujak. Baik di instagram atau twitter. Lha cen ndlogok og. Di satu sisi pamer indahnya Jogja yang kebyar-kebyar. Di sisi lain, mengajak (dengan paksa) rakyat Jogja untuk narimo ing pandum dalam penghasilan yang kecil.

Ini sudah lebih blunder daripada kasus Eiger kemarin. Wes pesannya luput, dirujak, tur cuek ra nanggepi. Seolah-olah Cuma setor gawean. Ealah, nek mung ngene sih mending cari tim romantisasi yang lebih mlethik.

Perkara dirujak, mbok ini dikaji dulu oleh tim romantisasi. Kalau satu dua kali karena blunder tidak masalah. Lha iki saben posting kok dirujak. Atta Halilintar saja tidak pernah sengenes ini lho. Jika setiap posting selalu dirujak, berarti ada dua kemungkinan: delivery aja cen ndlogok, atau memang materinya sudah ndlogok duluan.

Jika ingat geger beberapa waktu lalu, ada twit “hitungannya memang segitu”. Twit dari akun Area Jogja ini juga sama gobloknya. Sebagai akun yang menyebarkan informasi positif, mbok ya jawaban ke netizen ki dipikir sithik. Saiki dadi bahan rujakan tho? Kawus we!

Sini tak ajari. Jika mau mengangkat tentang kesabaran pada penghasilan, tunjukkan wajah yang semangat. Tunjukkan dagangan ibu tadi sedang laku, meskipun dalam protokol kesehatan. Atau kemas dengan visual di gubuk pematang sawah. Tunjukkan suasana gembira ketika para petani menjaga sawah bermodal teh di dalam ceret yang seadanya.

Untuk menjawab netizen perkara upah murah, yo jangan pakai istilah “hitungannya memang segitu.” Coba jawab dengan, “perkara upah sudah disesuaikan dengan KHL.” Atau “Jogja penuh potensi lho, ayo dikembangkan agar potensi ini memberi manfaat.” Yah seperti itu lah. Bukan jawaban pagob ra cetho seperti tadi!

Bajingan, aku mung butuh mikir 5 menit untuk ngurusi konten. Jogja itu penuh materi romantisasi lho! Kok blunder terus. Butuh ketemu po? Saya siapkan CV biar meyakinkan bahwa ide-ide saya ini marketable banget. Kuwi we aku yo ra minat nulungi. Lha ndlogok!

 Wes gini saja, Jogja tak urusane karo cah-cah!

TERKAIT:  Surat Cinta dari Bajingan: Antara Aku, Kamu, dan Monarki

Den Baguse Prab

Orang yang setia untuk mempertanyakan segala hal. Membenci banyak hal dan orang dalam kebencian yang setara dan egaliter.

View all posts by Den Baguse Prab →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *