Solo – Jogja di dalam Sebuah Lanskap Gerbong KRL

susahtidur.net – KRL Jogja – Solo

KRL JogjaSulit betul memang menggeser kedigdayaan Prameks yang sudah menemani warga Jogja – Solo selama bertahun-tahun. Banyak kisah yang sudah terjadi di dalamnya. Banyak problematika yang sudah diselesaikan Prameks untuk warga Jogja – Solo sebagai pengguna jasanya. Hadirnya KRL tentu menjadi wajah baru. Susahtidur Media ngobrol dengan beberapa penumpang KRL perihal kesan dan pesan mereka terhadap kereta yang resmi beroperasi pada 10 Februari 2021 ini.

Prameks bak keabadian yang sulit dilupakan

Kita sama-sama tahu ketika Prameks pensiun dalam trayek Jogja – Solo, para pengguna media sosial bercuit perihal pengalaman mereka menggunakan kereta yang memiliki nama panjang Prambanan Ekspress. Memang hal ini amat wajar karena kereta ini beroperasi sejak tahun 1994.

Kereta rel diesel ini tak lagi menyediakan trayek menuju Solo. Arti lainnya, Prameks kini memotong jarak hanya dari Jogja menuju Stasiun Kutoarjo. Banyak yang bilang kenangan belum usai, banyak pula yang mengajukan pendapat bahwa riuh rendah Jogja – Solo berakhir sudah.

Dari kisah-kisah melankoli hingga yang ngisin-ngisini, Prameks menyediakan cerita dalam gerbong-gerbongnya. Ketika Prameks menghentikan trayek menuju Solo, tentu saja banyak warganet yang menuliskan kisah perpisahan mereka kepada kereta yang memiliki julukan Kuda Putih.

“Ya, bagaimanapun naik Prameks itu banyak kisahnya bagi saya,” ujar Pratama, salah satu penumpang KRL pada tanggal 20 Februari. “Macem-macem lah. Kisah kan nggak harus yang senang-senang doang, kan?”

Pratama merupakan seorang mahasiswa yang rutin menggunakan Prameks lantaran ia sedang menuntut studi di Jogja, sedang daerah asalnya adalah Solo. “Biasanya naik motor, namun motor saya sering dipakai orang rumah, jadinya naik kereta itu pilihan utama dari jaman maba (mahasiswa baru) dulu hingga sekarang.”

TERKAIT:  Pontang-panting Tukang Cukur di Bantul Saat Pandemi

Tidak hanya Pratama, para pedagang banyak yang menggunakan Prameks sebagai pilihan mereka membawa barang. Sebelum ada aturan batas maksimal kabin, banyak pedagang yang membawa barang-barang besar ke dalam kabin. Prameks memang pilihan yang baik, namun bukan berarti tidak bisa digantikan.

Diki, salah satu penumpang KRL rute Solo – Jogja memiliki pendapat lain. Ia berujar bahwa banyak orang yang berlebihan menyikapi berhentinya trayek Prameks menuju Solo. “Ini kan persoalan pergi dan pulang. Medianya apa, bebas. Toh Prameks sudah beberapa kali berganti gerbong. Hanya namanya saja yang seakan abadi.”

Diki menegaskan bahwa kenangan di sebuah transportasi ini hanya perihal tempat yang dilalui, bukan medianya. Ia berujar, “Kenangannya itu ya tiap stasiun yang dilalui, Mas. Mulai dari Lempuyangan sampai Balapan, ya kenangan-kenangan itu bertahan di sana. Seperti yang saya ucapkan di awal, gerbongnya saja sudah banyak yang berubah lho.”

KRL Jogja – Solo dalam dua sudut pandang yang berbeda

Pratama mungkin punya kisah sentimentil terhadap Prameks sehingga mempengaruhi pendapatnya tentang KRL. Ia berujar, “Saya nggak suka tipikal tempat duduk yang begini (KRL menggunakan tempat duduk yang berlajur). Lebih banyak tempat kosong yang tersedia untuk berdiri. Di jam-jam sibuk (sebelum pandemi), pasti bakalan banyak banget orang tua yang nggak kebagian tempat duduk.”

Pratama, menurut asumsinya, mengatakan bahwa yang naik kereta Prameks itu kebanyakan orang tua (mungkin lebih tepatnya penumpang dewasa). “Kalau anak muda bisa diantisipasi naik motor, namun kalau orang tua pasti lebih memilih naik kereta. Kalau kursinya begini, banyak banget yang nggak kebagian.”

Pratama juga mengeluhkan KRL banyak berhenti dari satu stasiun ke stasiun lainnya. KRL tercatat berhenti di sebelas stasiun, yakni Tugu Yogyakarta, Lempuyangan, Maguwo, Brambanan, Srowot, Klaten, Ceper, Delanggu, Gawok, Purwosari, dan Stasiun Solo Balapan.

TERKAIT:  Terbawa Suasana Romantis, Demo Aliansi Rakyat Bergerak di Jogja Berjalan Damai

Berbeda dengan Diki, ia berpendapat, “Masa pandemi seperti ini penumpang dibatasi, jadi berhenti sampai seratus stasiun pun nggak masalah sih. Kayaknya sih KRL lebih cepet kan lajunya? Saya lebih nyaman dengan KRL. Seriusan.”

KRL dan Prameks memang memiliki perbedaan cukup signifikan. Selain jumlah stasiun yang disambangi, perihal kecepatan dan waktu tempuh amat mempengaruhi. Dilansir dari KRL.Co, Kecepatan maksimal perjalanan KRL ini bisa sampai 90 km/jam. Sedangkan kecepatan maksimal perjalanan KA Prameks secepat 78-80 km/jam.

Pun dengan waktu tempuh. Masih dilansir dari sumber yang sama, waktu tempuh perjalanan KRL ini rata-rata sekitar 68 menit, ini lebih cepat waktunya dibandingkan perjalanan KA Prameks dengan waktu tempuh rata-rata selama 75 menit.

Diki juga mengatakan bahwa KRL lebih efisien, sedang Pratama mengatakan bahwa Prameks cenderung lebih ribet untuk orangtua. Diki berkata, “Ini menjadi masalah utama Prameks perihal ticketing, sih. KRL itu pakai sejenis kartu gitu (Kartu Multi Trip atau KMT), jadi nggak ribet.”

KRL dirasa lebih efisien oleh Pratama lantaran bisa menggunakan uang elektronik dari bank yaitu E-money Mandiri, Flazz BCA, BRIZZI, dan BNI Tap Cash. Biaya pembelian kartu 20 ribu ditambah dengan saldo pembelian minimum sebesar 10 ribu. “30 ribu itu termasuk murah kan, Mas?”

“Persetan lah dengan romantisasi kereta,” ujar Diki kala KRL berhenti si Stasiun Brambanan. “Transportasi kan harus berbenah guna menggandeng para generasi selanjutnya. Perihal kata orang ribet, ayolah, di setiap kota besar juga udah begini. Jangan nrimo ing pandum terus dong, coba melawan dan menyambut perubahan,” katanya dengan berkelakar.

Kereta memang hanya benda mati yang digerakan oleh tenaga lain seperti diesel dan listrik. Namun lebih dari itu, kereta memang ditugaskan sebagai sarana terbaik untuk tepat waktu. Pun selain hal tersebut, tugas mereka terlampau berat setelah diberikan mandat perihal kenyamanan.

TERKAIT:  Surat-surat di Stasiun

Berbenahnya kereta Jogja – Solo seakan menjadi sebuah penanda, kehidupan akan selalu bergerak dan berubah. Sayangnya, gerak laju manusia berbeda dengan gerak kereta. Manusia tidak memiliki rel untuk melaju dengan lurus tanpa halangan. KRL Jogja – Solo telah bertugas di bulan Februari ini, setidaknya mempermudah langkah manusia yang hendak ke pergi dari Jogja menuju Solo—atau sebaliknya—agar ajeg tidak keluar dari jalurnya.

Gusti Aditya

Pernah makan belut

View all posts by Gusti Aditya →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *