Pentingkah Menyembuhkan Transgender?

susahtidur.net – ilustrasi dari scitechdaily

Pentingkah Menyembuhkan Transgender? – Beberapa waktu lalu, media sosial sempat geger karena wacana terapi konversi. Seperti biasa, geger kali ini melahirkan dua kubu. Kubu yang satu mendukung terapi yang konon demi kebaikan moral. Kubu sebelah menolak dengan berbagai alasan seputar hak asasi dan kemanusiaan.

Jika Anda bingung, mari kita samakan frekuensi dulu. Terapi konversi adalah sepaket model terapi yang bertujuan untuk mengubah orientasi seksual seseorang yang non-hetero. Nah, dalam terapi konversi dilakukan berbagai “terapi” yang cenderung melanggar hak. Pernikahan paksa sampai hubungan seksual paksa dilakukan dengan harapan peserta terapi memahami “nikmat” dari hubungan heteroseksual.

Memang, perkara terapi konversi ini diselimuti konspirasi. Muncul hampir bersamaan dengan perkara ajakan nikah muda. Kemunculannya juga dari sumber yang tidak jelas. Tapi, saya akan mengalihkan perkara kebenaran terapi ini di Indonesia. Saya akan mengajak Anda berfokus pada realitas di negeri yang katanya memegang teguh adat ketimuran ini.

Terapi konversi ini mengingatkan saya pada sebuah acara TV. Acara yang dulu dikenal jenaka ini adalah bukti awal sebuah pemaksaan dan penolakan pada orientasi seksual seseorang dilakukan secara terbuka. Acara TV tersebut adalah Be A Man di tahun 2000-an.

Be A Man adalah reality show yang berfokus pada proses “pengembalian” transgender menjadi pria. Para transgender peserta acara ini akan digembleng oleh mentor yang berasal dari tentara. Berbagai pendidikan yang terlihat sangar dan pria banget (baca: kejam dan melanggar hak) dibalut drama ala reality show.

Saya pikir, terapi konversi adalah upgrade dari Be A Man. Dan keduanya adalah bukti keras bahwa transgender tidak pernah terlindungi di Indonesia. Dari tataran lingkungan masyarakat sampai level negara, transgender adalah kasta terendah.

TERKAIT:  Bodo Amat Pendidikan Tinggi Fokus Memenuhi Kebutuhan Industri. Tapi Kudu Gini Sistemnya!

Mengapa saya berfokus pada transgender? Bukankah golongan gay dan lesbian juga punya posisi yang mirip? Perlu Anda pahami, gay dan lesbian punya nasib lebih beruntung daripada transgender. Keduanya cukup beruntung karena lebih mampu berbaur dengan masyarakat umum. Tidak ada ciri mencolok yang membuat mereka mudah diidentifikasi yang berakibat persekusi.

Transgender sangat mudah diidentifikasikan melalui busana. Mata telanjang masyarakat akan mudah mengenali, dan pada akhirnya, mudah memperlakukan transgender di luar batas moral yang katanya mereka lindungi. Tentu dengan semangat nilai-nilai imaji di mana persekusi terhadap transgender adalah perbuatan yang pantas.

Saya pernah dengar kabar dari seorang kawan, banyak transgender menjadi korban penembakan yang dilakukan warga sekitar. Menggunakan senapa angin, para transgender yang mengamen ditembaki demi “efek jera”. Kawan yang juga seorang transgender ini sering terlibat evakuasi korban serta melindungi korban di “rumah aman”

Persekusi pada transgender ini terjadi secara organik. Kurangnya pendidikan seksual serta hak asasi kepada masyarakat adalah biang keroknya. Negara yang tidak menyediakan ruang hidup bagi transgender menambah keruwetan. Kemarahan masyarakat yang perlu penyaluran menjadi alasan suci. Dan akhirnya kesemua itu berpadu dalam pusaran kekacauan.

Saya akan menjauhkan diri dari perdebatan benar-salah. Alasan saya sederhana: moralitas adalah dinding pertama yang menepis upaya membela transgender. Sekuat apa pun usaha dalam mengedukasi perkara seksual dan kecenderungannya, semua akan ditepis dengan mudah oleh moralitas.

Jangankan urusan transgender, menangani pelecehan seksual saja Indonesia masih sangat tidak mumpuni dan cenderung memalukan. Semua ditentukan seberapa viral sebuah kasus, dan seberapa keras advokasi akar rumput. Itu pun masih dibalut kacamata moral perihal alasan pelecehan yang memberatkan korban. Situasi bajingan ini tetap dalam koridor moral yang menempatkan transgender sebagai kasta terendah.

TERKAIT:  Dari DI/TII Sampai West Papua: Memahami Mental Pemberontakan

Hampir tidak ada formula untuk menempatkan transgender dan segenap LGBT-Q sebagai manusia di Indonesia. Kebencian yang struktural dan kultural ini dilegalkan oleh masyarakat yang perlu sasaran. Dan sasaran terbaik adalah kelompok misfits yang tidak punya payung hukum tersendiri.

Membenci transgender dipandang hal normal dan mulia. Menertawakan mereka menjadi hiburan yang pantas. Menembaki mereka menjadi perang suci menjaga moral. Dan segala upaya melindungi mereka adalah cacat nalar dan sosial. Sempurna sekali masyarakat dalam membenci transgender.

Segala pencapaian dari seorang transgender tidak dihargai. Peran mereka dalam masyarakat dilupakan, sedangkan usaha menyambung hidup dengan mengamen dianggap meresahkan. Padahal, tidak banyak pekerjaan yang berkenan merekrut mereka.

Masyarakat selalu melabel sesuatu yang tidak mereka pahami. Mengelompokkan segala sesuatu sesuai label, lalu memaksakan ke dalam kotak-kotak sosial. Sayang sekali, kotak bagi transgender dan social misfits selalu berakhir sebagaimana tempat sampah.

Garuda tidak hadir dalam hidup seorang transgender. Mereka tidak dilindungi oleh tatanan yang katanya mulia. Lalu, ke mana mereka berlindung? Di mana mereka bisa hidup dengan tenang?

Den Baguse Prab

Orang yang setia untuk mempertanyakan segala hal. Membenci banyak hal dan orang dalam kebencian yang setara dan egaliter.

View all posts by Den Baguse Prab →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *