Yang Paling Dirugikan dari Polemik Nissa Sabyan Adalah Rocky Gerung

susahtidur.net – ilustrasi Rocky Gerung

susahtidur.net – Pak Presiden lagi ngehits-ngehitsnya beberapa waktu ini. Saat meminta kritik keras dari masyarakat, blio sadar bakal banyak yang nyinyirin. Ya gimana nggak dinyinyirin, wong disuruh ngritik, eh tapi ada ancaman UU ITE. Makanya, demi berlindung dari hantaman suara sumbang, blio berdoa agar ada kasus lain yang menghebohkan publik. Semesta merestui, dan hadirlah polemik Nissa Sabyan.

Kasus Nissa Sabyan meledak. Sosok yang tampak religius dan gemar menyanyikan lagu-lagu islami itu dituding jadi penyebab retaknya rumah tangga Ayus Sabyan. Dedek-dedek satu ini dituding menjadi pelakor dan menuai banyak hujatan dari masyarakat. Whelah, tentu saja kasus ini meledak. Semua kasus dengan keyword (matamu keyword) ‘pelakor’ selalu menarik untuk dibahas tuntas sampai kandas. Selain pelakor, keyword lainnya adalah ‘agama’. Makanya saat ada kasus yang menyertakan dua keyword itu menjadi satu, ya jelas geger ke mana-mana kasusnya.

Saya nggak mau terlalu ngurus Nissa Sabyan dan Ayus itu sama-sama suka apa enggak. Saya nggak mau ikut menghujat Nissa Sabyan, pun nggak mau sok-sokan membela dia. Saya cuma kasihan. Kasihan sama siapa? Sama Rocky Gerung. Di antara semua orang yang paling bahagia kalo Pak Presiden jadi pembicaraan, Bung Rocky pasti adalah yang paling bahagia dan bakal kecipratan sorotan media juga.

Kemaren Pak Presiden bilang mau merevisi UU ITE karena banyak masyarakat yang komplen takut mengkritik karena bisa ditangkap Pak Pulisi, tetapi Bung Rocky justru mengatakan yang perlu direvisi adalah pola pikir Pak Presiden.  Welah, lucu tenan orang satu ini. Bagi Bung Rocky, selama Pak Presiden nggak ngerti konsep Demokrasi itu kayak apa, mau kayak gimana pun UU ITE atau UU lain direvisi, bakal tetap ada yang salah sama pemerintahan.

TERKAIT:  Misuh Berjamaah Nonton Drakor A World of Married Couple

Pas kasus ini geger, Bung Rocky pasti langsung dikontak sama media-media buat berpendapat bahkan dipanggil stasiun Tipi buat hadir di acara dan ngomyang. Sayangnya kasus ini langsung hilang ditelan bumi. Bung Rocky yang sudah menyiapkan kata-kata lucu buat mengkritisi Pak Jokowi, langsung ngambek karena nggak ada lagi media yang ngangkat isu UU ITE ini. Mau nggak mau, blio pasti mangkel sama kasus Nissa Sabyan.

Ya gimana nggak mangkel, wong ada urusan geger gedhen di negara, media malah sibuk nyari isi chat mesra Nissa Sabyan, tanya orang-orang terdekat tentang kedekatan Nissa Sabyan sama Ayus Sabyan, bahkan ngeblow-up sampai ke komentar Pak RT.

Cangkemannya Bung Rocky belum pernah berhasil dibungkam pihak mana pun, eh mendadak suaranya mlempem saat ada kasus pelakor dari sosok yang konon islami. Ini kan sungguh mengenaskan bagi Bung Rocky.

Lagian nih ya, saya rasa nggak cuma kali ini aja Bung Rocky mangkel sama kelakuan media di Endonesyah. Kemaren pas ada pembubaran FPI, eh media masih ramai membincangkan kasus Gisel. Kan auto ketutup kasus FPI-nya. Tau sendiri lah gimana media di Indonesia. Ada kasus dikit, para jurnalisnya bisa mobat-mabit mencari bahan berita sampai ke level komentar Pak RT, istri Pak RT, bahkan kucing-kucing di komplek Pak RT.

Menilik lebih jauh ke belakang lagi, Jokowi juga pernah diselamatkan kasus artis. Pada tahun 2015, di mana Pak Jokowi sedang disayang-sayangnya sama masyarakat, mendadak blio memutuskan buat naikin harga BBM. Alasannya sangat heroik, karena kenaikan harga itu akan digunakan untuk alokasi pembangunan infrastruktur di daerah terpencil seperti sekolah, meski pada kenyataannya sekolah di banyak daerah masih saja tidak keurus.

TERKAIT:  Bodo Amat Pendidikan Tinggi Fokus Memenuhi Kebutuhan Industri. Tapi Kudu Gini Sistemnya!

Namun sekalipun masih menjadi Presiden kesayangan rakyat, kenaikan harga BBM tetaplah petaka. Protes muncul dari sana sini, pun media memberitakan kenaikan BBM dengan sangat gencar. Lucunya, di hari kenaikan harga, tepat pada tanggal 28 Maret 2015, justru media mendadak bungkam dan memilih meliput berita lain terkait artis.

Pak Jokowi terselamatkan dari amukan massa karena media baik itu televisi, media digital, media cetak, dan segenap media lainnya, memilih topik yang lebih geger yaitu kematian Olga Syahputra. Iya, kematian Olga menjadi santapan hampir semua media pada saat itu sehingga Pak Jokowi pasti prengas-prenges karena tidak ada protes masif pada hari itu.

Apabila Bung Rocky melihat fenomena ini, mempelajarinya baik-baik, lantas membaca tulisan Prabu tentang Influencerocracy, blio pasti manggut-manggut dan langsung bersuara di depan publik. Blio yang biasa mengomentari politik, akhirnya memutuskan buat ngomentari gosip artis juga. Ya gimana nggak ikut komentar, wong gara-gara kasus artis, suara kritis terhadap keputusan Presiden malah tidak terdengar.

“Pemerintahan Jokowi selalu manfaatin artis!” pasti begitu yang dia ucapkan pertama kali. “Karena Jokowi nggak mudeng demokrasi yang sesungguhnya, maka dia memainkan apa yang itu disebut influencerocracy. Segala-galanya memanfaatkan influencer. Segala-galanya memanfaatkan artis. Mempromosikan omnibuslaw pake artis. Memvaksin masyarakat, diwakilkan ke artis. Bahkan berlindung dari kritikan masyarakat, juga dari kasus artis.” Barulah dia ngomentari perihal Nissa Sabyan. “Ini kasus Nissa Sabyan, pasti sudah disetting biar meledak. Biar apa? Biar menutupi isu revisi UU ITE. Biar nutupi Hukuman Mati Koruptor. Biar nutupi Jakarta Banjir. Ini bukan cocokologi, tidak mungkin semuanya kebetulan. Melihat betapa rezim Jokowi selalu berurusan sama artis, gampang sekali menyimpulkan bahwa kasus Nissa Sabyan pelakor ini juga bagian dari rencana Jokowi.”

Larka

Bercita-cita punya rambut gondrong

View all posts by Larka →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *