Valentine dan Kelindan Agama di Sekitar Kita

susahtidur.net – Valentine dan Agama

susahtidur.net – Sampai usiaku 22, bahkan aku tak paham bagaimana mengucapkan “Syukur” dengan khusyuk. Mama sering bilang, “Alhamdulillah” namun Papa sering berujar, “Puji Tuhan”. Jadi, bagaimana? Aku kadang tersenyum, bahkan aku dilahirkan dengan pertentangan yang riuh dan rendah. Perbedaan yang tentunya amat bajingan di sebuah negara yang tak kalah bajingan-nya.

Sampai pada akhirnya kamu datang. Hadirmu menyadarkan diriku bahwa “syukur” itu bukan hanya sebuah ucapan. Bukan pula sebuah tindakan. “Syukur” adalah dirimu. Bermanifestasi dengan begitu indah dan serba menyenangkan. Hadirnya dirimu, bahkan aku meragukan bahwa manusia tercipta dari tanah. Semisal iya kamu terbuat dari tanah, tanah apa yang bisa membentuk sebuah kedirian yang begitu menyenangkan, cantik, dan indah?

Akibat hadirnya dirimu, “Syukur” bahkan bisa berbentuk sebuah lagu. Best of Me dari SUM 41, misalnya. Bagaimana bisa aku bersyukur dalam hentakkan drum yang menggebu, vokal yang serak, dan distorsi gitar yang memekakkan telinga? Ya, nyatanya aku bisa. Nyatanya ini menjadi nyata, kan?

“Syukur” ini tak kudu aku upayakan dengan menyebut kata-kata Arabik. Atau bahkan tak kudu aku upayakan dengan menyebut entitas Yang Transenden. Hadirnya dirimu, adalah jalan pintas diriku untuk menjadi religius tanpa kudu menyerupai suatu kaum. Arti lainnya, mencintaimu dirimu adalah bentuk lain dari sebuah pembebasan.

Kita telah lama diperkosa oleh negara dengan segala aturannya yang menghimpit kita. Bahkan, teritori paling sentimen seperti cinta, diurus oleh negara yang katanya berbeda-beda tetap satu jiwa, nyatanya ya komunal juga. Sayang, jika negara punya sel sperma dan aku punya sel induk, entah berapa kali aku hamil karenanya.

Aku memang tak bisa terbang, sayang, namun aku bisa merasakan bagaimana — umpamanya — aku terbuat dari kapas yang tak lantas terhempas! Aku bisa melayang, selama yang aku inginkan. Di atas sana, kala terbang menjadi kapas, aku janji akan bersyukur. Aku bersyukur karena di atas sana, Tuhan tak nampak juga.

TERKAIT:  Agama dalam Hierarki Sosial

Aku tak ada masalah dengan pengucapan “Alhamdulillah” maupun “Puji Tuhan”, sayang. Dalam keluargaku, itu nyata dan selalu ada. Namun dirimu yang merangsek masuk ke dalam teritori pertahananku yang paling dalam, mengupayakan bahwa “syukur” itu tak kudu rumit, ruwet, ribet, dan kata-kata njelehi lainnya.

“Syukur” adalah dirimu. Dengan mencintai dirimu, merupakan pemanjatan “syukur” yang paling adiluhung. Tak pernah aku bayangkan, menunaikan “Syukur” bisa semenyenangkan ini.

Kau percaya para dewa yang menghuni muka bumi ini? Kau percaya bahwa makam Santiago—si murid Yesus—menjadi tempat pergi Maria sang Perawan Kudus pasca kematian Yesus? Kau percaya bahwa jasad manusia setelah mati dibawa ke Samsara alih-alih Nirvana dalam rangka penjemputan dharma? Bahkan aku tak kudu mempelajari itu kala aku mencintaimu. Aku merasa menjadi manusia, anak kandung sejarah umat manusia dengan kelindan agama-agama di dalamnya.

Kodeks Calixtinus yang menganut keadaan alam, mata air, rumah sakit, tempat berteduh, dan kota-kota sepanjang jalan menuju Santiago—menjadi amat sepele kala aku memandang matamu. Asal kau tahu, matamu itu, merupakan perjalanan spirituil paling Kudus yang pernah aku lalui.

Perjalananku menuju Minggiran, Pleret, atau bahkan—kelak—Magelang, merupakan sebuah tasbih yang terus berputar dengan lantunan puja-puji kepada Allah yang tak pernah terputus. Biji tasbih yang dilalui jemarimu itu, bak perjalanan menuju makam Santo Petrus di Roma.

Kembali lagi membahas “syukur”, ya? Begini, bahwa aku tak pernah sekalipun berlebihan perihal melihat dirimu secara utuh. Kamu adalah manusia, aku pun serupa, kita dipertemukan oleh Yang Transenden walau entah dalam kitab yang mana.

Kau tahu, kita adalah perjalanan sebuah buku yang terus dibaca dan dibuka. Kita bukan sepasang kekasih yang kisahnya diketik oleh seorang sastrawan pecinta senja. Kita adalah sebuah buku usang, dibuka halamannya terus menerus, dan tak pernah menjemukan.

TERKAIT:  Wahdat al-Adyan: al-Hallaj dan Narasi Anti Solipsistisme

Singkat kata, kita adalah sebuah keabadian walau membosankan juga menggunakan term “abadi”. Apa-apa kok ya selalu “abadi”. Kau percaya keabadian? Kau harus percaya walau membosankan. Setidaknya kala kau ada di sampingku, apalagi yang tidak abadi?

Bahkan jam pun menunduk malu. Dante dan Orpheus yang sedang on the way menuju neraka pun sempat-sempatnya melihat kita. Menyenangkan bukan kala aku merasakan manipulasi sebuah keabadian? Aku seakan bisa menemukan satuan terkecil dari dalam waktu. Aku menembus ruang-ruang itu dan mendapati paradoks yang sama; bahwa aku mencintaimu.

Tapi ya itu dia. Itu yang aku rasa kala bersama dirimu. Apapun medan terjalnya. Apapun kondisi gawatnya. Segawat-gawatnya kondisi gawat, hal gawat apa yang bertentangan dari kita selain perbedaan agama? Ah, itu belum hal yang paling gawat, sayang.

Bahkan aku lebih takut berbeda pandangan hidup ketimbang pandangan Kiblat. Karena kita di bumi ini menjalani hidup, tak melulu menjalankan ritus secepat kilat.

Kitabmu adalah karya sastra yang paling aku suka. Kitabku adalah kumpulan dongeng yang paling aku nikmati. Walau tak sebagus Taras Bulba-nya Nikolai Gogol, sih. Oh iya, aku tergila-gila kepada Sastra Rusia belakangan ini. Aku suka membaca Fyodor Dostoyevsky walau tak pernah aku sesumbar telah “khatam”.

Sayang, kala membaca tulisan-tulisan itu, aku merasakan dinginnya hutan di pedalaman Rostov, aroma damar, pakis berwarna-warni, cahaya semovar yang berpendar di derasnya hujan salju di wilayah Tsar. Setidaknya kala bersama denganmu, aku tak kudu menjadi sastrawan hebat itu untuk merasakan kejadian-kejadian itu.

Kau adalah kisahku yang paling tragik. Kau yang membuat diriku menertawakan betapa ribetnya Tolstoy kala bertutur. Bagaimana pun, sayang, jika bersamamu, aku tak kudu menjelma bak angin yang berubah menjadi prosa-prosa dingin khas Aleksandr Kuprin. Aku bahkan rela menjadi hangat. Menjadi lekat. Menjadi apapun yang menurutku aku suka.

TERKAIT:  4 Alasan Mengapa Jadi Alumni Pesantren itu Nggak Enak

Aku bak menjadi kupat, sayang. Iya, benar, kupat. Makanan yang selalu kau santap kala hari rayamu dengan khidmat. Dibukanya janur yang rapat-rapat, oleh jemari yang lamat-lamat. Aku bak menjadi dendam kesumat yang telah tunai dan diselesaikan dengan cara yang hormat.

Aku tahu jika aku menerusakan surat ini, jatuhnya akan semakin berlebihan. Walau aku tahu, kamu pasti sedang tersenyum. Berseri. Sebuah senyum yang menjadi pusat jagad raya kehidupan manusia. Aku berlebihan? Peduli setan! Copernicus dengan heliosentris, mari kita kencingi saja. Ah, jangan, deh, aku tak mau terlihat lebih konyol dari para penganut bumi datar.

Maaf jika tulisan ini melenceng dari apa yang kamu pelajari, baik dalam agamamu maupun kitabmu, namun itulah yang aku lalui dalam rangka upacara akbar menemukan dirimu di hari penuh kasih sayang ini. hari yang tak mungkin kau rayakan dengan metoda saling menukar coklat.

Aku menemukan kedirianmu dalam kondisi paling baik sepanjang masa. Paling sadar bak ekosistem di Kepulauan Galapagos nun jauh di sana. Paling baik untuk melakukan welas asih kepada sesama makhluk di muka bumi.

Bunga bermekaran di dadaku, sayangku. Ada kupu-kupu yang tiba-tiba saja keluar. Ada senyum yang rela untuk terkembang. Ada “syukur” yang terpanjat, pun terucap… Alhamdulillah. Ya, aku mengucap “Alhamdulillah”. Bukan bermaksud menjadi mualaf, namun sekadar agar tulisan ini menjadi halal.

*) 13 Februari 2021, sengaja nggak ditulis saat tanggal 14, biar sangar aja. Tulisan ini tidak lulus uji ITB dan IPB. Tulisan ini tidak punya izin halal dari MUI. Namun tulisan ini ditulis dalam keadaan paling waras, tanpa miras, namun sedikit ngantuk. Tapi sadar untuk Yafi’ Alfita.

Gusti Aditya

Pernah makan belut

View all posts by Gusti Aditya →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *