Taufik dan Dewa-dewa Tomia

susahtidur.net – La Feki

susahtidur.net – Saya kira, saya ini berdaulat atas akal dan pikiran saya sendiri. Pun saya kira, saya adalah sebuah kumpulan partikel yang bergerak secara otonom membentuk sebuah ke-aku-an bernama Gusti Aditya. Nyatanya saya salah kaprah. Saya ini hanyalah kerdil dalam lingkup mikrokosmos di hadapan makrokosmos dan imaji-imaji adiluhung dari pemikiran sebuah entitas bernama Taufik.

Saya kira, saya ini adalah tokoh utama dalam kehidupan saya sendiri. Ternyata, saya hanyalah tokoh sampingan yang digerakan oleh penokohan orang ketiga serba tahu, bernama Taufik atau La Feki. Pikiran bajingan cum asu ini muncul setelah saya bertemu dengan dirinya dalam sebuah perjamuan kudus bersama Terminal Mojok Jogja. Melalui sebuah pilar-pilar sunyi bernama kedai kopi, mimbar-mimbar besar di meja bar, Taufik melambungkan ayat-ayat kebanggaannya: Cerita-cerita dari Tomia.

“Kopi itu adalah tubuhku, sedang imaji ini adalah darahku,” begitu ujarnya di sebuah malam yang jontai sampai-sampai menyentuh ulu hati. Melalui metode dialektika paling kolot nan ortodoks, Taufik terus berceramah tentang masa-masa indahnya di sebuah surga bernama Tomia. Sebuah utopia yang dicari oleh orang Eropa, sebuah Neverland yang digandrungi oleh anak-anak.

Dongeng? Ya, Taufik adalah definisi lain dari dongeng itu sendiri. Gulali yang dijual oleh toko? Bahkan cerita-certa yang dipintal oleh Taufik lebih manis daripada gulali itu sendiri. Apalagi? Jangan bilang “senyum” karena Taufik adalah terminologi paling khusyuk dari sebuah term bernama senyum.

Di sebuah meja besar, saya dan pria bernama Taufik ini saling berhadapan. Berbeda dengan Prabu dan Riyanto yang saling bersandingan, saya dan Taufik saling melihat satu sama lain. Entah apa yang ada di pikirannya, yang jelas ia selalu berpikir positif tentang saya. Berani bertaruh tentang hal ini? Bahkan saya berani bertaruh sepetak tanah warisan keluarga di Imogiri sana karena saya terlampau percaya dengan pria bertubuh mungil ini.

TERKAIT:  Mager Adalah Kondisi Menghemat Energi Manusia dan Memang Sangat Diperlukan

Benar, arti lain, Taufik tak sekalipun membuat saya kecewa. Walau kala pertama berjumpa dan mendengar cerita demi ceritanya, pria ini sungguh kepalang aneh. Ia selalu berbagi senyum, ia memberikan tawa bahagia bahkan saat pertama kami berjumpa. Ia menyelamatkan beberapa guyonan saya yang tak disambut oleh tawa seorang Prabu dan Riyanto yang bajingan.

Tahu hal apa yang pertama kali ia ceritakan untuk Terminal Mojok Jogja? Demit! Demi bulu ketiak Pevita Pearce, seliterasi apa sih perkumpulan ini? Benar sekali, ia bercerita pernah diajak ngobrol oleh seorang supir taksi yang memberitahu dirinya, bahwa ada alam ghoib di dimensi dunia yang sudah hampir hancur ini. Sebuah issekai, mungkin. Malam itu, kami bersetubuh dengan logika mistika yang sungguh tak masuk dalam silogisme manapun itu.

Dewi Lanjar pun ia seret-seret dalam perkumpulan di balairung-balairung tinggi kedai kopi. Sialnya, saya terbawa oleh dialektika itu. Bagai pusaran ombak, saya terbawa ke tengahnya. “Mata uangnya apa, Mas?” itulah yang saya tanyai untuknya. Bak gayung bersambut, logika ortodoksnya menjawab dengan arif dan bijasana. La Feki menjawab apa? Entahlah. Itulah entitas, kadang suaranya tak pernah terdengar, perintahnya selalu menjadi pelaksanaan.

Malam itu sungguh menyesakkan dada. La Feki, atau di susahtidur menggunakan nama alias Efalki, melambungkan umpan, kami semua menangkapnya dengan renyah. Taufik menari-nari dengan setan, berdansa dengan malaikat, dengan apapun yang ia mau, pasti bisa. Hari itu, Taufik memakan kami semua dengan dialektikanya. Yang saya kenal, ia adalah seorang monster asal Tomia. Seorang monster yang bisa melibas siapa saja melalui tulisan-tulisannya.

Entah sejak kapan, kami jadi akrab. Entah bertukar pesan dengan membicarakan hal random, berbagi ide menulis, bahkan membicarakan novel yang kami suka. Ketimbang Yafi’ Alfita, kekasih hati saya, Taufik sudah masuk terlampau jauh lebih dalam dari teritori hati dan pikiran saya. Pun bahkan lebih dahulu ketimbang Yafi’ Alfita. Bukan begitu faktanya, Dik?

TERKAIT:  Petuah Ajaib Buat yang Ingin Merantau ke Jogja

Dari bertukar pesan, ketika hendak mengadakan konsolidasi gelak tawa pun saya selalu mengajukan keinginan kehormatan untuk menjemputnya. Jarak bukan masalah, menjemput Taufik adalah sebuah kehormatan luar biasa. Ngalang? Ah, apa itu ngalang, bahkan semisal Taufik tinggal di Kulon Progo pun saya siap mengantarnya. Eh, tapi jangan pindah ke sana, ya, Mas. Kejauhan.

Jogja kami belah dengan kecepatan motor matik yang saya pacu secara berkala. Taufik terus bertuah di atas motor, suaranya bertautan dengan angin yang pating sembribit berhembus dari Utara menuju Selatan. Taufik mendongeng, saya memperhatikan. Sayup-sayup terdengar tembang, “Trying to find a way, getting better every day. And I got you now, I’m not alone…” dengan petikan gitar yang dimainkan oleh Deryck Whibley di pinggir perempatan Concat.

Saya telah melihat berbagai wajah di dunia. Si baik dan si (mendaku) baik. Si jahat dan si (mendaku) jahat. Semua lengkap. Baik di Jogja atau antah berantah sekalipun. Pun dengan konsep dosa yang dijanjikan oleh orang-orang alim yang berlalu-lalang bak seekor kera merampas jajanan orang lain. Taufik berkelindan di tengah tumpang tindih sebuah konsep tersebut. Taufik bukan messiah, Taufik juga bukan orang yang dituhankan. Mari bersepakat tentang ini sekali saja.

Taufik dan Tuhan adalah kawan. Mereka menenggak sopi di pagi buta yang amat dingin, di pinggiran pantai yang penuh ombak, di sebuah tempat bernama prototype-surga. Surga menjadi sempurna dalam kitab-kitab yang Anda sekalian percayai, itu adalah hasil buah pikir dari seorang Taufik. Taufik adalah alam semesta, sedang Tuhan adalah motor penggeraknya. Kitab-kitab adalah apa yang Tuhan dan Taufik canangkan atas nama sesloki sopi.

Tomia ada ketika Taufik tertawa, ludahnya menghadirkan ombak, gadhulnya adalah nyiur yang saling bersahutan dengan angin laut yang memabukkan para pelancong. Sedang buah senyum di bibirnya adalah permai utuh dari sebuah gugusan pulau Wakatobi. Terumbu karang adalah konsep yang ada di kepalanya, ikan-ikan yang berpusing di lautan lepas ya itu dia buah pikirannya.

TERKAIT:  Menebak Karakter Orang dari Caranya Pake Jam Tangan

Saya kira, alam semesta ini adalah hasil ciptaan mahasiswa semester akhir yang tengah mengerjakan sebuah penelitian bernama, “Uji Coba Kehidupan Mini Bernama Bumi”. Tuhan yang kalian sembah, saya kira adalah mahasiswa tua yang tak kunjung lulus itu. Ujung alam semesta adalah aquarium milik si mahasiswa tua itu. Ketika ada ujicobanya yang gagal, itu dia bernama kiamat. Awalnya saya kira seperti itu, sebelum saya mengenal Taufik.

Ah, sial, badan saya mulai memudar. Saya adalah fiksi paling adiluhung hasil buah karya pemikiran Taufik. Jam berapa sekarang? Lima pagi, ya? Pantas saja badan saya meremang, mulai menghilang. Si entitas yang menciptakan saya akan bangun bentar lagi, mengambil air wudhu, ngobrol dengan kawan lamanya.

Gusti Aditya

Pernah makan belut

View all posts by Gusti Aditya →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *