Semesta-semesta Prabu Yudianto

susahtidur.net – Prabu Yudianto

Di Susahtidur Media, saya dan Prabu Yudianto ditugaskan untuk menulis ranah-ranah yang berbahaya macam rasisme hingga agama. Saya curiga, tabiat dasar Riyanto memberikan mandat itu untuk mewujudkan cita-cita kami berdua: dipenjara bersama.

***

susahtidur.net – Dua tahun kepungkur saya merasakan patah hati yang paling gawat. Dua tahun sudah saya menarik diri dari peredaran manusia di bumi. Kuliah saya hancur, tubuh saya membengkak, air jahat saya tenggak, pun pertemuan dengan gadis-gadis via virtual hanya menenangkan sesaat. Saya berhenti menulis entah berapa tahun, kebas luar biasa tak tertahan.

Hati saya hancur berkeping-keping dan berserakan ke mana-mana. Setelahnya, saya mencoba kembali normal. Saya berpikir bahwa menulis dapat menyelamatkan hidup saya. Dan tugas saya sekarang mengumpulkan kembali hati yang telah berserakan, merekatkan dengan tulisan yang saya ketik tiap malam.

Berat rasanya kembali menulis setelah bertahun-tahun berhenti. Sempat berpikiran picik, semisal saya tak bertemu gadis itu, mungkin saya sudah menjadi bagian dari Tirto atau Kompas. Namun bumi berbisik lain, bahwa saya harus puas menjadi medioker dalam kehidupan. Satu bulan, saya bisa menulis satu tulisan singkat. Bayangkan saja, tiap hendak menulis, saya menangis.

Bajingan memang, namun mau apa dibilang, patah hati saya ini amat kronis. Menghadirkan ketakutan demi ketakutan yang berkelindan. Pada satu waktu, Mojok membuat sebuah kanal bernama Terminal. Di sana, mungkin tempat yang tepat untuk saya kembali menulis. Menulis apa saja dan kebetulan saat itu saya sedang gandrung kepada sepakbola.

Empat bulan menulis, tulisan saya yang lolos hanya dua. Ya walau saya hanya kirim dua saja dalam rentan waktu itu. Pemecutnya adalah perlahan namun pasti, tubuh saya menjadi ringan kembali.

Bertemu Prabu

Perihal sebuah pertemuan, saya adalah orang yang tak ahli-ahli amat. Bisa dikata, saya adalah orang yang selalu terlambat panas dalam sebuah pergaulan. Saya selalu menimbang, melihat, dan menimang dengan masak, tipe seperti apa orang yang hendak saya ajak berguyon ria. Takutnya guyonan saya tak masuk dalam kategori menyenangkan dalam kumpulan itu, pasti akan berimbas buruk. Tetapi itu tidak penting. Itu hanya sekadar prolog bahwa saya ini orang yang tak punya banyak kawan.

TERKAIT:  Eksistensi Joki Skripsi. Dimusnahkan atau Dilestarikan?

Cik Prima Sulistya, Pemred Mojok waktu itu, adalah orang yang amat berjasa dalam menyelamatkan saya dari keterpurukan itu—walau saya yakin ia tidak merasa dan masa bodoh juga. Lebih tepatnya pertemuan dengan kawan-kawan Terminal Mojok Jogja yang—jujur saja—saat itu saya tak tertarik hadir. Namun Cik Prim yang memprakarsai. Melalui pesan WhatsApp, Cik Prim mengajak saya, pekewuh menolak, tentu saja Imogiri – Jalan Kaliurang bukan halangan berarti.

Di sana saya bertemu para monster. Saya merasa kerdil dengan apa yang saya punya selama ini. Ada Riyanto sebagai Pemred Susahtidur Media, media alternatif yang sedang Anda baca saat ini. Ada Taufik dengan dedongengan dari Tomia. Sebuah negeri yang saya yakin bermukim para bidadari tanpa cela. Ada Kim, senior recruitment yang matanya selalu awas, mencatat ide demi ide yang sedang kami obrolkan malam itu. Pun ada Prabu Yudianto, yang selalu menggebu.

Prabu adalah orang paling cerewet di galaksi Bima Sakti. Jika Andromeda Merkuri mau ikut urun rembug, mungkin Prabu masih masuk dalam kategori itu. Di matanya terpancar kehidupan ala dirinya. Ia begitu mengalir ngobrol dengan Cik Prim, tertawa lepas dengan Riyanto, sedang saya yang berada di tengah-tengah mereka hanya sekadar mengamati.

Benar, Prabu menjadi sorotan malam itu. Lampu-lampu berpijar untuk dirinya. Kami menemukan banyak hal tentang dirinya. Mulai dari mantan anak anarko, lulusan Peternakan UGM, dan—hebatnya—darah biru yang mengucur dalam nadi-nadi dan arteri yang ia pompa sepenjuru tubuhnya. Malam itu, tak ada panggung untuk saya.

Setelah itu pertemuan demi pertemuan antara anak-anak Terminal Mojok Jogja terjadi dan saya menarik diri. Sekitar dua pertemuan berikutnya setelah perjamuan makan malam itu, saya tak hadir.

TERKAIT:  Meski Ngeselin, Berikut Ragam Manfaat Masang Galon

Prabu Menggebu

Susahtidur Media mengadakan podcast, saya ditunjuk untuk mengisi dan Riyanto menjadi pembawa acaranya. Bak sebuah aganda yang bertautan, Prabu dan kawan Terminal Mojok Jogja lainnya memutuskan untuk datang juga. Itu adalah pertemuan kedua kami. Tahu apa yang terjadi? Prabu mengatakan bahwa ia ingin dipenjara (karena tulisannya yang katanya sih berbahaya—atau karena idolanya, JRX, sedang bermasalah), namun dengan syarat saya turut serta menemaninya. Tujuannya apa? Tak lain dan tak bukan—karena otak saya selalu positif—agar ada rekan berdiskusi semalam suntuk bersamanya.

Saya hanya bilang, “Gramsci keluar dari penjara jadi buku, aku pasti jadi aib.” Gelak tawa terjadi di tengah kami. Sejak saat itu saya menganggap bahwa kawan-kawan Terminal Mojok Jogja rasanya tak sestagnan yang saya pikir. Apalagi Prabu yang selalu memberikan gagasan demi gagasan yang bikin saya manthuk-manthuk menyetujui, namun tak jarang juga saya mengatakan, “Ra mashooook!” yah, walau dalam hati tentunya.

Obrolan kami menjadi menyenangkan. Saya bebas menyampaikan bahwa agama itu hanya ketakutan, Pancasila yang sudah tak relevan, hingga babagan cinta yang ia sambut dengan tangan terbuka. Ia melihat saya dengan kasihan karena Surat-surat di Stasiun membuka genderang perang dan menyikap tabir bahwa tulisan-tulisan guyon yang selama ini saya buat hanyalah topeng semata. Siapa yang menyadari? Prabu.

Ia adalah orang yang selalu menggebu dalam menulis, namun pada satu titik ia adalah orang yang paling melankolis. Kami cepat akrab karena apa yang kami perbincangkan kurang lebihnya sama. Menyebalkan memang jika Anda memposisikan diri sebagai orang yang tulisannya dibalas olehnya, tapi patut disadari bahwa ia adalah manusia yang terlahir dengan cara paling metodis.

Ia si penulis kitab. Ayat-ayat kebencian merapalkan doa-doanya di sepenjuru monarki. Matahari terbenam, nyiur melambai-lambai, namun bara apinya tetap menyala. Membakar. Begitu panas. Benar, sunset di tanah monarki.

TERKAIT:  Mari Mengenang Jasa-jasa Bioskop Transtv

***

Di Susahtidur Media, pada akhirnya kami menjadi partner menulis. Saya untuk kolom “Rata Kiri“, sedang Prabu untuk “Ceplas-Ceplos” dan “Opini“. Bisa dikata, kami ditugaskan untuk menulis ranah-ranah yang berbahaya macam rasisme hingga agama. Saya curiga, tabiat dasar Riyanto memberikan mandat itu untuk mewujudkan cita-cita kami berdua: dipenjara bersama. Dengan mengucapkan amit-amit dan menyingkirkan—sementara—pendapat Tan Malaka tentang logika mistika, semoga itu tak pernah terjadi.

Prabu dengan sentimen kepada monarki di kolomnya menjadi amat menyebalkan sekaligus menyenangkan. Ia menjadikan kolomnya sebagai bahan bakar tabiat, sedang saya menjadikan “Rata Kiri” sebagai onani intelektualitas yang jarang menemukan titik kualitas. Meski begitu, saya selalu berbangga hati karena bisa bertemu, berbincang, dan turut berpikir bersama dengan nama-nama elok di generasi saya.

Mau bagaimana pun juga, kebas di hati saya perlahan menjadi hal yang lucu. Pertemuan dengan orang-orang yang menyenangkan, menjadikan saya menyesal dua tahun lamanya hanya mendekam diri di kamar. Mengunci diri dalam pergaulan. Dan menarik selimut sampai muka, lantas menangis entah sampai pukul berapa. Lamat-lamat saya pun bersyukur, walau entah kepada entitas yang mana.

Kali ini saya menulis tentang Prabu yang cenderung defensif dan diplomatis. Semisal saya bertugas menulis untuk Riyanto atau Taufik pun barang tentu saya akan menempuh jalan yang serupa. Tak elok rasanya jika memaki. Akan ada momennya tersendiri.

Tapi begini, mau bagaimana pun, terlampau banyak jasa seorang Prabu untuk menyembuhkan saya yang dua tahun sebelumnya berkelumit dengan perasaan biru. Tanpa melupakan jasa kawan-kawan yang lainnya, ia adalah manusia paling berbahaya di generasinya. Satu hal yang kudu Prabu camkan, saya tak hanya berdiam diri dan menjadi penonton atau malah pemandu sorak kehebatannya.

Tiap asap, akan ada apinya, Prabs. Akan ada apinya.

Gusti Aditya

Pernah makan belut

View all posts by Gusti Aditya →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *