Apakah Kesultanan Yogyakarta Menuju Masa Kadaluarsa 250 Tahun?

susahtidur.net – Ilustrasi tahta

susahtidur.net – Kali ini dengan penuh rasa gundah, saya akan menyeberang dari kebiasaan. Jika Anda membaca beberapa artikel saya sebelumnya, saya selalu mengedepankan fakta dan data. Saya merasa nyaman dan aman untuk mengkaji segala isu dengan senjata data ilmiah. Tentu agar bebas dari tudingan provokatif.

Kali ini, saya akan mengkaji takdir dua tatanan kepemerintahan dari sudut pandang “ramalan”. Dan sebelumnya, ijinkan saya untuk menjilat ludah saya sendiri. Tentu alasan saya bukan untuk membangun opini seturut nilai-nilai nir fana. Semata-mata berbagi sudut pandang alternatif.

“Ramalan” yang saya maksud dikenal sebagai The Fate of Empires. Teori ini dikemukakan oleh Sir John Bagot Glubb. Beliau adalah seorang berkebangsaan Inggris kelahiran 1897. Sir Glubb adalah petugas dalam Royal Engineers Inggris.

Sir Glubb juga pernah bertugas pada Perang Dunia I di Prancis dan Belgia. Pada 1920 beliau menjadi volunteer dalam tugas di Irak. Di sana Sir Glubb melanjutkan karir administratif di bawah pemerintahan Irak. Pada babak ini, Sir Glubb mulai meriset tentang takdir dari berbagai kerajaan dan kekaisaran. Pada masa pensiun, Sir Glubb menerbitkan 17 buku. Salah satunya adalah The Fate of Empires.

The Fate of Empires masih dikaji sampai hari ini. Teori Sir Glubb dalam buku ini dipandang relevan untuk memperkirakan takdir sebuah kerajaan atau sistem pemerintahan, terutama pada pemerintahan yang kuat dan berpengaruh.

Dalam bagian “the lives of empires”, Sir Glubb menunjukkan data dari beberapa kerajaan dan kekaisaran masa lampau. Dari data ini, ditemukan kecenderungan menarik perkara takdir dari kerajaan dan kekaisaran ini. Dari kekaisaran Assyria sampai kerajaan Inggris Raya, rata-rata memiliki “umur” selama 250 tahun atau bertahan selama 10 generasi.

TERKAIT:  Mengajak Perempuan Mabuk Itu Bukan Berarti Mengajak Berhubungan Seksual

Tentu ini mengejutkan banyak pihak. Namun Sir Glubb menunjukkan banyak contoh yang mendukung teorinya. Sebut saja Republik Romawi yang bangkit pada 260 BC dan runtuh pada 27 BC, berumur 233 tahun. Kekaisaran Ottoman bangkit pada tahun 1320 dan runtuh pada 1570, tepat 250 tahun. Banyak lagi contoh yang diajukan Sir Glubb, dan bisa Anda akses serta unduh dengan kata kunci The Fate of Empires.

Mungkin Anda tergelitik pada penyebutan Kerajaan Inggris. Bukankah sampai hari ini, Kerajaan Inggris belum bubar? Sir Glubb menekankan kata “bubar” bukan sebagai runtuhnya pemerintahan. Dalam perhitungan Sir Glubb, Kerajaan Inggris bangkit pada 1700 dan runtuh pada 1950. “Tapi, Kerajaan Inggris sudah ada sebelum tahun tersebut,” mungkin itu yang Anda katakan.

Sir Glubb menunjukkan bahwa dalam rentan tahun tersebut, Kerajaan Inggris ada pada era kolonialisasi. 1970 dipAndang sebagai masa akhir kolonialisme Inggris, dengan ditandai posisi Ratu Elizabeth yang menjadi simbol dalam persemakmuran.

Romawi juga menjadi contoh menarik. Romawi tidak benar-benar bubar, namun mengalami suksesi sistem pemerintahan yang nyata. Berawal dari republik, Romawi berevolusi menjadi sistem kekaisaran. Bahkan istilah “kaisar” berasal dari nama Julius Caecar.

Dari penjabaran ini, kita dapat memahami maksud dari “umur” yang diajukan Sir Glubb. Beliau menemukan kecenderungan bahwa sebuah sistem pemerintahan akan mengalami perubahan besar setelah 250 tahun atau 10 generasi. Perubahan ini dilandasi oleh pergeseran budaya, sosial, dan politik setelah melewati 2,5 abad.

Lalu, bagaimana dengan masa kini. Apakah teori Sir Glubb masih relevan untuk menakar takdir bangsa-bangsa dan pemerintahan di masa modern? Salah satu negara yang sering dibenturkan dengan teori ini adalah Amerika Serikat. Apalagi Amerika Serikat sudah berumur 245 tahun dan mengalami banyak perubahan dibandingkan awal berdirinya.

TERKAIT:  Pentingkah Menyembuhkan Transgender?

Tapi saya lebih tertarik dengan Kesultanan Yogyakarta. Terutama karena banyak isu-isu miring perihal masa depan monarki di dalam republik ini. Jika menilik teori dari Sir Glubb ini, apakah Kesultanan Yogyakarta sudah memasuki kadaluarsa?

Tentu kita tidak bisa meramalkan takdir dari dinasti Mangkubumi ini. Tapi mungkin kita bisa melihat perubahan besar dalam tata adat alias paugeran Kraton Jogja. Sebelumnya, perlu diingat bahwa Kesultanan Yogyakarta berdiri pada 1756. Pada saat ini, usia kesultanan sudah 265 tahun. Tentu melampaui teori 250 Tahun.

Tapi Sir Glubb juga menunjukkan adanya beberapa kerajaan yang berusia lebih dari 250 tahun. Namun, sudah jelas bahwa Kesultanan Yogyakarta telah berdiri selama 10 generasi. Dari Sri Sultan HB I sampai HB X.

Tentu perubahan yang terjadi pada Kasultanan Yogyakarta telah terjadi sebelum 250 tahun. Pada 180 tahun setelah berdiri, Kasultanan Yogyakarta telah bergabung dengan Republik Indonesia. Namun secara adat, tidak ada perubahan signifikan. Perubahan yang terasa lebih bersifat pada perubahan tata pemerintahan. Meskipun secara akar rumput, banyak orang yang masih memegang teguh absolusi dari Kasultanan Yogyakarta.

Namun, 2006 bisa disebut sebagai awal dari ontran-ontran Kasultanan. Diawali dengan gempa bumi dasyat, Kasultanan Yogyakarta mulai mengalami pergeseran tata adat dan paugeran. Tentu saya tidak bermaksud untuk menyebut gempa bumi sebagai tanda klenik. Maaf, saya menolak itu dan ini semua kebetulan!

Tapi, yang pasti adalah bagaimana paugeran mulai berubah. Diawali dengan lahirnya sabdaraja dan sabdatama, banyak unsur-unsur mendasar yang berubah dalam paugeran. Tentu yang paling mencolok adalah perubahan gelar Sri Sultan HB X. Belum pernah terjadi perubahan gelar yang signifikan.

Namun dengan alasan petuah leluhur, HB X memutuskan mengubah gelarnya. Perubahan gelar bukanlah perkara sepele. Gelar menunjukkan kedudukan dan kuasa seorang raja. Salah satu yang disorot adalah perubahan sayiddin panatagama menjadi langgenging panatagama. Dari pemimpin agama menjadi penjaga agama. Terdengar sepele, namun punya dampak signifikan. Kini sultan bukan lagi pemimpin agama masyarakat Jogja, namun “sekadar” penjaga tata agama.

TERKAIT:  Kota yang Kembali Ramai, dan Masalah Lama yang Kembali

Namun tidak ada yang lebih mencolok dari wacana pengangkatan GKR Mangkubumi sebagai putri mahkota Kasultanan Yogyakarta. Munculnya wacana ini tentu melabrak paugeran patriarkis Kasultanan Yogyakarta. Selama ini, pengganti raja adalah laki-laki. Apakah ini menjadi babak baru bagi Kasultanan Yogyakarta?

Saya rasa demikian. Entah dengan konflik atau berjalan mulus, suksesi kekuasaan kali ini akan mengubah wajah Kasultanan Yogyakarta dalam fase baru. Tentu saya enggan meramalkan apa yang terjadi. Meskipun suara penolakan kerabat Kraton bisa menjadi pertimbangan, tapi tidak ada yang bisa diramalkan. 

Yang saya tekankan, perubahan gelar dan wacana sultan perempuan adalah babak baru. Babak baru ini akan menutup babak lama yang “kadaluarsa” dari Kasultanan Yogyakarta. Saya tidak melihat kadaluarsa ini sebagai bubarnya kasultanan. Setidaknya sampai tiba masanya penasaran ini terjawab.

Den Baguse Prab

Orang yang setia untuk mempertanyakan segala hal. Membenci banyak hal dan orang dalam kebencian yang setara dan egaliter.

View all posts by Den Baguse Prab →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *