Kamboja Layu Yogyakarta

susahtidur.net – Monarki di Kamboja

susahtidur.net – Saya ingin menawarkan beberapa opsi cerita berlatar belakang sebuah monarki yang penuh dengan kuda putih, kastil menjulang tinggi, dan puteri-puteri kelas wahidnya, dibungkus dengan hal-hal romantis yang kadang kali hinggap di sana-sini. Yah, sebut saja saya akan menghadirkan dedongengan ala Disney ke dalam Kolom Rata Kiri edisi kali ini. Begini,

“Alkisah di sebuah negeri yang—katanya—makmur, di suatu hari penuh dengan cahaya, seorang pangeran sedang mandi di sebuah hutan. Ditemani oleh koleganya dari berbagai negara, membangun sebuah istana kecil di tengah hutan, mereka menghabiskan hari dengan menenggak suka cita. Tanpa disadari, di dalam hutan pula para pemberontak tengah menyiapkan aksinya untuk kudeta.”

Atau contoh lainnya begini,

“Di suatu hari di sebuah tempat kolosal yang—kata buzzer-nya—sungguh romantis, hidup seorang pangeran. Sebuah tempat yang bergesekan luhur dengan adat, pangeran tampan nan berani itu selalu menggunakan elo dan gue khas sebuah tempat di Barat sana. Kala masyarakatnya beradu dengan kemiskinan, sang pangeran justru umuk kemapanan. Sungguh bak negeri dongeng, bukan?”

Terdengar bak sebuah dongeng yang sepertinya acap kali kita dengar, kan? Sayangnya dua kisah ini adalah nyata adanya. Sebuah babak di mana monarki selalu berkelumit dengan jerat takdir yang sama, yakni onani utopia atau sebuah keadaan baik dan benar, meski konsep ini mereka yang bangun sendiri. Konsep utopi bagi dirinya, tanpa melihat bagaimana keadaan sekitarnya. Merasa menjadi pemilik sah suatu tempat, akan membunuh rakyatnya lamat-lamat.

Saya sedang bercerita mengenai Kamboja. Namun bisa saja menyenggol tanah penuh penerimaan bernama Yogyakarta. Dari sini, saya nyatakan Rata Kiri edisi ini akan seperti lullaby alih-alih mengajukan teori seperti biasanya. Dengan penuh kecup dan kasih sayang kepada penguasa, dongeng saya mulai.

Kamboja adalah sebuah negara yang pernah mengalami pemerkosaan demi pemerkosaan rezim  secara bergiliran. Artinya, sebuah rezim pernah memperkosa sekaligus diperkosa. Bagaimana Norodom Sihanouk, Lon Nol, Pol Pot, Hun Sen, Norodom Ranariddh, bergiliran mendapatkan tampuk kekuasaan dan problematik di dalamnya. Paranoia tercipta kala gegar otak kekuasaan menjadi patokan di sebuah negara yang katanya orang Prancis, penuh dengan senyuman, namun menyimpan neraka di dalamnya.

TERKAIT:  Mempertuhankan Demokrasi

Banyak kisah tentang raja paling baik di negeri Kamboja, Norodom Sihanouk. Seorang raja yang pernah dianggap Sukarno sebagai saudaranya. Pengagum berat Sukarno baik secara persona maupun pemikiran mengenai Nasakom. Dikutip dari buku Boediardjo, Siapa Sudi Saya Dongengi, “Gaya Sihanouk memerintah mirip raja-raja Jawa di masa lalu. Penduduk harus berjongkok di hadapannya. Sering melakukan kirab, raja naik mobil, melempar-lemparkan bingkisan, biasanya potongan kain untuk rakyatnya.”

Dari sisi baiknya ini, justru menghasilkan borok berupa luka yang dibiarkan begitu saja. Kudeta dari “orang terpercaya” adalah berikutnya yang ia terima dan minggat dari tampuk kekuasaan.

Jika semua diringkas dan dijadikan naskah drama, maka kita akan tersenyum di balik balairung-balairung sunyi kala mendengar sang narator bercakap-cakap mengenai Sihanouk. Kenyataannya sungguh berlainan. Bak penokohan Tsar dalam “Vera; or, The Nihilists“-nya Oscar Wilde, peralihan monarki ini dilalui dengan cara yang buruk dan berpengaruh pada konsep politik setelah itu.

Lon Nol mengambil peran dalam babak selanjutnya. Ia adalah aktor utama dalam pelengseran Norodom Sihanouk oleh kudeta militer Lon Nol yang tentu saja dibeking oleh Amerika. Monarki menjadi republik, pengusiran komunis Vietnam menjadi babak baru yang tak kalah seru. Pseudo-section atas komunis Vietnam ini menjadi bara tersendiri. Hal ini disebabkan jalur pasok Vietnam Utara, Viet Cong, terganggu dan mereka melancarkan serangan kepada sisi Utara Kamboja, beberapa kilometer saja dari Phnom Penh.

Wilayah yang berhasil digulingkan oleh Vietnam Utara ini diserahkan kepada komunis Kamboja bernama Khmer Merah. Republik memerintahkan untuk membumihanguskan Khmer Merah, meski yang ada justru mempercepat terjadinya perang saudara dan neraka yang direncanakan. Khmer Merah dibangun secara perlahan dan didukung oleh Viet Cong dan Pathet Laos. Dengan bekal ini, perang sipil antara komunis kontra republik – Amerika pun terjadi.

Walau Amerika turut melakukan pengeboman besar-besaran sejak 17 Januari 1968. Pada 17 April 1975 komunis mengambil alih Phnom Penh dibarengi dengan Amerika yang mulai mengendurkan serangan. Lon Nol menjadi abu, digantikan oleh Pol Pot sang garda kekuasaan rezim komunis-maois. Ia selaku Perdana Menteri cum Ketua Politbiro dan Komite Sentral CPK mengubah nama negara menjadi Kampuchea.

TERKAIT:  Kelindan Rasisme Sepakbola

Pada masa ini, kekejaman biadab terjadi. Khmer Merah mengubah negara ini menjadi tertutup dari dunia luar. Rekayasa sosial menjadi negara yang perpangkutangan kepada agraris secara total. Rakyat di kota diasingkan ke desa, semua pendidik dan terdidik, oposisi, serta intelek dibunuh secara keji di sebuah ladang genosida bernama Killing Fields.

Dari masa ke masa, dari peralihan ke peralihan, negeri lain memandang bahwa Kamboja bak negeri dongeng. Di sana tumbuh peri-peri, kurcaci yang memainkan harpa, dan malaikat sudi mandi tanpa khawatir selendangnya diambil oleh remaja iseng. Susu mengalir di sungai-sungainya. Coklat tinggal memetik di pangkalnya, senyuman rakyat menjadi tajuk utama. Pemberitaan internasional kadang terkecoh pada senyum orang-orang Kamboja yang sejatinya berkelit dengan luka.

Saya tak punya waktu bercerita mengenai bagaimana cara rezim ini membunuh satu generasi emas dalam sepakbola Kamboja, seorang bayi yang dibanting dan ibunya dibunuh secara keji, atau hal-hal pilu nan mengiris perasaan lainnya. Yang jelas, dalam kondisi seperti ini, bagaimana bisa rezim menyatakan bahwa (saat itu) mereka baik-baik saja. Ya seperti itu yang dikatakan oleh Marx dan Mao, sejarah adalah perjuangan kelas. Walau—saya pribadi tidak tahu—entah perjuangan apa yang diimplementasikan oleh Khmer Merah.

Haing S. Ngor dalam bukunya berjudul Surviving the Killing Fields merangkum dan bertutur kala Kamboja melewati masa perang sipil hingga Khmer Merah menancapkan luka-lukanya lebih dalam di Kamboja.

Ada hal menarik, seakan meringkas bagaimana Kamboja benar-benar menyimpan luka. Face is the mask of status and dignity that Asians show to the others, who are all wearing masks of theirs own. Sehingga penerapan dalam negeri Kamboja saat peralihan demi peralihan kekuasaan itu bak; I respect your face, you respect mine, and we keep our real feeling about each other hidden (1988:46).

Hun Sen menjadi topeng anyar bagi Kamboja. Ia datang dari kubu Khmer Merah, menjadi Perdana Menteri pada 1985. Kalah dalam 1993 yang diawasi PBB, ia menolak mundur dan menjadikan Kamboja dalam suasana ‘parlemen gantung’ dengan partai pendukung kerajaan, FUNCINPEC, yang memegang jumlah kursi terbanyak. Kini ia bak abadi. “Monarki” di dalam monarki.

TERKAIT:  Terdampak Pandemi, Apakah Jogja Masih Jadi Primadona untuk Menuntut Ilmu?

Meskipun dengan pertumbuhan ekonomi hampir 7% per tahun, dilansir dari Tempo, beberapa pengamat melihat ironi pada elit politik Kamboja. Perampasan tanah dari petani adalah salah satu ironi pertumbuhan ekonomi Kamboja.

Hun Sen, anak kandung rezim Khmer Merah yang langgeng hingga kini, kembali dari Tempo, menampilkan ketimpangan yang luar biasa ekstrem. Sekolah-sekolah yang rusak, dan murid-murid yang ingin lulus ujian harus menyuap guru-guru yang tidak digaji atau kurang gaji. Yang termiskin mendapat sedikit perawatan kesehatan. Ketimpangan tetap ekstrim. Bahkan upah minimum Hun Sen untuk pekerja garmen menetapkan harga murah jika disanding harga buruh dunia.

Kamboja bersembunyi di balik topeng. Dari monarki – republik – hingga republik dan monarki. Hingga Hun Sen bahkan dijuluki sebagai “Samdech Akka Moha Sena Padei Techo Hun Sen” atau “Panglima Agung Tertinggi yang Terhormat dari Pasukan Agung Jaya” di balik problematiknya pertumbuhan Kamboja.

Dari itu semua kita bisa melihat profil sebuah bangsa. Sembunyi di balik senyuman padahal menyimpan luka, nyatanya tidak hanya gelumbang sejarah masa lampau dengan Kamboja lakon utamanya. Di era post-kolonialis seperti ini, penjajahan demi penjajahan kecil masih saja terlihat dan diwajarkan.

Penjajahan tidak hanya seputar penyiksaan, bukan? Upah rendah, ketimpangan, ketidak nyamanan warga kala pulang malam, dan tetek bengeknya juga merupakan penjajahan tipe kecil yang jika dibiarkan ya akan besar juga. Sebut saja penjajahan kemanusiaan yang diromantisasi.

Penjajahan manusia apa yang dimaksudkan? Kala Kamboja berkelumit dengan genosida, Jogja berkelumit dengan pandeminya. Baca saja “Jogja Adalah Representasi Penanganan Pandemi Paling Loss Doll“. Kala Kamboja berkelumit dengan degradasi banyak hal masalah politik, Jogja juga punya Game of Thrones-nya. Baca saja “Kisah Gusti Ahmad: Ayahnya Dibunuh Selir, Takhtanya Direbut Sultan HB VI, Hidupnya Diburu Sultan HB VII“.

Kita dicekoki kata-kata istimewa tanpa melihat fakta sejatinya kita sedang menderita. Monarki dengan segala utopinya, rakyat dengan segala deritanya. Diberkatilah. Diberkatilah. Diberkatilah.

Gusti Aditya

Pernah makan belut

View all posts by Gusti Aditya →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *