4 Hal Menyebalkan Saat Menyewa Studio Musik

susahtidur.net – studio

susahtidur.net – Sebagai seseorang yang punya hobi ngeband sejak SMP, pada masanya, saya terbilang rutin menyewa studio musik bersama teman-teman untuk sekadar nge-jam, latihan, atau main iseng aja gitu. Ngisi waktu luang sekaligus melepas penat. Apalagi, pada masanya, menjadi anak band adalah salah satu cita-cita yang bergengsi dan sangat diminati.

Pada masanya, tarif sewa studio musik satu jam-nya juga terbilang murah. Normalnya, berkisar antara Rp35.000-Rp70.000, tergantung fasilitas atau kualitas alat musiknya. Tinggal dibagi 4-5 orang, biaya patungan pun terasa lebih ringan.

Meskipun terbilang menyenangkan dalam prosesnya, FYI aja nih, menyewa studio musik juga punya sisi yang menyebalkan.

Pengalaman ini saya alami secara langsung selama menyewa sekaligus gonta-ganti studio musik. Layaknya seorang pelanggan yang ingin mendapatkan pelayanan sekaligus kualitas terbaik, kala itu, saya dan teman-teman merasa belum menemukan studio musik yang nyaman untuk ditempati sekaligus berlanggan.

Dalam proses pencarian studio musik yang dirasa mumpuni, selalu ada kesialan serupa nan menyebalkan yang saya serta anggota band lainnya alami secara terus-menerus. Saya akan ceritakan satu per satu pengalamannya dan kalian boleh bayangkan bagaimana situasinya.

#1 Mic di studio selalu saja ada yang bau jigong

Saran saya, sekadar berjaga-jaga atau antisipasi, selalu bawa kain atau penutup kepala mic yang bahannya dari busa untuk dipasangkan pada mic yang di sediakan di tiap studio. Lantaran, nggak semua studio merawat atau membersihkan mic-nya dengan baik secara berkala. Ada yang cuek (yang penting masih berfungsi), ada juga yang menyediakan banyak mic, tapi ujung-ujungnya hanya bisa dipakai satu karena yang lainnya rusak.

Terus, itu mic lainnya buat lucu-lucuan aja gitu? Buat giveaway? Atau buat souvenir yang bisa dibawa oleh para penyewa studio?

TERKAIT:  Mari Menjadi The Regular Guy yang Keliatan Biasa Aja Tapi Bisa Ngapain Aja

Pasalnya, mic yang masuk kategori nggak terawat ini, hampir selalu bau jigong. Aroma air liur dan bau mulut menyatu gitu. Bikin mangkel karena vocalis jadi nggak nyaman bernyanyi. Mic-nya jadi dijauhin dari mulut tiap kali nyanyi karena kebauan. Kalau udah begini, latihan jadi nggak maksimal, Bang.

#2 AC studio nggak berfungsi alias mati

Kebanyakan studio musik itu kan bentuknya petakan, ya. Nggak begitu luas juga. Biasanya, biar tetap adem dan sejuk, ruang studio akan dilengkapi AC yang menyala. AC dengan kapasitas setengah PK masih oke, lah. Yang penting nggak bikin gerah, apalagi sampai bikin keringetan seperti pengalaman saya saat menjajal beberapa studio musik.

Kalau AC lagi rusak, minimal sediakan kipas angin gitu. Biar nggak gerah dan nggak pengap-pengap amat.

AC memang bukan bagian dari alat musik. Namun, bagi saya, benda ini menjadi salah satu hal yang fundamental dan wajib ada di setiap studio musik agar tetap nyaman saat ngeband.

#3 Mengganti komponen alat musik yang dirusak oleh penyewa sebelumnya

“Yang merusak siapa, yang mengganti siapa” adalah kalimat paling sesuai untuk menggambarkan poin ini. FYI, ada beberapa komponen yang rentan rusak saat kita menyewa studio musik. Senar gitar, simbal drums, sampai dengan snare drums. Jika ada salah satu yang tidak berfungsi atau rusak karena ulah penyewa studio, tentu harus bertanggung jawab dan ganti kerugian sesuai dengan denda yang ditentukan.

Kalau rusaknya karena ulah sendiri, terus kita sendiri juga yang ganti, sih, nggak apa-apa. Sadar diri aja gitu. Yang paling ngeselin, perusaknya entah siapa, yang diminta ganti malah penyewa selanjutnya. Dan hal ini biasa terjadi saat kita menyewa studio musik.

TERKAIT:  Susahnya Menjadi Editor Artikel di Media

Makanya, sebelum memainkan alat musik, ada baiknya lakukan pengecekan terhadap setiap alat musik di studio. Kalau memang ada yang nggak berfungsi atau rusak sejak awal, langsung diinfokan kepada operator studio aja.

#4 Listrik ujug-ujug dimatikan oleh pemilik studio pas waktu sewa sudah habis

Ada banyak cara yang biasa dilakukan oleh operator atau pemilik studio musik dalam memberi kode kepada penyewa studio jika waktu sewa sudah habis.

Pertama, masuk ke dalam studio dan memberi tahu penyewa bahwa satu lagu lagi beres atau selesai. Kedua, memberi kode dari kaca studio dengan menggunakan gestur tertentu. Ketiga, ini yang paling absurd sekaligus menyebalkan yang pernah saya alami selama menyewa studio musik: listrik dimatikan. Yang mati bukan hanya peralatan musiknya, tapi juga lampu studio. Alhasil, studio langsung gelap gulita.

Awalnya, saya pikir listriknya nggak stabil. Namun, perkiraan tersebut jelas-jelas keliru setelah pemilik studio ujug-ujug masuk dan bilang, “Waktunya udah abis, Mas! Jangan keterusan, dong. Masih ada yang nyewa, nih!” ealah, betul-betul nyebelin setengah mampus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *