Surat Izin Tidak Menulis Hari Ini

susahtidur.net – surat izin

Kepada yang terhormat,

(1)    Riyanto selaku Pemimpin Redaksi Susahtidur Media cum pemasok dompet saya kala selesai menulis Kolom RATA KIRI yang terbit tiap Senin dini hari. Riyanto yang baik, yang tak pernah saya jelaskan lantaran baiknya apalagi selain memberikan cuan demi cuan. Yah, begitulah sekiranya.

(2)    Pembaca Susahtidur Media yang budiman dan selalu sudi membaca tulisan demi tulisan saya. Tiada cela untuk kalian, celaka yang tidak seperti kalian (membaca tulisan-tulisan saya, red).

(3)    Kalian yang singgah dengan keyword “Contoh Surat Izin Tidak Masuk Sekolah/Kuliah/Kerja/Kehidupan yang Memuakan”

Dengan datangnya surat ini, saya mohon maklum bahwa RATA KIRI edisi 8 yang berjudul “Kelindan Rasisme Sepakbola” belum saya tulis sama sekali. Pertimbangan datangnya surat ini pun sejatinya amat kompleks. Izinkan saya untuk menjelaskan dengan rinci pada lampiran demi lampiran di bawah ini. Melalui keringanan hati yang paling ringan, tanpa beban, dan terbawa gelumbang kehampaan; saya akan memulai.

LAMPIRAN 1

Saya selaku peminta izin:

Nama                    : Gusti Aditya

Alamat                  : Jauh, tak pernah merasa dekat dengan Tuhan

Jabatan                : Buruh filsuf dan pekerja palugada Kolom RATA KIRI

Maksud                : Tidak menulis hari ini

Tujuan                  : Tidak mau menulis hari ini

Keterangan        :

(1)    Tanggal 8 memang berjalan seperti biasanya. Dari tahun ke tahun. Dari sebuah lini masa ke titimangsa. Tak pernah jauh berbeda. Saya makan. Saya tidur. Saya berak. Layaknya tanggal sebelum-sebelumnya, lumrah sebagaimana tanggal 8 pada hari, bulan, bahkan tahun sebelum-sebelumnya. Namun semua berubah ketika saya mengenal gadis itu kala almanak memberikan sebuah petuah melalui 8 Desember 2020, kala penanggalan jawa jatuh pada Selasa Pon.

(2)    Layaknya dua kuncup bunga yang sedang mencoba membuncah dan menuju ranum, saya dan dirinya telah melakukan sebuah ritual kramat. Pertama kali ritual kramat ini terjadi, Adam dan Hawa diturunkan ke bumi yang bejat nan tidak sejati. Walau tak sebodoh mereka, yakni memakan buah terlarang, kami hanya mengikat sebuah hubungan. Tak sampai menyandingkan khuldi bak klitoris, dan hubungan yang katanya intim. Tidak. Ah, belum. Sebuah hubungan yang menurut saya tidak terlalu mengikat. Tidak terlalu merasa memiliki dan kami menjalani hari-hari seperti biasanya. Kayaknya.

(3)    Hari-hari berikutnya adalah suka cita, walau tak pernah kami tutupi, duka citanya juga ada. Kami bagai Kahlil dan May, walau tak pernah kami tutupi ada juga dalam diri kami bak Romi dan Juli dengan racun di tangan kiri. Kami bagai sebuah pulau yang dipeluk oleh samudera, walau pernah juga bak gunung berapi yang…..BOOM! Meledakkan kepulan asap, magma yang mengalir panas, namun pada akhirnya menyuburkan sekitar dan menjadi buah penghidupan berupa material yang berlimpah. Bukan begitu? Anggap saja begitu.

(4)    DOR! Begitulah kiranya apa yang saya lukiskan tiap ia berkata “Asu” atau “Bajingan”. Dalam sebuah lintas waktu, ada perempuan yang berani-beraninya bicara seperti itu baik dalam sebuah chat maupun telpon. Di atas awan, para malaikat yang berbeda kepercayaan dengan saya sedang tertawa tepingkal-pingkal. Cupid bahkan mengeluarkan air kencing dari kontolnya yang nggak besar-besar amat, namun sakti mandraguna. Mereka tertawa, justru saya jatuh cinta.

TERKAIT:  Surat dari Halte Transjakarta Rusak untuk Para Demonstran

(5)    Tuhan adalah entitas yang saya ajak tertawa dengan menyenangkan. Ia menyiapkan anggur kala penjamuan makan malam bersama saya. Ia bertanya bagaimana kondisi hati saya, pun saya menjawab dengan lantang; amat bahagia. Lantas ia berkata, bahagia mana dengan ajakan perjamuan makan malam. Lantas saya terpingkal-pingkal, lantas menjawab; bahkan makan bersama perempuan itu di pinggir jalan lebih membahagiakan, Tuhan! Giliran Tuhan yang terpingka-pingkal, lahirlah bumi Tomia.

(6)    Tomia tercipta kala Tuhan terpingkal-pingkal.

(7)    Saya tercipta (kembali) di dunia ini kala ia terpingkal-pingkal.

LAMPIRAN 2

Penyebab saya meminta izin:

(1)    Satu bulan berselang, yakni 8 Januari 2021, kala almanak telah berganti dan saya belum mendapatkannya karena pandemi, kami bertemu secara resmi untuk pertama kali. Walau sebelumnya, sepintas lalu kami bertemu, namun tak pernah selama dan seintim hari itu. Padahal, rencananya, saya akan mulai mengetik RATA KIRI edisi ke-8 dengan tajuk rasisme. Jika Riyanto selaku Pemred mengajukan protes, perkenalkan, penyebab keterlambatan datangnya naskah ada pada diri saudari Yafi’ Alfita.

(2)    Dari Minggiran yang penuh dadu dan perjudian, kami memutuskan untuk pergi ke Ruang Kerja. Sebuah tempat makan yang enak untuk muda-mudi kasmaran seperti kami. Bukan begitu, Riyanto? Tentu dengan maksud, mendapat pemakluman bahwa sejatinya muda-mudi adalah perpacaran, bukan memendam hasrat dan bergabung dengan komunitas tanpa pacaran. Apa jadinya Tomia tanpa cinta? Bukan begitu? Harap Lampiran 2 nomor 2 untuk disetujui tanpa syarat.

(3)    Di sana kami hanya tertawa dan tertawa. Tak ada yang lebih indah dari tawanya. Itu sebabnya saya tak pernah ada hasrat untuk memelihara hewan yang dilindungi, apalagi menggerus penangkarannya yang asri. Biar saja pemerintah dengan Pulau Komodo-nya, saya cukup menikmati senyumnya di bawah terpaan pendingin ruangan bagian indoor Ruang Kerja. Sudah. Cukup. Lebih dari sudah, lebih dari cukup.

(4)    Ia beribadah kala mercusuar darat yang membacakan ayat-ayat suci kembali bergema dengan keras. Saya melihat matahari terbenam. Ya, ya, saya tahu, namanya adalah senja, namun saya bersepakat pada saat itu namanya berubah menjadi Ba’da Maghrib.

(5)    Setelah itu saya pamit undur diri, Anda—Riyanto—melihat saya pulang dengan bahagia. Anda tahu itu. Tak perlu saya lanjutkan lebih jauh. Isi pesan saya melalui WhatsApp sudah menggambarkan semuanya dengan rinci, akurat, dan trengginas.

LAMPIRAN 3

Jogja ternyata romantis juga:

Kali ini, maafkan saya, Den Baguse Prab, atas kelancangan saya bahwa kalimat demi kalimat, lampiran demi lampiran, dan akurasi demi akurasi, terindikasi meromantisasi sudut-sudut kota ini.

(1)    Kami memasuki sebuah toko buku pada pukul 7 malam. Ya, tahu sendiri, gajihan Susahtidur Media adalah perayaan terselubung bagi insan-insan yang membutuhkan. Pada kenyataannya, di sana kami tak membeli apa-apa, barang satu buku atau sebuah set musik yang entah gunanya—untuk kami—apa. Di sana kami hanya berswafoto. Melihat manusia demi manusia ber-UMR rendah melintas di Jalan Sudirman. “Manusia kalah,” kataku kepadanya. Dengan bangsatnya ia membalas, “Kamu juga manusia kalah, bedanya mereka yang melintas di Jalan Sudirman lebih tahu diri.”

TERKAIT:  Lebih Memilih Terlihat Hancur daripada Terlihat Baik-baik Saja

(2)    Kami melintasi lampu merah demi lampu merah. Entah karena apa, tiba-tiba saja lampu merah yang kami lewati selalu berubah dari hijau menjadi merah, tepat kala kami beringsut mendekatinya. “Kok bisa merah terus, ya?” katanya. Lantas saya menjawab, “Setidaknya ketika sama kamu, aku jadi orang yang taat pada aturan. Merayakan datangnya lampu merah adalah contoh besarnya.

(3)    Begini, kala lampu merah, obrolan kami jadi tak terkendali, ke sana dan ke mari. Mulai dari membahas sempak ZB Man di Indomaret, sampai konspirasi Thermogun. Zakir Naik yang hancur sampai Simone de Beauvoir yang luhur, tak kalah kami bahas. Lebih dari itu, saya bisa mengelus dengkulnya yang muncul di balik Bella—motor Scoopy saya yang kreditnya baru selesai 2017 silam.

(4)    Kami melewati Tugu. Sebuah kawasan yang selalu mendapatkan perhatian. Tak ada gunungan sampah. Tak ada klitih. Tak ada UMR….ada, ding kalau itu. oh itu, Tugu memang biasa saja, namun dana istimewa itu yang patut menjadi pertanyaan (sengaja bagian akhir saya masukan kalimat ini, biar terkesan kritis dan tidak didamprat oleh cangkemnya Prabu di Ceplas-ceplos).

LAMPIRAN 4

Nasi goreng:

(1)    Nasi goreng depan Padmanaba.

a.       Kami datang kira-kira pukul delapan.

b.       Kondisi langit Jogja gontai hendak hujan.

c.       Tempat itu rekomendasi dari dirinya. Barangkali atas dasar pemakluman masa lalunya. Tak masalah, selagi makanannya enak.

d.       Dirinya ki ncen bajingan, ngajak makan di tempat outdoor dan kondisi hujan.

(2)    Kami makan dengan nikmat. Tak ada rasa enak dari sebuah masakan yang berbahan dasar gulai. Saya tahu resepnya tanpa melihat pembuatannya, dia tidak tahu. Sebagai pria yang akan berperan sebagai pekerja maupun domestik, saya mafhum.  Kami makan, gerimis mulai menari di jalanan depan Kridosono. Mobil-mobil berlalu, kami lesehan di pojok hanya berdua. Para pengguna mobil menikmati nasi goreng di dalam kendaraan miliknya, kami makan di bawah riuh air hujan.

(3)    Dia tertawa berkali-kali, saya kesal bukan main. Tiap kali kekesalan saya bertalu, ia tertawa. Lantas saya jadi tertawa, ia makin tertawa. Kala saya terbahak-bahak, ia kejer-kejer seperti orang gila. Alhasil kami terkena curahan air berkat dari Tuhan, bahagia. Bukan kepalang. Tapi pendapat saya tetap sama, ia adalah bajingan dalam takaran yang bikin senang.

Es kopi:

(1)    Es kopi samping Togamas Kota Baru.

a.       Kami datang sekitar pukul sembilan.

b.       Togamas sudah tutup.

TERKAIT:  Valentine dan Kelindan Agama di Sekitar Kita

c.       Kami datang karena berlindung dari hujan yang deras datang.

d.       Akhirnya kami duduk dan menunggu.

(2)    Ketika manusia jatuh dalam sebuah jurang, hanya ada dua kemungkinan terbesar. Pertama, ia akan mati bak rempeyek dengan tulang-tulangnya akan mengalami kepatahan total. Kedua, ia akan terbangun dari mimpinya. Saya adalah manusia yang jatuh dalam jurang yang pernah saya alami. Golongan ketiga datang, ia tak pernah takut untuk jatuh berkali-kali ke dalam jurang.

(3)    Saya cium tangannya. Kembang api malam tahun baru, bak saya seret ke depan kami saat itu. PUIIIHHH…DUAAAR! Begitu sekiranya suaranya. Seribu kali terulang. Masa muda saya berentetan bak dimensi film yang terus berputar. Sedih akan selalu terawat, getir akan selalu mengalir, dan senang adalah yang akan kami songsong perlahan. Knuckle Puck dengan Evergreen pun terdengar riuh di telinga kami. Blink-182 dengan First Date tak mau kalah menghegemoni saluran telinga kami. Is it cool if I hold your hand? Is it wrong if I think it’s lame to dance? Do you like my stupid hair? Begitu kata Tom DeLonge.

Minggiran (lagi):

“Pulang, ya?” kata saya. Ia lantas mengeluh. “Loh, kan bisa besok lagi. Pelan-pelan aja, baik secara terminologi maupun harfiah,” kemudian saya memacu motor dengan kecepatan 20 KM/Jam. “Sama sepeda listrik aja kalah cepat, kan?” kata saya, ia tertawa. “Lagian mau ke mana, sih, harus cepat-cepat? Toh tujuannya tahu, kan? Nggak ada salahnya mampir-mampir dulu, beli ciu, rokok, atau beli onderdil di Jejeran. Daripada cepat-cepat, gagalnya juga akan cepat.”

LAMPIRAN 5

PENUTUP

Entah bagaimana menyampaikannya kepada Riyanto dan pembaca Susahtidur Media yang budiman sekalian. Hari ini, rasanya saya gamang sekali untuk menulis. Saya tak ada ide untuk menulis ribuan kata untuk Susahtidur sebagaimana yang telah dijadwalkan oleh Riyanto dan tim Susahtidur Media. Entah bagaimana cara saya meminta maaf. Barangkali surat izin ini menjadi rujukan paripurna bahwa saya mendapatkan pemakluman, bukan pemakzulan.

Sekian dari saya, atas datangnya surat izin tidak menulis hari ini, saya hendak mengucapkan terima kasih kepada Tuhan—entah Tuhan yang mana, siapa saja deh yang penting mau saya ucapkan terima kasih—sang entitas tertinggi, Riyanto, dan seluruh warga Jogja yang baik hati melancarkan kejadian demi kejadian menyenangkan yang saya alami hari ini: entah itu pengguna jalan yang memaklumi ada motor yang melaju dengan pelan, sampai Ruang Kerja yang memberikan tempat terbaiknya untuk kami—saya dan dia.

Banguntapan, 8 Januari, 2021

Yang bertanda tangan di bawah ini

Ya, saya sendiri to yha.

Ditulis dalam keadaan—lagi-lagi sedang—mabuk. Namun bukan mabuk yang biasanya, rasanya kali ini mabuknya agak berbeda. Tanpa air jahat yang masuk ke dalam kerongkongan, tanpa ada jeda tambul berupa mie remes yang mendorong masuk bekonang. Senikmat-nikmatnya, sesemringah-semringahnya.

Gusti Aditya

Pernah makan belut

View all posts by Gusti Aditya →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *