4 Penyebab Kalimat, “Ada yang Mau Aku Omongin” Selalu Bikin Overthinking

susahtidur.net – overthinking

susahtidur.net – Disadari atau tidak, di era disruptif seperti sekarang ini, manusia di muka bumi, di mana pun domisilinya, punya hobi baru dalam proses berpikir sekaligus menjalani hidup, yakni overthinking. Belum apa-apa udah kepikiran ini dan itu. Salah ngomong sedikit, kepikiran. Orang lain menyampaikan sedikit informasi atau memberi penilaian tentang dirinya, kepikiran lagi. Sedikit-sedikit kepikiran, apa-apa dipikirin, akhirnya malah jadi beban buat diri sendiri.

Padahal, nggak perlu sebegitunya juga, sih. Lantaran, banyak di antaranya belum terjadi. Atau bahkan belum dilakukan sama sekali. Namun, di sisi yang lain, hal demikian bisa terjadi karena faktor sosial lingkungan juga. Jadi, mau nggak mau, suka atau nggak, harus diri sendiri yang memberi batasan agar tidak mengikuti arus yang kurang baik buat diri sendiri.

Dalam cakupan yang lebih sederhana, overthinking bisa tergambar dalam kalimat, “Kita ngobrol, yuk. Ada yang mau aku omongin.”

Saya cukup yakin bahwa, sebagian dari kita pasti sering merasa nge-down lebih dulu sewaktu mendengar atau mengetahui kalimat tersebut. Padahal, informasi yang akan diterima nantinya belum tentu negatif atau hal yang buruk, lho. Malah, bisa jadi sebaliknya. Namun, karena seseorang sudah keburu overthinking, jadinya ya gitu. Kelabakan sendiri dan perasaan yang nggak nyaman itu muncul karena ulah sendiri.

Nah, setelah melakukan refleksi juga diskusi dengan beberapa teman, disadari atau nggak, setidaknya ada 5 penyebab, kenapa kalimat, “Ada yang mau aku/saya omongin” sering kali bikin deg-degan setengah mampus di berbagai situasi dan berujung overthinking.

#1 Berdasarkan pengalaman sebelumnya, informasi yang diterima sering kali kurang baik

Sulit dimungkiri bahwa, sering kali kita merasa cemas dengan kalimat, “Ada yang mau diomongin” karena pengalaman di masa lalu. Apalagi, kebanyakan hal yang kurang menyenangkan biasanya diawali dengan kalimat tersebut.

TERKAIT:  Penampilan Bapak-Bapak yang Layak Dijadikan Foto Profil Akun Dad Jokes

Lagi ada masalah sama gebetan, bilangnya, “Aku mau ngomong sesuatu” lebih dulu. Sebelum putus, diawali dengan berkata, “Nanti kita ketemu, ya. Aku mau nyampein sesuatu.” Bahkan di ruang lingkup pekerjaan pun, para atasan hampir selalu mengawali percakapan dengan kalimat serupa. Ujung-ujungnya malah berakhir diomelin, ditegur, dan lain semacamnya. Meski nggak selamanya begitu, sih.

#2 Terlalu over-reaktif terhadap kalimat, “Ada yang mau diomongin”

Berlebihan dalam menanggapi sesuatu itu memang nggak baik. Sebaiknya, hal ini juga bisa diterapkan saat kita menerima kalimat, “Ada yang mau aku omongin.” Santai aja gitu. Nggak perlu antusias, tapi jangan cuek bebek juga. Bersikap seperlunya aja. Belum tentu juga informasi yang akan diterima itu negatif atau kurang menyenangkan. Apa nggak capek kalau udah over-reaktif lebih dulu, ealah, tahu-tahu informasi yang diterima malah menyenangkan. 

#3 Terlalu menyimpan ekspektasi berlebihan

Kan sudah dibilangin di poin sebelumnya, segala sesuatu yang berlebihan itu nggak baik. Termasuk memendam ekspektasi berlebihan. Untuk mewakili poin ini, quote yang nggak bijak-bijak amat rasanya bisa mewakili. Kurang lebih seperti ini, “Prepare for the worst.

Nah, barangkali, qoute itu bisa jadi pengingat bahwa, kita jangan sampai terlalu berekspektasi untuk banyak hal yang, sebetulnya belum tentu kejadian. Berharap boleh, tapi imbangi juga dengan pemikiran, “Prepare for the worst.”

#4 Dipikirin terus-terusan, padahal tinggal dihadapi aja

Yeee. Dibilangin kok susah banget, sih. Ngeyel. Masa harus dipertegas lagi, sih? Mau bagaimana pun, dipikir dari sudut pandang mana pun, kalimat, “Ada yang mau aku omongin” ya hanya sekadar kalimat sederhana. Yang bikin repot itu ya pemikiran kita. Dipikirin terus. Dikira-kira terus. Padahal kan tinggal dihadapi aja gitu. Apa yang terjadi, ya terjadilah. Kalau informasinya baik, ya syukur. Sekalipun kabar yang diterima kurang menyenangkan, ya dihadapi. Semisal salah, ya diakui. Kalau perlu, minta maaf sekalian.

TERKAIT:  Rekomendasi Band Post Rock untuk Aktivitas Kontemplasi yang Makin Khidmat

Tahap akhir yang harus dilakukan adalah nrimo ing pandum. Sebuah falsafah hidup yang sarat akan makna. Kalau bukan, lantas, apalagi? Setelah berbagai cara dan usaha dilakukan, tentu saja kita harus legowo. Menerima apa pun yang sudah terjadi di masa lampau, menghadapi sekaligus menjalani segala sesuatunya di masa sekarang, juga bersiap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi pada waktu mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *