Sepaket Memorabilia

susahtidur.net – sepaket memorabilia

susahtidur.net – Aku sendiri. Merenung di sudut kamar yang khas akan aroma parfumku. Memikirkanmu yang entah sekarang sedang di mana. Dalam keadaan perut kosong kah? Atau sekadar menonton tv sembari mengunyah kripik singkong rumput laut kesukaanmu dulu? Aku ingat, terakhir kita bertemu di sebuah gedung perbelanjaan. Kota romantis yang kusebut Yogyakarta ini, menjadi saksi dalam setiap bising tawa kita saat malam tiba. Tapi itu dulu. Dan inilah rinduku, dalam setiap lamunan bisu tanpa ucapan.

Apa kabar? Bagaimana keseharianmu selama lima ratus dua puluh empat hari pasca kita berpisah? Tetap bahagia ya. Semoga apa yang kau harapkan, segera dikabulkan oleh Tuhan. Beberapa bulan ini terasa sangat membosankan ya? Berdiam diri di rumah masing-masing, aturan memakai masker, dan kasus kematian yang mengerikan ini membuatku stress. Banyak yang ingin kuceritakan kepadamu tentang tahun ini. Tapi tampaknya, kau sudah mendapatkan cerita menarik dari calon suamimu yang tampan dan sempurna itu.

Dalam setiap tetesan hujan sendu ini, aku selalu mengingatmu dari awal kita berkenalan. Lucu memang. Saat aku sedang berputar memeriksa keamanan gedung, kau yang mungil dan tampak lucu memaksaku untuk membelikanmu sebuah sosis panggang di samping Mall. Entah, bagaimana rasa penasaran itu muncul. Tiba-tiba saja aku ingin mengenalmu lebih jauh. Semua terasa begitu cepat. Hingga kau memberitahuku alamat rumahmu yang tak jauh dari tempat tinggalku.

Doaku dalam setiap sembah sujud kepada Maha Cinta, agar dirimu diberikan kebahagiaan, kemakmuran, dan keselamatan. Setelah kita berpisah, banyak dari calon penggantimu yang telah gugur. Bagaimana tidak? Di ingatanku saja masih tertulis rapi namamu. Namun untuk awal 2020 ini, ada seorang yang sempat membuatku terkagum. Namun tak lama kemudian, temanku yang berhasil untuk merangkulnya. Memeluknya hingga dekapan paling nyaman. Bangsat memang.

TERKAIT:  Lagu "A Better Place, A Better Time" Pernah Menyelamatkan Saya dari Bunuh Diri

Bahkan untuk akhir tahun ini, seseorang muncul dengan apresiasi yang luar biasa tentang tulisan-tulisanku. Dia juga seorang penulis wanita. Mengenalku lewat tulisanku dan kami akrab di Twitter. Dia sepertimu. Selalu saja kurang percaya diri. Hahaha, mungkin sebentar lagi aku akan segera tertarik untuk mengenalnya lebih jauh. Bahkan aku sempat menyebutnya dalam tulisanku. Dia benar-benar hebat. Entah bagaimana aku menjelaskan, namun memang dia benar-benar perempuan hebat. Aku akui kehebatannya dalam dunia yang semakin kejam ini.

Kau tahu, beberapa bulan yang lalu aku dan Evan telah mendirikan sebuah Angkringan yang berada di atas jembatan Kali Manunggal. Yang biasanya orang-orang menyebutnya dengan Kali Mambu. Tak lama sih memang. Hanya karena harga sewa yang mulai naik di masa krisis seperti ini dan bahkan sempat diangkut oleh bapak-bapak Satpol-PP. Mereka bilang sih karena semua barang daganganku sengaja kutinggalkan di area tersebut. Tapi memang, itu semua salahku.

Untuk saat ini saja, aku bekerja di toko alat tulis yang tak jauh dari rumahku. Lumayan irit memang. Bagaimana tidak, setiap hari aku sering berjalan kaki dan bersepeda untuk mencari rezeki yang entah suatu saat akan kugunakan sebagai apa. Kau pun sepertinya tahu tempat itu. Jangan segan untuk mampir.

Aku ingat saat kau pulang bekerja sembari menunggu jemputan ayahmu. Menunggu lama di depan tangga gedung sembari membuka tutup pesan WhatsApp. Berharap segera melepas penat dan rebahan di kasur yang empuk setelah seharian dipenuhi oleh tekanan. Aku datang dan menemanimu duduk di tangga dan kita bercengkerama. Hingga beberapa hari setelah itu, kau merasa lelah menunggu. Akhirnya kau mengabariku untuk segera menjemputmu. Mengantarkanmu di Istanamu.

TERKAIT:  Catatan Menuju Ketinggian #2

Dari pesanmu yang pernah kau kirimkan, kau mengatakan bahwa “Bagaimana keadaanku dan kamu nanti, semoga kamu selalu bahagia dan mendapatkan yang terbaik.” Menurutku, perkataanmu tentang hal ini adalah sebuah doa yang memang terkabul. Sungguh, aku bahagia melihat senyum aslimu saat ini. Dan aku telah mendapatkan yang terbaik. Seperti dia, seorang penulis perempuan yang mengirimkan e-mail diawali dengan sebuah kata “Aku mengagumimu, Mas Sengget!” Ya, begitulah jalan kita saat ini. Saling bahagia dengan setiap kondisi.

Ya, aku pernah mencintaimu. Hingga titik terbesar dalam sebuah cinta adalah melepas dan melihatmu bahagia dengan jalanmu. Kini, giliranku untuk merasakan sebuah manisnya rasa untuk dikagumi oleh seseorang yang hampir sama sepertimu. Lekaslah menjadi istri dari laki-laki beruntung itu. Tetaplah bahagia dan jangan lupa untuk selalu tersenyum. Semoga kita bisa bertemu lagi. Entah dengan cara anak kita menjadi satu kelas dalam sebuah sekolah, atau hal lain yang semuanya memang kebetulan. Salam.

Grantino Gangga

Tinggi Badan: 185cm

View all posts by Grantino Gangga →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *