Sepaket Memorabilia #3

susahtidur.net – memorabilia

susahtidur.net – Nod. Aku menerima sebuah paket yang ketika kubuka ternyata berisi memorabilia tentangmu. Aku membukanya, menyelaminya, lantas terjebak jauh di masa lalu.

Ingatanku pergi berkelana ke sebuah linimasa waktu yang begitu jauh. Ketika itu, Tuhan sedang sibuk bekerja, ia memperbolehkan aku untuk mencintai siapa saja. Ketika kuasa Tuhan tidak dikerdilkan seperti sekarang. Tuhan yang tanpa cela, Ia mengijinkan aku untuk menyukai seorang gadis yang cara berdoanya amat berbeda. Seorang gadis yang begitu manis di mataku. Ia yang bermandikan cahaya dan menikmati Minggu pagi di sebuah Katedral dengan khusyuk. Kupertegas langkahku menuju surga yang direncanakan itu. Sebuah surga yang selalu aku idam-idamkan selalu.

Aku sejatinya tak pernah percaya dengan cinta yang abadi. Cinta adalah sebuah hal yang berjalan secara temporari. Akan ada masanya habis, akan ada pula masanya terisi. Itu yang aku sepakati. Apalagi perihal cinta monyet yang manis sekali. Setidaknya, ketika beranjak sekolah menengah pertama, aku mencicipi apa itu cinta monyet. Tahapan cinta yang selama ini para orang dewasa tertawakan. Sedang ketika aku beranjak dewasa, sialnya aku tak pernah menertawakan itu—atau lebih tepat aku menghargai tahapan itu. Ya itu tadi, cinta selalu berjalan secara temporer. Cinta yang tak pernah abadi, ia akan selalu menipis atau bahkan habis. Cinta monyet, menurutku, adalah masa paling realistis dari tiap tahapan cinta yang selalu mengiris tipis-tipis.

“Aku bebas mencintai siapa saja,” kataku kala itu. Dengan seragam putih biru yang amat rapih. “Bahkan mencintai gadis paling cantik di satu sekolah,” lanjutku. Di mataku, agama hanyalah lelucon yang sejatinya tidak memisahkan cinta begitu jauh, begitu dalam, atau bahkan begitu masif. Di umur yang menurutku begitu dini, ia adalah gadis tercantik di kelasku. Ah, sudah berapa kali aku mengucap kata “cantik”? Namun tak masalah, sebanyak apapun kata “cantik” yang aku sematkan untuknya dalam tulisan ini, itu adalah hal yang layak didapatkan oleh dirinya.

TERKAIT:  Quarter Life Crisis dari Pandangan Penderita Mental Illness

Ia yang selalu menggunakan sepeda ketika bergegas menuju sekolah. Jika ingatanku tidak berdusta, ia selalu datang ke sekolah pada pukul 6.50 tepat. Aku yakin, sih, ingatanku tidak pernah berdusta. Apalagi tentangnya. Soalnya aku selalu ada di dekat tangga ketika ia bergegas naik ke kelas. Langkahnya yang semampai, rambutnya yang ikal menggantung, dan kacamata yang selalu membuatku tersenyum tanpa adanya sintesa dan antitesa yang menyertainya. Ia berlalu melewatiku. Memberikan sebuah anggukan. Lantas aku memeriksa jam besar di dekat perpustakaan, ya, 6.50 tepat! Seraya dalam hati berkata, “Syukurlah, pagi ini dirinya masih cantik. Seperti biasanya.” Walau saat itu aku yakin, bertahun-tahun setelahnya, pikiranku—kepadanya—masih tetap sama; memandangnya secara hormat.

Kelas satu dan dua, kami amat jauh dan berbeda jalan yang begitu terjal. Bahkan aku menyadari di kelas ada dirinya, barangkali ketika kelas dua akhir. Ketika aku memeriksa kertas ujian pacarnya, dari kelas F yang aku selalu ingat betul bagaimana ia datang dan menyapaku yang sedang duduk. “Kamu koreksi kertas ujian pacarku, ya?” Sejak saat itu, aku selalu ingat senyumnya yang kudus. Sebuah senyum yang menghadirkan kebiasaan baru di kelas selain tertidur—ya, menunggunya masuk kelas kelas, di sebuah tangga dekat perpustakaan. Sampai aku kelas tiga. Jika ada yang berkata aku terlalu banyak waktu luang, yah, kira-kira begitu lah aku saat itu.

Dirinya amat pandai. Pantas ditempatkan di kelas A. Sedangkan aku terdampar masuk kelas  yang sama dengannya. Aku selalu ada di peringkat lima terbawah. Aku selalu mengikutinya ke perpustakaan. Sempat ketika ia duduk, di sebuah sudut perpustakaan dengan mata yang kuyu, aku coba tebar pesona. Aku memilih buku, entah apa. Aku memilih rak paling dekat dengan lokasi ia duduk. Berharap ia menyapaku, yang terjadi ya—tentu saja—ia mengabaikan aku begitu saja. Aku tidak marah kepadanya, hanya saja ingin berkata: Sialan, film-film cinta yang aku kopi dari warung internet dan aku tonton semalam suntuk, tidak ada yang berguna sama sekali kiatnya!

TERKAIT:  Surat Cinta dari Bajingan: Antara Aku, Kamu, dan Monarki

Entah bagaimana ceritanya kami saling bertukar pesan. Ia menggunakan IM3, aku menggunakan Smart—sebuah operator yang saat ini mungkin sudah bangkrut tak bersisa. Ingat betul di suatu malam ia mengirim pesan, “Bonusan SMS ke lain operator habis, kalau mau SMS pakai operator yang sama saja, ya?” Rasanya seperti mengecap gula-gula, manis luar biasa. Rasanya seperti tersengat, pergi ke konter adalah jawaban yang tak boleh diganggu-gugat.

Tak ada lagi hari-hari gersang, berikutnya hanyalah pergolakan antara senyum yang membuncah tiap malam. Dari dia aku belajar apa itu begadang, sebuah tradisi menembus malam hari yang sunyi. Tidur adalah sebuah kerugian. Kini aku dapat simalakama. Malam hariku kini, selalu stagnan—yang beransur menjadi kata demi kata, kalimat demi kalimat, pun dengan kepingan kenangan demi kenangan yang selalu aku jaga menjadi sebuah keabadian. Jika boleh mengutip dan mengubah sajak dari Chairil—mampus kau dikoyak-koyak kenang!

Puncaknya ketika aku dan dirinya janjian pulang sekolah bersama. Selepas kegiatan ekstra. Aku menggunakan baju Liverpool berwarna putih, sedang dirinya menggunakan pakaian dengan corak warna yang serupa, rok yang manis. Sepedaku hitam legam, sepedamu abu-abu. Batinku membuncah, pecah di angkasa. “Sialan, bisa-bisanya aku pulang bersama seorang gadis paling cantik di satu sekolah!” Begitu kiranya yang aku katakan. Tentunya dengan senyum-senyum sendiri seperti orang hilang akal.

Kami pulang tidak naik motor, tidak jalan kaki, kami memilih cara yang begitu manis, yakni naik sepeda bersama. Aku ingat, ada mas-mas berteriak, “Ora yang-yangan wae!” Lantas ia berlalu, tertawa-tawa. Ia diam saja, aku deg-degan luar biasa. Kebanyakan waktu aku habiskan untuk diam. Hanya suara rem sepedaku yang sudah aus, membelah jalanan Alun-Alun Selatan. Sampai tiba-tiba Jalan Bantul datang memisahkan aku dan dirinya. Lantas aku pulang ke Banguntapan. Sampai-sampai di rumah sudah Isya.

Aku ulang tahun, ia memberikanku sebuah mug yang manis. Mug yang masih aku jaga dan tersemat dengan rapih di pojok ruang tamu rumahku. Sengaja. Jika ruang tamu orang lain pamer piala, biar aku pamer mug darimu saja. Mug yang tak kalah bergengsi dari sebuah piala. Pencapaian tertinggi selama aku menjalani hari demi hari di sebuah sekolah sunyi dan prestasi senyap. Kelas satu penuh kebodohan, kelas dua tak jauh berbeda, lantas kelas tiga aku dapat hadiah darimu, di hari ulang tahunku. Di tengah lapangan, semua mata menatap kita—aku dan dirinya.

TERKAIT:  Catatan Menuju Ketinggian #3

Secara tak langsung, perayaan ulang tahunku itu bak sebuah upacara seremonial perpisahan dari perjumpaan singkat. “Dirinya sudah berpacaran dengan kawanmu!” Begitu kata kawanku yang bertubuh jangkung. Di rumah seorang kawan, aku hanya melihat mug darimu. Sebuah kado yang berbisik dengan cara yang amat pelan: Jangan ganggu aku lagi, ya? Maaf. Atau bahkan tak ada kata maaf yang tersemat? Ah, aku tidak peduli, walau sakitnya seperti yang aku katakan di awal—mengiris tipis-tipis.

Aku pergi ke sebuah sekolah menengah atas yang berada di pelosok kampung. Tak ada yang namanya deru mobil dan gedung perkantoran, yang ada hanya kepik berlalu-lalang, sesekali kambing liar masuk halaman sekolah. Di sana aku seperti diasingkan. Aku bertemu dengan orang-orang baru, gadis-gadis lainnya, namun tetap saja tiap 6.50, aku selalu melongok ke parkiran sepeda. Sebuah parkiran yang amat berbeda. Tidak ada tangga. Tidak ada jam besar di dinding perpustakaan. Paling parah, tidak ada dirinya dengan kacamata dan rambut ikal menggemaskan.

Mau tahu yang lebih parah daripada itu? Aku benar-benar kehilangan sebuah anggukan itu. anggukan kepala yang ritmis. Anggukan kepala yang tidak mungkin aku lupakan sampai kapanpun juga. Bahkan sampai saat ini. Ketika aku menulis tulisan ini. Sembari menatap mug yang ia berikan. Sebuah kado yang mengisyaratkan kebahagiaan sekaligus kekecewaan dalam bentang waktu yang kurang ajar tipisnya.

G.A.

Gusti Aditya

Pernah makan belut

View all posts by Gusti Aditya →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *