Sepaket Memorabilia #2

susahtidur.net – memorabilia

susahtidur.net – Untuk Wisanggeni. Aku menemukan sepaket berisi memorabilia yang ketika kubuka, aku mengingat segala-galanya tentangmu.

Ketika kutuliskan surat ini, mungkin sekiranya kaupikir aku sudah muak denganmu. Kemungkinan begitu, iya? Kemungkinan tidak, bukan? Aku memang muak kepadamu, tapi aku lebih muak kepada diriku. Coba ketika kutantang kau untuk membunuh suara-suaramu di hatiku, tentu tidak bisa, bukan? Itulah kenapa aku muak, selain muak karena ulah negara.

Geni, aku hanya ingin berkata sedikit hal padamu. Ini adalah kata-kata yang telah banyak terucap di antara kita dan mungkin tak pernah kausadari. Kata-kata di pagi hari saat balkon apartemenmu masih begitu dingin, tetapi kita bersikeras untuk tidur berdua di sana seperti ikan pindang di sarden. Berpinjamkan selimut dari lemari, ayunan biolamu yang membuat tetangga protes tak henti, juga rokok Esse yang kusesap bagai sirkadian anomali. Kau mengingatnya, bukan? Hal termenyebalkan dari keseluruhan masalah pada seorang manusia adalah ingatan yang menepi, tidak berlabuh, tidak pula permisi.

Ketika pertama kali bertemu denganmu, aku paham bahwa sinyalir kita berbeda. Aku paham bahwa kamera murahmu tidak sama dengan jas kantorku, aku paham bahwa jiwamu yang bebas tidak sama dengan jadwal di tiap detikku. Geni, aku tidak menampik itu semua. Aku tidak menampik jika kau menemukanku berbeda, jika kau menemukanku satu di antara semiliar manusia di bumi dengan pribadinya masing-masing yang kolot. Tipikalmu surealis dan tipikalku indikatif, siapa suruh Tuhan menulikan kita pada jam-jam itu? Pada jam-jam di mana kita jatuh cinta, tak henti dan tak kurang mancawarnanya.

Aku tidak ingin berbicara macam-macam lagi. Baiklah, kuakui kalau aku hanya ingin menanyakan kabarmu. Menurut Kak Sekala, kau menanyakan kabarku pada hari di mana ia menikah dan kebetulan kau datang tanpa kawan. Tentu saja, tentu saja ia menjawabmu dengan bercerita bahwa hidupku baik karena memang begitulah adanya. Begitu solak rupanya aku pada hidupku yang sekarang. Tanyakanlah lagi soal aku kepada mereka agar kautahu kalau aku baik-baik saja meski tanpamu.

TERKAIT:  Dulgo: Anjing Terakhir di Desa yang Warganya Merasa Paling Suci

Wisanggeni yang baik, Wisanggeniku yang manis.

Aku juga hanya ingin bilang, semua ini bukan kesalahanmu. Mungkin kesalahan Tuhan yang berkata jika cinta haruslah belajar persoalan lunyainya dua perasaan. Mungkin pula kesalahan gunung-gunung yang salah berdoa; atau sungai-sungai yang salah mengalir; atau pula burung-burung yang salah bercicit. Mungkin pada peraduaannya, malaikat salah memilih. Mungkin pada kesempatan sebelumnya, kita tidak terpilih.

Alasanku meninggalkanmu bukan karena kau berbeda, Geni. Kau selalu berkata bahwa kita begitu distingtif, bahwa kita berartikan untuk satu sama lain dengan perbedaan yang begitu atraktif. Namun, itu semua bukan seperti itu. Justru karena kita begitu sama. Nalurimu meludahiku sebab kau pernah sepertiku dan memilih untuk egois dengan hierarki kehormatanmu, serta aku pula pernah sepertimu dengan jiwaku yang terlampau asing; sendiri; tak berpegang; dan nyaris mati. Kita adalah dua luka yang berusaha untuk saling menyembuhkan, yang tanpa kita sadari bergelut dengan mayat-mayat dari diri kita yang lalu. Kita tersesat dan hanya akan berakhir pada luka baru yang berbeda.

Aku telah bertemu orang yang baik. Dia benar-benar baik karena kautahu sendiri aku tak pernah bohong padamu, Geni. Dia menuntunku sekaligus menjadikan percakapan kami dua arah sehingga terdapat akibat dari sana. Dia begitu menyayangiku, Geni. Dia begitu ranggi meski tidak akan pernah sesempurnamu, tetapi dia memandangku sebegitu utuh hanya untuk dirinya. Aku benar-benar merasa bersyukur karena keadaanku sekarang dan aku mendoakan yang terbaik untukmu. Aku mendoakan hari-harimu yang buruk ketika menunggu kereta segera berakhir. Aku berdoa jika kau segera bertemu orang yang baik pula, yang akan mencintaimu jauh melebihi aku yang pernah mencintaimu dengan ala kadarku.

TERKAIT:  Valentine dan Kelindan Agama di Sekitar Kita

Kalau kau nantinya mencintai lagi, tolong jangan perlakukan cintamu sebagaimana kau memperlakukanku. Perlakukanlah ia ribuan kali jauh lebih baik dibanding perlakuanmu padaku. Kautahu sendiri, seperti dongeng-dongengmu di balkon dan kereta yang melaju, aku tidak akan menemukan seseorang yang begitu baik dan sama sempurnanya sepertimu. Karena Wisanggeniku hanya dirimu dan aku bersyukur pernah mencintaimu. Terima kasih, dan biarkan aku menutup kembali–serapat mungkin–paket berisi memorabilia ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *