Onani Pendidikan Indonesia

susahtidur.net – ilustrasi dari Antonine Dore

susahtidur.net – Sekelompok mahasiswa asal kampus yang mentereng sedang berkumpul dan menyiapkan materi. Minggu depan, mereka menuju salah satu bagian Indonesia—yang tak tersentuh oleh pikiran mereka—menjalankan ritual kampus bernama kuliah kerja nyata. Ada yang mau mengajar pengetahuan alam, sosial, hingga eksak. Semangat mereka tinggi, yakni berkontribusi secara langsung untuk dunia pendidikan Indonesia.

Mereka cukup puas, wajah-wajah terkembang dengan bahagia. Pipi tambun itu menyeruak menjadi satu hal, yakni materi mereka akan terlihat luar biasa di hadapan anak-anak korban gempa itu.

Sesampainya di sana wajah mereka menjadi muram. Sistem pendidikan Jawa, berbeda dengan yang terjadi di lokasi mereka mengadu nasib untuk mendapatkan nilai A tersebut. Mulai dari disiplin waktu masuk sekolah, seragam, bangunan, riuhnya perabotan penunjang, hingga yang paling prinsip bernama kecerdasan. Sehari, dua hari, sampai satu minggu, mereka akhirnya sadar, ternyata pola pendidikan di mata mereka, berorientasi kepada—seutuhnya—yang ada di Jawa (atau daerah asal kampus).

Di kampus mereka dengan tembok putih bersih, pendingin ruangan tiga biji, katrol elit yang bisa meringankan kinerja kaki, hingga komputer di setiap sudut sana-sini, tidak memberikan kesadaran tersebut. Yang ada, justru di tempat terpencil bagian Indonesia, yang tak tersentuh oleh pikiran tadi, yang bisa memberikan pemahaman bahwa pola pendidikan yang mereka dapat selama ini sifatnya tidak netral.

Pengkultusan berlebihan kepada sistem kompetitif tidak ditemui di tempat itu. Mereka melihat bahwa ternyata ada sebuah pola pendidikan yang tercebur pada kepentingan kelompok tertentu. Mereka menganggap bahwa pola seperti ini begitu purba dan jauh dari peradaban. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah mereka memasukan sebuah pemikiran yang saklek dengan mereka, menuju sebuah tempat yang memiliki polanya tersendiri.

Apakah seperti ini baik? Oh, nyatanya baik-baik saja. Sebuah kondisi di mana belajar membaca tidak lebih penting dengan sebuah penalaran pernikahan dini itu berbahaya bagi mereka. Lulus sekolah dasar, seakan menjadi legitimasi bahwa mereka berhak untuk kawin dan beranak pinak. “Yang salah bukan polanya, namun individunya,” ya, memang. Mudahnya ya—anggap saja—begitu. Namun pola pikir seperti ini akan menciptakan hal abai. Pendidikan tempat metropolis, berbeda dengan timur jauh.

TERKAIT:  Alasan Mengapa Lebih Banyak Guru Perempuan daripada Laki-laki

Kurikulum yang disiapkan hanya mentok sebatas satu tambah satu sama dengan dua, bukan mengenai rahim anak yang masih muda belum siap menampung bakal anak. “Hal ini dimuat dalam doktrin agama, bukan pendidikan,” maka anggapan bahwa pola pendidikan tidak mempengaruhi individu runtuh sudah dalam penalaran busuk seperti ini. Padahal pendidikan memiliki tugas mulia, yakni memerdekakan masyarakat.

Sebagian kecil masyarakat yang jauh dari sudut pandang umum—mereka bersembunyi di ruang gelap yang tak tersentuh—menganggap bahwa nilai ujian adalah sebuah lelucon belaka. Bagi mereka yang paling khusyuk adalah sehabis mengerjakan soal yakni pulang ke rumah, ambil parang, pergi ke kebun, dan membantu orangtua. Lantas di mahasiswa-mahasiswa pintar ini datang, geleng-geleng kepala dan menciptakan beberapa ramuan pendidikan yang berharap dapat menyelamatkan hidup mereka.

Penanaman pola pendidikan ini—menurut saya—tak lebihnya seperti sebuah alat perah saja. Nilai-nilai daerah asal mereka yang katanya paling beradap, menciptakan nilai-nilai dan ritus-ritus khusus yang sama sekali berbeda. Mereka menciptakan kelas, si pandai membaca dan si belum bisa membaca. Hirarki kelas kecil-kecilan ini sudah bisa mengubah tatanan, bagaimana dengan pihak-pihak yang lebih besar lagi—pihak yang bisa menggerakan seluruh pendidikan Indonesia. Pihak yang—saya yakin—menghabiskan hari-harinya di meja rapat dan kemeja necis.

Lebih gamblangnya lagi, ketika masuk lebih dalam, para mahasiswa KKN ini seperti membentuk pola pemikiran bahwa masyarakat adat adalah udik, subordinasi, hingga dakwaan pembentukan hirarki lainnya. Padahal, bisa saja yang diinginkan dari mereka bukan melulu penyuluhan pentingnya penanaman Pancasila sebagai wujud nasionalisme, bisa saja mereka lebih ingin ngobrol bersama, kopi dan kacang di tengah, tembakau yang kian habis, arak yang selalu berputar bagai rotasi bumi kepada sang matahari yang tak kenal lelah.

TERKAIT:  Narasi Memperlemah KPK

Dari hal-hal yang sekiranya kecil, seharusnya mereka menemukan pola tersendiri dari apa yang mereka inginkan. Pendidikan Indonesia, dalam wadah sebuah lembaga (atau tetek bengek lainnya) tidak akan punya waktu sebanyak ini. Makanya, peran serta anak-anak KKN yang bahkan berani mabuk dan merokok bersama warga, menjadi media paling baik untuk melihat secara dalam. KKN menjadi lebih berguna—tidak hanya berburu nilai A saja—pun kementrian menjadi bekerja dan merumuskan pola apa yang terbaik, di setiap daerah yang berbeda.

Saya setuju dengan pendapat Samuel Bowles dan Herbert Gintis, dalam bukunya Schooling in Capitalist America, melalui tulisan Ben Laksana dan Rara Sekar, “bagaimana pengaturan internal sebuah institusi pendidikan disesuaikan dengan pengaturan aspek ketenagakerjaan, terutama dalam perihal struktur institusinya, norma, maupun nilai-nilai yang dirangkul institusi pendidikan tersebut”. Maka, latar belakang ekonomi para peserta didik di dalam institusi pendidikannya menjadi berpengaruh.

Bercermin kepada daerah yang lebih maju, itu sebuah kesalahan yang fatal. Mereka—mahasiswa KKN ini—menyadari satu hal, bahwa di tempat mereka, pendidikan individual seutuhnya berorientasi kepada hal teknis seperti datang tepat waktu, ujian dengan mulus, dan remidi jika gagal. Daerah lokasi KKN mereka berbeda. Ada faktor lain yang masuk, entah sosio-budaya, atau hal yang luar biasa seperti ketika badai gunung, maka sekolah diliburkan.

Mereka garuk-garuk kepala lantaran program kerja tidak berjalan mulus. Para masyarakat setempat juga tidak bisa melakukan banyak hal lantaran memaksakan masuk sekolah ketika hujan, itu sama saja dengan bunuh diri yang terselubung. Kondisi tanah, bangunan sekolah, banjir yang bisa saja tiba-tiba menerjang dari gunung, menjadi faktor yang luput dari perhatian para mahasiswa tersebut.

Pilihan setelah lulus sekolah dasar di daerah mereka hanya ada tiga: melanjutkan pendidikan, pesantren, atau menikah. Kebanyakan dari mereka dipaksa menikah dengan tujuan meringankan beban dan tanggungan, meskipun kondisi yang terjadi malah sebaliknya; masalah kian banyak dan tak terselesaikan. Masalah yang hadir pun menjadi kompleks, yakni (1) kesehatan mental hingga tubuh mereka—bagi perempuan tentu saja rahim—yang rentan. (2) Keluarga yang belum sehat secara materiil. Apakah mereka mendapat pelajaran mengenai ini di sekolah? Oh, tidak. Mereka mengikuti pola penyeragaman pendidikan kota—tidak hanya seragam sekolah yang “seragam”—bahkan pikiran sekalipun diseragamkan!

TERKAIT:  Susahnya Menjadi Perempuan di Indonesia

Kadang saya menganggap, tidak bisa membaca itu tidak cukup untuk mengatakan seorang individu sebagai pihak yang bodoh. Sebaliknya, orang-orang yang terus menekan pola yang relatif sama antara semua daerah—atau membagi menjadi 3 zona yang luar biasa besar—itu bisa dikatakan sebagai biang keladi kebodohan yang selama ini terjadi.

Makan malam para mahasiswa KKN itu cukup riuh kala mereka mengerti apa yang diinginkan oleh masyarakat sekitar. Arak masih berputar pada porosnya. Tembakau yang tadinya tiga sak, kini menjadi setengah lantaran mulut-mulut itu, mulut yang biasanya membicarakan harga cengkeh di pasar dan membicarakan Feuerbach di ruang kelas, dalam kasus menghisap lintingan, sama saja banternya. Sama seperti pendidikan, ada yang alangkah baiknya dikaji secara reflektif dan sistematis alih-alih dialektis.

Pendidikan Indonesia tak pernah ke mana-mana lantaran yang beranjak hanya tempat itu-itu saja. Masa depan sebagian orang, hanya bermuara kepada urusan pasar dan domestik belaka. Padahal mencerdaskan kehidupan bangsa adalah salah satu tujuan dari negara. Dan negara ini, bukan hanya Jawa dan sekitarnya saja, kan?

Gusti Aditya

Pernah makan belut

View all posts by Gusti Aditya →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *