Terpaksa Merindukan Sukarno

susahtidur.net – ilustrasi dari getty images

susahtidur.net – Seorang kawan awalnya tertawa di sebuah angkringan. Lantas beberapa saat ia kemudian tersedu sedan. Katanya, ia habis membaca buku Nasionalisme, Islamisme, Marxisme karya Sukarno. Ada dua tanda tanya besar yang bergejolak di pikiran saya. (1) Kawan saya ini tidaklah terlalu simpati—atau tidak menyukai—sosok sentral salah satu pendiri bangsa, Sukarno. (2) Buku yang ia baca dan sebutkan tadi, tidak mengandung barang satu titik kesedihan di dalamnya. Tidak ada satu hal pun yang memercikan api amarah. Bahkan tidak ada satu noda yang menghantarkan kepada impuls-impuls air mata.

Lantas apa yang membuatnya tiba-tiba menangis? Jawabannya sangat rasional, ia rindu sosok presiden yang pintar. Melalui buku tersebut, kawan saya heran bukan kepalang. Ia menilai bahwa ada sosok presiden yang menuangkan gagasannya dengan begitu elegan. Ada presiden yang bahkan membuat sebuah buku berisikan gagasan walau banyak celanya.

Kawan saya kembali melanjutkan apa yang sedang ia pikirkan. Dituruti bersama bakwan yang ia kunyah dan es teh yang menyatu padu kepada hampanya ruang kosong bernama kerongkongan. Katanya, tak ada presiden yang menyamai kepintaran Sukarno. Ia tak bilang bahwa Presiden Habibie tidak pintar. Namun dalam takaran tertentu, Sukarno ada di titik elegannya sebagai kepala negara. Faktor pembandingnya sungguh keterlaluan, yakni dengan presiden yang sekarang, Joko Widodo.

Es tehnya sudah menyentuh dasar. Hanya bongkahan es batu yang tersisa dan terpontang-panting ke kanan dan ke kiri lantaran ia coba sedot dan emut-emut sampai tuntas. Di tengah-tengah kegiatannya itu, ia berkata bahwa presiden belakangan ini hanya mengedepankan persona saja—alih-alih menyebut sebagai pencitraan—tidak dengan kepintaran. Baik secara retoris maupun akademis.

Presiden Pintar

Sebelum membahas perbandingan presiden pintar dan presiden bodoh—tanpa menunjuk salah satu pihak—terlebih dulu saya akan membahas mengapa ada manusia di jaman ini, di jaman serba retoris, ada yang tidak menaruh simpati kepada sosok Bung Karno. Sangat tidak lazim menengok di jaman ini, romantisasi pendiri bangsa sangat gencar. Namun tetap saja, Sukarno bukan malaikat. Ia juga bukan seorang dewa yang menggerakan bangsa dengan sempurna.

TERKAIT:  Adat yang Mengikis Agama

Tidak bisa diganggu gugat bahwa Sukarno seorang jenius bangsa. Buku-buku sejarah anak SD, sudah lebih ahli membicarakan hal ini secara paripurna. Kuliah-kuliah Sukarno tentang Pancasila juga memberikan gambaran, presiden ini sungguh memiliki intelektual yang luar biasa. Namun pertanyaannya tetap sama, apakah ada “tendensi khusus” dari Sukarno melalui pikiran-pikirannya? Jika boleh berpendapat, ya, tentu saja ada.

Menyebut seutuhnya Sukarno baik, menurut saya adalah hal yang sudah cacat sejak dalam pikiran. Sukarno, di mata beberapa orang yang tidak terjebak dalam simpati, menyebutnya sebagai sosok yang biasa saja. Bahkan saat pasca-merdeka, pemerintahannya yang otoriter, mengubah arah angin ekonomi Indonesia, nasionalisme ganyang mengganyang, dan “membantu” mengibarkan panji Partai Komunis Indonesia menjadi bahan bakar sempurna untuk para manusia yang tidak simpati kepadanya.

Terlebih Sukarno pernah menyeragamkan keragaman politik pasca-merdeka. Partai Sosialis Indonesia (PSI) dan Masyumi adalah “korban” penyeragaman secara tiba-tiba ini. Tendensinya adalah  beberapa kader mereka terlibat pada PRRI-Permesta. Namun memberangus partai secara tuntas, itu merupakan tindakan yang sungguh menyebalkan, bukan? Lantas, apa bedanya Sukarno dan PSI-Masyumi “penyebab” PRRI-Permesta dengan Suharto dan PKI “penyebab” Gestapu? Sama-sama semu.

Kubu kanan-konservatif seakan tidak diberikan ruang gerak. Sukarno menghegemoni politik Indonesia dengan pemikiran-pemikirannya. Dalam riuh kunyahan sate keong, ia bertanya secara kontemplatif. Ia terjebak dalam kebingungan yang menderu. Sukarno memang tak sebaik dalam buku pelajaran sejarah SMA, namun menyandingkan dengan presiden setelahnya, Suharto, itu yang membuat sejarah memakluminya.

Sejarah seakan melupakan perangai buruk Sukarno. Setelah puluhan tahun ia wafat, pikiran dan buku-bukunya terus berputar di rak-rak toko buku bagian sejarah, sosial, politik, hingga tokoh. Selain deru Suharto yang kurang seksi di mata anak muda masa kini, presiden pasca Gus Dur pun tak ada yang menggugah libido intelektualitas mereka secara komprehensif.

TERKAIT:  Hutang Negara pada Eksistensi Transgender

Ayolah, pikiran yang baik, mengendap selamanya. Tulisan yang baik, adalah keabadian.

Presiden Bodoh

Mau bagaimana pun, yang kedua tak akan bisa mencapai pencapaian setinggi yang pertama. Itu adalah sebuah lingkaran setan yang membebani nomor dua, dalam bidang apapun. Apa lagi bagi Suharto yang masygul. Namun sangat disayangkan, sub-judul “Presiden Bodoh” itu bukan diperuntukkan untuknya. Bukan juga untuk Habibie, Gusdur, Megawati, Bambang Yudhoyono, hingga teranyar adalah Jokowi. Presiden bodoh adalah kita, para penerus generasi bangsa, semisal terus menjalankan dan melakukan kerumpangan yang dilakukan oleh Megawati hingga Jokowi.

Presiden-presiden yang tak memiliki landasan pemikiran yang menggugah. Presiden yang hanya mencetak buku berupa perjalanan karier mereka dari bawah hingga atas. Sebuah penjualan kisah yang tak berguna—atau berguna setidaknya bagi anak-anak yang baru akil baligh. Anak-anak yang baru bisa mimpi basah dan muncul bulu kemaluannya. Buku-buku yang hanya akan mengendap selama beberapa saat di toko buku. Dijadikan sebuah film kolosal yang bahkan tidak lebih menarik dari film horor kontemporer negeri ini.

Pasca Gus Dur, saya pribadi merasa kehilangan sosok presiden yang memiliki gagasan berbangsa dan bernegara. Gagasan yang jelas untuk setidaknya menjawab pertanyaan mengapa ia bisa dipilih dan mengapa rakyat harus memilih. Suharto dengan gagasan pembangunan, Habibie dengan hal-hal yang saya rasa tidak perlu dibahas lagi. Pasca mereka, saya hanya melihat teriakan Megawati saat orasi yang tanpa gairah, nyanyian sumbang dan tembang usang Bambang Yudhoyono, dan prasmanan citra dari sosok Jokowi.

Tiga yang saya sebutkan terakhir—sekali lagi—tidak masuk dalam kategori “Presiden Bodoh”. Kitalah presiden bodohnya. Bodoh jika kita terus melakukan cara-cara mereka. Tidak menelurkan pikiran-pikiran yang akan menyelamatkan bangsa. Langit memang tidak retak, bumi pun sedang tenang, gelumbang tidak sedang pasang, namun tikus-tikus istana hilir mudik sembari tersenyum kala sosok sentral negara, tidak punya pikiran tenang yang stagnan.

TERKAIT:  Agama (atau) Ketakutan

Tidak ada ruang publik untuk berpikir. Tidak ada sebuah perwakilan yang benar-benar mewakilkan para rakyatnya. Dua hal sentral intelektual itu, jika perlahan musnah, masihkah bisa disebut sebuah negara? Bahkan kondisi negara alamiah bisa dikatakan lebih beradab daripada suasana hampa tanpa ruang seperti ini. Jika iklim akademik para pemimpin bangsa stagnan seperti ini, barangkali Satrio Piningit adalah satu-satunya ramalan Jangka Jayabaya yang meleset.

Masa ini, kita sarapan persona, bukan pemikiran. Persona baik, kerakyatan, ramah, lembut, seakan lupa bahwa salah satu tujuan dibentuknya negara ini adalah “pintar”. Rakyat seakan dijebak dengan persona-persona abu-abu itu. Kontestasi politik mengacu kepada siapa yang paling berwibawa, bukan berwawasan. Tokoh yang mencuat ke atas, hanya itu-itu saja. Kita seakan  tidak diberi pilihan. Pola seperti ini berlangsung sejak dalam jajaran partai.

“Alasan itu mengapa saya yang kurang simpati dengan Bung Besar, menjadi menangis ketika membaca buku pemikirannya ini,” katanya, kawan saya, sambil ngemut es batu yang sudah berkubang di mulutnya. Sama seperti kubangan rasa percaya yang perlahan terus meleleh dan hilang kemudian musnah.

mau membaca artikel seperti ini setiap pagi langsung di emailmu? Yuk langganan newsletter susahtidurmedia.

Gusti Aditya

Pernah makan belut

View all posts by Gusti Aditya →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *