4 Alasan Kenapa Kita Nggak Wajib Mendengarkan Kata-kata Motivator

susahtidur.net – motivator

susahtidur.net – Sampai dengan saat ini, masih menjadi misteri, apa yang membuat para motivator hampir selalu mengandalkan kata “Semangat pagi” saat menyapa para peserta. Kenapa kata “Selamat” harus diganti atau dipelesetkan menjadi “Semangat”.

Sebagian orang berpikir bahwa ini hanya sugesti, biar lebih semangat dalam menjalani hari. Sebagian lainnya menganggap, hal tersebut sia-sia. Malas, ya, malas aja. Nggak perlu, lah, pura-pura semangat. Masa sama perasaan sendiri aja nggak boleh jujur, sih? Ingat, antara selalu menjadi positif dan toxic itu beda-beda tipis, lho. Jadi, sewajarnya aja gitu.

Jujur saja, setiap saya mengikuti kelas pelatihan atau seminar, lalu MC atau motivator mulai melontarkan ucapan, “Semangat pagi!” dan para peserta diminta (atau lebih tepatnya dipaksa) merespon dengan mengucap, “Semangat, semangat, semangat!” saya selalu ogah mengikuti dan berpikir bahwa, selain template, jujur saja, hal tersebut sangat membosankan dan so yesterday.

Soal beragam petuah yang disampaikan oleh para motivator, entah secara langsung melalui kelas training juga seminar atau dari yang saya tonton via televisi, rasanya membosankan dan… sorry to say, agak nganu gimana gitu. Hehehe.

Sebagian orang mungkin bisa dengan sangat mudah larut dalam kalimat atau kutipan yang dianggap sebagai kata mutiara. Lantaran dianggap memotivasi dan bisa bikin semangat. Namun, bagi saya, kata mutiara itu selalu terdengar sangat wagu dan “Iyeeewh” sekali.

Saya punya alasan kenapa bisa seperti itu. Alasan yang saya utarakan bisa sampeyan terima, bahkan bisa jadi kita sependapat. Namun, kalaupun sampeyan punya sudut pandang lain, tentu saja itu bagian dari hak sampeyan masing-masing.

Alasan kenapa kata-kata motivator tidak wajib didengarkan #1 sebaik-baiknya motivator adalah diri sendiri

TERKAIT:  Beragam Manfaat Lucu yang Bisa Didapat Setelah Menghafal Fungsi DPR

Saya selalu yakin bahwa, motivator terbaik adalah diri kita sendiri. Tidak bisa dimungkiri, ada kalanya saat berhadapan dengan beberapa atau banyak persoalan dalam hidup, seseorang sering kali memerlukan bantuan dari orang lain. Minimal teman cerita yang baik, yang bersedia mendengar segala keluh kesah ketika ada masalah.

Namun, nggak jarang dari sharing atau brainstorming yang dilakukan, kita menemukan insight untuk menyelesaikan segala persoalan yang dihadapi. Semacam ilham yang ujug-ujug datang sendiri.

Alasan kenapa kata-kata motivator tidak wajib didengarkan #2 hampir semua kata-katanya bersifat retoris

Apa yang disampaikan oleh para motivator, bagi saya terdengar sangat retoris. Bahkan, bisa jadi kita mengetahui hal tersebut lebih dulu—atau bahkan pernah melakukannya saat menghadapi masalah—sebelum para motivator memberi tahu hal yang serupa.

Dibanding motivator, bagi saya, akan jauh lebih menyenangkan berbagi cerita dengan teman nongkrong yang asyik, yang punya berbagai macam latar belakang. Meski kadang-kadang sifat dari banyak teman nongkrong itu absurd dan menyebalkan, tapi harus diakui bahwa, tidak sedikit pula yang bisa diandalkan ketika kita sedang dihadapkan dengan suatu persoalan.

Alasan kenapa kata-kata motivator tidak wajib didengarkan #3 lebih baik dengarkan apa kata orang tua 

Sering kali tidak terpikirkan bahwa, orang tua kita adalah sebaik-baiknya teman curhat dan berbagi cerita. Selain sudah mengenal kita sejak dilahirkan, para orang tua juga yang merawat sekaligus mengajarkan kita banyak hal. Tak jarang, para orang tua tidak segan dalam memberikan bantuan kepada anaknya dengan berbagai cara. Mulai dari bersimpati, melalui doa yang mujarab, sampai dengan berempati, sudah pasti dilakukan. Asli. Jangan remehkan doa orang tua.

Tapi, jika kalian punya orang tua yang berprofesi sebagi motivator, barangkali doanya lebih-lebih dari mujarab. Hehehe. Barangkali, lho, ya.

TERKAIT:  Sungguh Bodoh Orang yang Menaruh Sisa Makanan Resepsi Sembarangan

Alasan kenapa kata-kata motivator tidak wajib didengarkan #4 sering kali menjejali hal positif, padahal hidup butuh keseimbangan

Hidup itu ibarat Yin dan Yang. Harus seimbang. Nggak selamanya positif, bukan berarti terpuruk dalam situasi yang negatif. Percayalah, selalu dijejali dengan hal positif pun nggak baik. Malah berpotensi toxic. Seakan hal yang negatif itu dari awal harus dan wajib dihindari. Padahal, jika dilihat dari sudut pandang lain, hal negatif sekalipun bisa dijadikan proses pembelajaran dan punya esensi sebagai penyeimbang kehidupan.

Pada akhirnya, rasanya nggak berlebihan jika saya menganggap bahwa, sebetulnya kita itu nggak butuh-butuh banget jasa maupun kata-kata dari motivator. Yang kita semua butuhkan itu, lebih kepada harta dan teman berbagi cerita aja. Eh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *