Kenangan Nyanyian Tentara dan Mahasiswa Tertembak di Kampus Atma Jaya Jakarta November 1998

susahtidur.net – penembakan mahasiswa

susahtidur.net – “Kejadian November 1998 lebih berdarah daripada pelengseran Harto.” Kata itu terucap dari bibir yang kabur oleh asap rokok. Bibir milik seseorang yang menjadi saksi dari tragedi berdarah di depan Kampus Atma Jaya Jakarta, 22 tahun silam.

Sang penutur adalah Teguh Sarwono. Hari ini, blio adalah guru agama Katolik di salah satu sekolah negeri di Jogja. Namun, 22 tahun silam Mas Teguh menjadi salah satu dari mereka yang memperjuangkan reformasi.

Mas Teguh menyampaikan, pada tahun 1998 blio adalah anggota komisi kepemudaan (komkep) Keuskupan Agung Jakarta. Pekerjaan ini menyebabkan blio dekat dengan muda-mudi masa itu, terutama yang aktif dalam upaya pelengseran Soeharto.

Salah satu kelompok yang Mas Teguh bimbing adalah Civitas. Di dalamnya terdapat 8 orang yang aktif dalam berbagai kegiatan kepemudaan. Anggota kelompok ini terdiri dari mahasiswa lintas kampus yang aktif di kelompok basis perlawanan mereka sendiri. Mas Teguh menyebutkan beberapa nama, “Dewi, Ida…..”

“Kok hanya ingat yang perempuan ya?” Keluh Mas Teguh yang bisa saya maklumi.

Dari kelompok Civitas ini, muncul greget untuk mendukung demonstrasi penolakan Sidang Istimewa bulan November 1998. Dari keputusan bersama, 8 orang bersama Mas Teguh sepakat untuk membantu urusan logistik, medis, dan dokumentasi. “Yang paling penting adalah media (dokumentasi),” tutur blio. Dokumentasi ini terbit dengan nama Media Rakyat.

Kelompok ini sepakat untuk turun aksi di Kampus Atma Jaya Jakarta, tidak jauh dari Jembatan Semanggi. “Masih gelap, subuh, jam 4 kurang lah. Sebelum adzan Subuh kami sudah di Atma Jaya.” Mas Teguh mengingat, mereka hadir saat melakukan persiapan. Dan mayoritas massa di area tersebut adalah mahasiswa Atma Jaya.

Hingga siang hari, dilakukan orasi di dalam kampus. “Pada waktu itu, pagar masih tertutup. Memang ada rencana untuk menuju gedung DPR bersama kelompok mahasiswa lain. Namun tertahan oleh barikade polisi,” tutur Mas Teguh. Mas Teguh masih ingat persis kondisi di depan gerbang kampus Atma Jaya Jakarta.

Sembari menyesap rokoknya, Mas Teguh merekonstruksi barikade polisi ini. Di depan gerbang, polisi telah bersiaga dengan membawa perisai anti huru hara serta pentungan rotan. Blio lupa, apakah polisi yang bersiaga tersebut berjumlah satu kompi atau satu peleton. Bisa dimaklumi, karena tidak mungkin Mas Teguh terlalu gabut untuk mengabsen polisi tersebut.

TERKAIT:  Pontang-panting Tukang Cukur di Bantul Saat Pandemi

Tapi, yang lebih “wah” bagi Mas Teguh adalah yang berbaris di belakang polisi. Ada truk, water cannon, “dan di belakangnya lagi ada panzer.” Mas Teguh mengatakan bahwa panzer itu milik Batalyon 403 Siliwangi. Saya bertanya apakah panzer itu bukan milik Brimob. “(Yang bersama panzer tersebut) adalah tentara dari batalyon Siliwangi,” tegas Mas Teguh.

Karena membawa kartu pers, kamera, dan alat rekam suara, Mas Teguh bisa leluasa mendekati barikade. Ketika mendekat, banyak tentara yang meneriaki untuk mengambil foto mereka. Beberapa foto tentara yang ingin “ngehits” ini masih Mas Teguh simpan dalam album sederhana ala jaman dulu.

Kisah berlanjut. Sore hari sebelum Maghrib, massa aksi (sudah bercampur dengan massa dari masyarakat dan kampus lain) makin riuh sembari bernyanyi bersama. Yang paling banyak dinyanyikan adalah lagu-lagu milik Iwan Fals. Menurut Mas Teguh, suasana makin mencekam saat malam tiba.

Saat Maghrib, massa makin merangsek untuk menuju gedung DPR. Namun massa tidak bisa keluar lebih jauh dari depan gerbang Atma Jaya Jakarta. “Entah karena negosiasi yang gagal atau apa, terjadi chaos di depan kampus,” tutur Mas Teguh.

Mas Teguh mengenang kejadian tersebut seperti peperangan. Tentara menembaki demonstran, bahkan mengangkat senjata di atas kepala demi keleluasaan. 

Yang dilakukan Mas Teguh tidak banyak. Blio hanya bisa memandangi kejadian sembari terus menyalakan alat perekam suara. Mas Teguh mengaku, pada saat itu blio gentar untuk terlibat dalam kerusuhan. Beberapa kali Mas Teguh terdiam saat mengisahkan tragedi ini. Namun Mas Teguh sangat ingat, kejadian sejak Maghrib ini tidak terhenti hingga sekitar pukul 9.

“Entah karena kehabisan amunisi atau apa, pukul 9 tentara mundur dari lokasi (depan Kampus Atma Jaya Jakarta),” tutur Mas Teguh. Yang tersisa di lokasi kejadian hanyalah polisi anti huru hara. Polisi ini hanya bisa duduk di trotoar.

TERKAIT:  Solo – Jogja di dalam Sebuah Lanskap Gerbong KRL

“(Polisi di lokasi) dikepung oleh para mahasiswa. Aku sempat melihat ada yang melempar molotov ke arah polisi, (tapi) meleset,” ujar Mas Teguh. Blio tidak dapat memastikan siapa pelempar ini.

Pengepungan polisi ini berlangsung berjam-jam. Namun pengepungan ini bubar saat tengah malam. Pada tengah malam, tentara kembali dengan kesiapan penuh. “Seperti siap perang,” kata Mas Teguh mengingat kehadiran tentara ini.

Yang terjadi tengah malam tersebut lebih parah daripada waktu siang. Tentara menembaki dengan membabi buta. Mas Teguh hanya mampu bertahan di balik tembok pagar Kampus Atma Jaya Jakarta. Di luar pagar, banyak massa aksi jatuh tertembak.

Mas Teguh tidak yakin, peluru yang ditembakkan adalah peluru karet atau peluru tajam. Mas Teguh juga menduka ada kehadiran sniper, karena melihat cahaya laser dari gedung di depan Kampus Atma Jaya Jakarta. Yang jelas, banyak korban berjatuhan yang dievakuasi masuk ke dalam Kampus Atma Jaya Jakarta. Kondisi tengah malam itu sangat mengerikan di mata Mas Teguh.

Mahasiswa tetap melakukan perlawanan. Buktinya, menurut Mas Teguh banyak motor yang bensinnya habis untuk bom molotov. Mas Teguh tidak dapat banyak membantu dan masih bertahan di balik tembok pagar kampus. Setiap lemparan gas air mata, massa aksi mundur. Namun, mahasiswa tetap mencoba melawan dengan lemparan batu.

Salah satu momen yang membekas di benak blio adalah aksi heroik Mas Prapto. “Mas Prapto lari dan menggotong salah satu korban.” Mas Teguh mengingat usaha Mas Prapto yang susah payah menggotong dan menyeret mahasiswi korban tersebut. Mas Teguh hanya bisa bertahan.

Pertikaian yang digambarkan Mas Teguh seperti perang ini berlanjut hingga hampir subuh. Saat massa aksi sudah terpukul masuk kampus, terjadi sebuah peristiwa yang menurut Mas Teguh sangat keren. Keren dan memuakkan.

“Setelah mahasiswa mundur, tentara bernyanyi seperti telah memenangkan perang,” kenang Mas Teguh sembari tertawa sinis. Setelah tembakan berhenti, Mas Teguh berani keluar dan mendokumentasikan peristiwa. Dari ceceran darah sampai proses evakuasi korban. 

TERKAIT:  Terbawa Suasana Romantis, Demo Aliansi Rakyat Bergerak di Jogja Berjalan Damai

Saat itulah Mas Teguh mendengar tentara bernyanyi. Salah satu lirik yang diingat Mas Teguh adalah, “hari ini kita menang,” yang blio nyanyikan dengan merdu di depan saya. Mas Teguh menangkap, apa yang ditunjukkan tentara adalah kebanggaan karena telah melaksanakan tugas.

Mas Teguh dan kawan-kawan bertahan hingga hari kedua. Pada pagi hingga siang harinya massa aksi kembali konsolidasi dan “beres-beres” untuk aksi berikutnya. Massa aksi berkeinginan untuk melanjutkan aksi, dan pada saat itu Marinir. Kehadiran marinir ini menggantikan tentara sebelumnya yang melakukan penyerangan.

Perbedaannya, marinir datang dengan tangan kosong. Marinir ini menghampiri dan memberi dukungan kepada massa aksi, bahkan menyalami para mahasiswa. Mas Teguh melihat, kehadiran marinir ini menetralkan suasana. Dan Mas Teguh pulang.

Ketika saya bertanya apakah kenangan ini menjadi trauma, Mas Teguh tertawa dan menyatakan tidak ada trauma dari kejadian ini. Blio memandang bahwa kejadian yang dialami ini adalah kisah herois dan tidak meninggalkan ketakutan. Mas Teguh malah kecewa karena waktu itu kurang berani, seperti Mas Prapto.

Mas Teguh merasa beruntung karena memiliki sebuah senjata, yang akhirnya ditunjukkan pada saya. Senjata tersebut adalah alat rekam suara. “Tanpa alat ini, aku tidak mungkin bertahan bahkan mendekati tentara,” imbuh Mas Teguh.

Namun, Mas Teguh memiliki sudut pandang baru setelah tragedi ini. Hingga saat ini Mas Teguh tidak mengizinkan ketiga anak lelakinya untuk menjadi aparat. Baik polisi atau tentara. Menyaksikan kekejaman dan kepongahan tentara masa itu menjadi luka abadi bagi blio.

Berbicara tentang anak, diskusi kami harus diakhiri. Mas Teguh harus menemani anak terkecilnya tidur. Maklum, saya cukup kurang ajar untuk berkunjung sampai pukul 2 dini hari.

Dan entah sebuah kebetulan, akhir diskusi kami tepat 22 tahun setelah Mas Teguh bersiap berangkat ke Kampus Atma Jaya Jakarta. Seperti berulang, Mas Teguh berhenti berdiskusi dan melanjutkan perjuangannya. Jika dulu di depan tentara sisa Orde Baru, kini di depan keluarga dan penerusnya.

Den Baguse Prab

Orang yang setia untuk mempertanyakan segala hal. Membenci banyak hal dan orang dalam kebencian yang setara dan egaliter.

View all posts by Den Baguse Prab →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *