5 Karakter Atasan Menyebalkan yang Biasa Ditemui di Tempat Kerja

susahtidur.net – atasan nyebelin

susahtidur.net – Mau di kantor mana pun, di posisi apa pun, selama kita masih ada di level staf, pasti akan memiliki atasan. Team Leader, Supervisor, Manager, dan masih banyak lagi posisi dengan nama sekaligus level yang beragam. Terlepas dari fungsi jabatan, perbedaan, sekaligus perdebatan istilah antara bos dan pemimpin, ada hal menarik lain yang lebih seru untuk dighibahkan, yaitu ragam karakter atasan menyebalkan yang biasa ditemui di tempat kerja.

Para pekerja pasti menyadari bahwa, ada atasan yang sekalinya baik, baik banget. Sekalinya nyebelin, ya, nyebelin banget. Nah, atasan yang nyebelin ini biasanya diam-diam jadi bahan ghibah dan sering kali di-impersonate oleh rekan kerja lainnya. Dan entah kenapa, para atasan yang punya karakter menyebalkan ini kok nggak sadar-sadar juga gitu.

Mau ditegur secara langsung, tapi ya beliau atasan. Mau didiemin nanti malah tuman dan kebiasaan.

Berikut lima atasan dengan karakter super-duper menyebalkan yang biasa ditemui di tempat kerja.

Karakter atasan menyebalkan #1 main game sampai mengabaikan pekerjaan

Berdasarkan pengalaman pribadi dan cerita dari teman-teman yang bekerja di pelbagai perusahaan, atasan dengan karakter seperti ini memang sulit dimungkiri ada di banyak tempat kerja. Mereka—para atasan seperti ini—seakan punya template yang sama. Main game sambil ngopi dan ngudud. Game yang dimainkan pun nggak jauh dari PUBG atau Mobile Legend. Kalau lagi ngajak main, kode-nya pun selalu sama, “Mabar, kuy!”

Serius. Mau tergolong Bapak-bapak, kek. Kelompok usia dewasa, kek. Ajakannya sama aja. Kayak gitu juga.

Okelah, main game itu jadi hak setiap orang. Tapi, nggak mengabaikan tugas atau melakukan evaluasi terhadap tim juga, dong. Pas dicari dan sedang dibutuhkan, malah nggak ada. Ini sih levelnya udah gawat. Tuman!

TERKAIT:  PMII Uwin Jogja yang Kebaikannya Sering Disalahpahami Mahasiswa

Karakter atasan menyebalkan #2 hobinya cari muka, tapi minim kerja

Percaya sama saya. Karakter atasan yang punya skill mumpuni cari muka ke atasan lainnya, nggak jarang bisanya hanya mengorek kesalahan tim dan membanggakan dirinya sendiri seakan-akan sudah melakukan banyak hal dan jadi pekerja yang paling capek. Padahal, bisanya main game, push rank, atau mabar.

Pas ditanya soal report biasanya paling gesit. Gesit nanya ke bawahannya. Gesit juga dalam kasih feedback seakan-akan ia yang paling ribet, pusing, dan paling banyak kerjanya. Padahal… ckckck.

Mukamu hilang, Bos? Atau lupa taruhnya di mana? Kok cari muka terus. Eh.

Karakter atasan menyebalkan #3 perfeksionis dan sangat detail

Segala sesuatu yang berlebihan memang selalu menghasilkan output yang kurang baik. Termasuk terlalu berorientasi kepada kesempurnaan. Kita biasa mengenalnya dengan istilah perfeksionis.

Atasan yang perfeksionis, pasti sudah satu paket dengan pemeriksaan yang teramat detail. Kalau perfeksionisnya nggak bikin susah orang lain dan jadi bahan evaluasi, sih, ya bagus. Bisa jadi bahan belajar bersama. Yang merepotkan itu saat berharap semuanya sempurna dan sesuai rencana. Sekalinya nggak sesuai dengan yang diharapkan, bawahannya malah dicerca.

Karakter atasan menyebalkan #4 nggak fair dalam merespon segala situasi

Saya mau meminjam salah satu penggalan lirik lagu karya Pandji Pragiwaksono untuk menggambarkan poin ini, “Jelek dicerca, bagus nggak jadi bahan cerita.”

Giliran bawahannya bikin salah, dicecar sampai dimaki-maki. Pas kerjaannya bagus bahkan melalui target, ealah, malah nggak dipuji.

FYI aja, nih. Karyawan juga butuh penghargaan atas jerih payah yang sudah dilakukan. Nggak melulu soal uang atau bonus yang menjulang. Minimal, kasih pujian.

Karakter atasan menyebalkan #5 kurang koordinasi dengan tim

TERKAIT:  Buat Pengendara, Jangan Ngebut Pas Lewat Genangan Air Dong!

Dalam suatu tim, fondasi awal agar bisa menjadi regu yang solid adalah komunikasi dan koordinasi. Jika dua hal ini diabaikan, percaya sama saya, semuanya akan sirna dan sia-sia. Nggak akan ada yang namanya tim.

Hal ini harus diperhatikan oleh setiap atasan, mengingat kekompakan tim berawal dari komunikasi dan koordinasi. Dalam prosesnya, atasan yang seperti ini biasanya akan panikan saat dihadapkan dengan suatu permasalahan. Kelimpungan dan pusing sendiri gitu. Nah, biar nggak jadi seperti itu, mohon sekali kerjasamanya, Pak, Bu.

Satu yang pasti, selain untuk menyalurkan keresahan di ruang lingkup pekerjaan, tujuan tulisan ini dibuat adalah agar selanjutnya bisa menjadi bahan evaluasi bersama, antara para atasan di tempat kerja dan bawahan. Mau bagaimana pun, karyawan tetap punya hak untuk bersuara demi kenyamanan dalam bekerja, kan? 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *