Putra Mahkota vs Wong Cilik: Sebuah Potret Lucu Pilkada di Negara Fiktif

susahtidur.net – pilkada lucu

susahtidur.net – Bagi penganut agama-agama samawi, kisah pertarungan epik David vs Goliath pasti sudah menjadi pengetahuan umum yang hampir semua orang paham, atau setidaknya pernah membaca. Meskipun mempunyai penyebutan nama yang berbeda-beda tiap agama—seperti Daud di agama Islam—kisah ini secara keseluruhan tidak ada yang berbeda. David yang seorang manusia biasa dengan kekuatan yang juga biasa-biasa saja, harus berhadapan dengan Goliath, seorang raksasa yang fisik dan kekuatannya lebih besar dari manusia biasa. 

Saking epiknya, pertarungan ini sampai menjadi perumpamaan wajib setiap pertarungan yang tidak seimbang antara yang kuat melawan yang lemah. Mau itu di ranah olahraga atau politik sekalipun, pengibaratan pertarungan antara yang lemah dan yang kuat selalu diibaratkan dengan pertarungan David vs Goliath.

Nah, bicara soal politik, ada sebuah pertarungan yang mungkin bisa dianggap sebagai David vs Goliath terbaru di tahun ini. Pertarungan ini melibatkan putra mahkota Presiden, yang katanya mau membangun sebuah dinasti politik. Mumpung isunya lagi sedang naik, kita bicarakan saja di sini.

Beberapa waktu ke depan, akan digelar pemilihan kepala daerah secara serentak. Beberapa kota dan wilayah yang terlibat sudah mulai bersiap, meskipun pandemi masih juga belum reda. Ada salah satu kota yang pemilihan kepala daerahnya bisa diibaratkan seperti pertarungan David vs Goliath. Pertarungan ini melibatkan putra mahkota Presiden yang didukung banyak partai, termasuk partai di mana Presiden bernaung, yang juga partai terbesar di negeri tersebut, melawan rakyat biasa yang maju melalui jalur independen.

Tetapi sebelum jauh ke mana-mana, perlu saya ingatkan bahwa kejadian dalam tulisan ini hanya ada di negara fiktif, tidak terjadi di Indonesia. Jelas saja, tidak mungkin terjadi di Indonesia, wong iklim demokrasi di Indonesia sangat baik, tidak seperti iklim demokrasi dengan embel-embel syarat dan ketentuan berlaku di negara fiktif yang saya bahas ini.

TERKAIT:  Mempertuhankan Demokrasi

Pertarungan ini patut disorot karena selain punya potensi membangun dinasti politik, juga seperti pertarungan yang dipaksakan. Pertama, adalah pencalonan pura mahkota Presiden yang terkesan dipaksakan. Sebenarnya, ada bakal calon lain yang lebih pantas untuk maju ketimbang putra mahkota Presiden ini. Ya wajar, karena putra mahkota Presiden ini bisa dibilang tidak punya pengalaman di politik (dan katanya sih dulu tidak mau terjun ke ranah politik). Mungkin hanya karena statusnya sebagai putra mahkota Presiden, maka jalan mulus pencalonan bisa diraihnya dan menyingkirkan bakal calon lainnya, yang mungkin lebih kompeten dan berpengalaman. Kedua, adalah adanya spekulasi bahwa majunya calon independen ini hanya sebagai “calon boneka” saja, agar putra mahkota Presiden tidak melawan kotak kosong. Namun, itu hanya spekulasi yang kebenarannya patut dipertanyakan. Jadi, abaikan saja sebentar.

Setelah pencalonan yang sekaan dipaksakan, pada debat calon pimpinan daerah kemarin, tidak ada hal-hal konkret yang diutarakan. Putra mahkota Presiden hanya membahas masalah-masalah permukaan saja, seperti membangun ini, membangun itu, meningkatkan ini, meningkatkan itu. Pertanyaan mengenai anak muda, lahan, dan kaum mayoritas dijawab dengan jawaban yang normatif. Tidak ada program konkret yang jadi penyelesaian masalah. Tidak hanya di kubu putra mahkota Presiden, di kubu independen pun sama tidak ada yang konkret. Ditanya masalah pendapatan daerah, lahan dan pemukiman, jawabannya pun sama normatifnya dengan kubu lawan.

Miskinnya solusi konkret dan pendalaman materi masing-masing pasangan menjadikan debat menjadi pertunjukan yang membosankan. Entah masing-masing memang tidak kompeten, taau kurang memahami materi debat, kita tidak tahu pasti. Terutama bagi kubu putra mahkota Presiden yang dekat dengan politisi-politisi senior, harusnya sudah dapat wejangan-wejangan soal debat di kontestasi politik. Eh, ternyata sama saja. Debat yang seharusnya jadi ajang adu gagasan dan adu program, hanya jadi seperti presentasi mata kuliah oleh mahasiswa yang dibumbui pertanyaan-pertanyaan tidak perlu dan hanya ingin menjatuhkan saja. 

TERKAIT:  Pilkada Jogja Tanpa Suara Knalpot RX King itu Nggak Layak Disebut Pilkada

Kembali ke perumpamaan David vs Goliath, di pemilihan kepala daerah kali ini memang sangat terlihat bagaimana jomplangnya kedua kubu. Satunya puta mahkota Presiden, dan didukung banyak partai, satunya rakyat biasa yang maju dari jalur independen. Secara materi saja sudah kalah, apalagi urusan relasi politik, ya lebih kalah lagi. 

Namun, kita sudah tahu bagaimana akhir dari pertarungan David vs Goliath. David yang notabene rakyat kecil mampu mengalahkan Goliath yang notabene adalah seorang raksasa yang punya kuasa. David pun keberpihakannya berada di sisi membela yang benar. Kalau di pemilihan kepala daerah yang melibatkan putra mahkota Presiden nanti, kita tidak tahu apa yang akan terjadi, meskipun di atas kertas sudah terlihat bahwa Goliath lah yang akan menang. Kita lihat saja, toh David vs Goliath yang ini bukan masalah benar dan salah, hanya masalah besar dan kecil. Namanya juga negara fiktif, ada-ada saja permainan politiknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *