Praktik Sogok saat Melamar Kerja Masih Dianggap Wajar dan Itu Sangat Gila

susahtidur.net – ilustrasi menyogok

susahtidur.net – Saya adalah saksi hidup praktik sogok ini. Dan ternyata, tulisan saya di platform Terminal Mojok tentang pengalaman disogok oleh kandidat saat proses seleksi karyawan ramai dengan komentar yang nyeleneh. Utamanya kolom komentar di Facebook dan tulisan.

Banyak komentar yang menormalisasi dan menyatakan secara gamblang bahwa sogok-menyogok itu adalah hal wajar dan biasa terjadi di Indonesia. Bahkan, ada yang berkomentar bahwa saya lebay dan nggak memahami situasi dan kondisi si pelamar kerja. Harusnya sogokannya saya terima saja, karena hitung-hitung membantu orang yang kesusahan.

Sebentar, sebentar, sebentar. Izinkan saya untuk ngegas sedikit aja.

“DAH GILA KAU YA?!!”

Begini. Bagi saya, dari sudut pandang recruiter, ada cara lain yang bisa dilakukan untuk membantu pelamar kerja dalam mendapatkan posisi yang diingkan. Beberapa di antaranya: infokan deskripsi pekerjaan dan gambaran tanggung jawab untuk suatu posisi. Cara lainnya, bisa juga dengan melakukan sharing, apa yang sekiranya harus dikembangkan lagi jika ingin menempati suatu posisi. Beberapa kandidat menanyakan hal tersebut kepada saya. Dan bagi saya, itu bukan suatu masalah selama nggak menyogok.

Ingat, bagaimana pun niat dan caranya, nyogok ya tetap aja nyogok. Ada juga yang berkomentar bahwa, memberi, menjanjikan, dan menawarkan sejumlah uang atau sesuatu saat ia berhasil melewati suatu proses, itu namanya ia sedang berterimakasih dan bisa jadi termasuk ke dalam nazar.

Wow. Sebagian orang ini pada kenapa, sih? Saya curiga, jangan-jangan para koruptor pun punya pemikiran serupa dalam melakukan praktik sogok. Alasannya mau berterimakasih dan wajar-wajar saja dalam melakukan praktik serupa.

Harus diakui, praktik sogok-menyogok memang bukan hal baru di Indonesia. Bahkan, praktik korupsi dan sejenisnya sudah dilakukan sejak zaman VOC (perusahaan dagang Belanda Hindia Timur pada masa penjajahan) berjaya. Praktik ini betul-betul sulit dikontrol. Tapi, saya pikir, paling tidak saya bisa menghentikan praktik laknat ini mulai dari diri sendiri.

TERKAIT:  Merayakan Hari Pahlawan dengan Kedatangan Rizieq Shihab

Bukan mau sok suci seperti yang dipikir sebagian orang di kolom komentar. Tapi, ini soal integritas dan harapan untuk memutus rantai dari praktik tersebut.

Tidak bisa dimungkiri, sebagian orang melakukan praktik sogok-menyogok demi memuluskan keinginannya untuk mencapai suatu tujuan atau berbagai hal. Ada juga yang beralasan malas mengurus ini dan itu. Biar cepat aja gitu. Seperti pengendara yang ditilang saat melakukan kesalahan di jalanan. Beberapa di antaranya mengajukan kompromi atau menawarkan “uang damai” kepada petugas karena nggak mau repot dan malas berhadapan dengan birokrasi yang njlimet.

Banyak yang menyalahartikan saat saya menyatakan bahwa, sejumlah uang sogokan yang diberikan oleh pelamar kerja sebaiknya untuk modal usaha saja. Sebagian diantaranya berkomentar, “Gajian dan punya duit aja belum, gimana mau buka usaha?”

Maksud saya, ya lebih baik ditabung aja gitu. Ngapain juga menjanjikan sesuatu atau sejumlah uang? Mau tujuannya untuk berterimakasih pun tetap nggak bisa diterima. Bisa termasuk ke dalam gratifikasi. Bahaya buat siapa pun. Baik si penerima maupun yang melakukan.

Membaca ragam komentar tentang sogokan bikin saya sadar, masih banyak orang yang menganggap bahwa praktik ini adalah sesuatu yang normal dan dianggap sebagai tradisi yang secara turun-temurun sudah ada di Indonesia. Kalaupun memang benar demikian, lantas, kita mau meneruskan tradisi haram seperti ini, gitu?

Bisa jadi sesuatu yang tidak baik memang normal untukmu, tapi, tidak untuk sebagian orang lainnya. Jadi, jangan disamaratakan. Jangan digeneralisir. Jangan menormalisasi tindakan yang sudah jelas-jelas salah dan menjadi hal kontradiktif dari sesuatu yang benar. Jangan.

Saat membaca ragam komentar tentang menormalisasi sogokan, jujur saja, antara kaget dan lucu. Kok bisa-bisanya dianggap biasa dan saya dinilai sebagai HRD yang munafik karena sudah menolak tawaran menggiurkan dengan nominal yang lumayan dari pelamar kerja. Parahnya, tidak sedikit pula yang mengira bahwa saya nggak baik karena nggak berniat membantu pelamar kerja untuk mendapatkan posisi yang diinginkan. Agak nganu gimana gitu. Hm.

TERKAIT:  Memutus Paradoks Melamar Kerja bagi Fresh Graduate

Saat saya mencoba untuk mempertahankan integritas dan taruhannya adalah karir sekaligus nama baik pribadi, mungkin juga keluarga, saya malah dianggap munafik. Dan ini betul-betul gila, sih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *