Habib Munzir Al-Musawa: Dakwah Akhlak dan Kemanusiaan

susahtidur.net – Habib Munzir

susahtidur.net – Setiap tahun, setiap memasuki bulan maulid, hampir setiap tempat yang saya lewati selalu terdengar alunan maulid dengan iringan hadrah yang syahdu. Saya memang sangat menyukai pembacaan maulid, selain alunan salawat yang merdu, membaca maulid membuat saya selalu mengingat dan menapaki jejak-jejak perjalanan kenabian Nabi Muhammad. Dan, acapkali setiap maulid saya selalu mengingat seorang habib karismatik bernama Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa.

Habib Munzir, atau lebih tepatnya almarhum Habib Munzir, adalah seorang ulama karismatik yang berdakwah melalui majelis bernama Majelis Rasulullah. Sebuah majelis zikir dan salawat, yang mana pada masanya acapkali ramai dengan kedatangan jemaah dari penjuru Indonesia, setiap kali menggelar maulid akbar. Namun, Majelis Rasulullah juga selalu mengadakan maulid mingguan di Masjid Almunawar, Pancoran, Jakarta Selatan. 

Habib Munzir adalah seorang ulama yang selalu berpegang teguh pada Tarekat Alawiyah yang senantiasa harus dipegang oleh para Keturunan-keturunan Nabi Muhammad, dan selalu berdakwah dengan jalan yang lembut.

Dahulu, saat almarhum masih ada dan saya masih di pesantren, kerap kali saya saat liburan saya mengikuti pengajian Majelis Rasulullah. Bagi saya, dakwah akhlak yang sangat diamalkan almarhum adalah sesuatu yang saya jarang temukan di tengah pusaran aktivitas ibu kota. Boleh jadi, Majelis Rasulullah adalah 180 derajat kebalikan dari FPI yang dikenal keras, tanpa bermaksud membandingkan.

Majelis Rasulullah hadir menjadi oase di tengah hiruk pikuk Jakarta, akhlak yang semakin menipis, dan tentu saja menjadi tempat dakwah yang lembut bagi umat Islam. Yang pasti, akhlak yang Habib Munzir ajarkan sebagian besar didapatkan saat beliau dahulu belajar di Darulmustafa pimpinan Al Allamah Al Habib Umar bin Hafidh, seorang Habib karismatik asal Tarim, Hadramaut, Yaman.

TERKAIT:  Legenda itu Seorang Pelacur: Mata Hari dan Spionase Perang Dunia

Awal Dakwah

Habib Munzir menuntaskan belajar bertepatan saat Indonesia sedang mengalami krisis. Tahun 1998, Habib Munzir awalnya memulai dakwah di Cipanas tapi karena dirasa tidak berkembang maka beliau pindah ke Jakarta. Dari musala ke musala, Habib Munzir mengajarkan takmil hatmul Quran, zikir dan maulid. Apakah lancar? Tentu saja tetap ada halangan, bahkan ada beberapa dewan masjid yang melarang kegiatan Habib Munzir. Tetapi, Habib Munzir selalu mencoba mendekati para dewan masjid dengan balasan yang baik.

Dari musala ke musala, lama-lama jamaah makin banyak dan musala tidak cukup menampung. Lama-lama menjadi masjid ke masjid, Habib Munzir yang jemaahnya semakin membludak memutuskan akhirnya menjadikan masjid Almunawar menandingi tempat pengajian mingguan dan menyewa rumah yang cukup besar sebagai tempat tinggal sekaligus dakwah miliknya.

Anak dari seorang jurnalis dan lulusan New York University itu sekalipun tidak pernah mendakwahkan hal-hal yang menjadikan Islam sebagai wajah yang keras dan tegas, amar maruf dan kelembutan akhlak seperti jalan leluhur dalam Tarikat Alawiyah yang menjadikan majelis beliau makin hari makin ramai. Awal mulanya majelis itu tidak bernama, tapi semakin bertambah jemaah, semakin banyak permintaan jemaah yang meminta majelis diberikan nama.

“Majelis Rasulullah saja, karena majelis ini isinya untuk mengingat dan mengamalkan pesan-pesan kenabian dari Nabi Muhammad,” ucap Habib Munzir setelah didesak cukup lama perihal nama majelis.

Kelembutan Akhlak dan Kuatnya Dakwah 

Kelembutan akhlak yang pernah beliau terapkan adalah ketika saat beliau masih mengadakan pengajian dari musala ke musala, saat itu ada seorang preman yang mendatangi Habib Munzir karena hendak mengadakan pengajian. “Kalian mau ngapain di sini? Ada apa ramai-ramai kumpul di sini?” Sambil bertanya-tanya galak kepada Habib Munzir dan jemaah. Tapi Habib Munzir justru meraih tangan si preman, lalu justru mencium tangan itu. 

TERKAIT:  Paket Komplit Politisi Budiman Sudjatmiko

“Kami mau mengadakan pengajian, pak. Mohon izin dan maaf menganggu,” preman itu menangis, dan terisak-isak diperlakukan demikian. “Saya nggak sekalipun pernah dicium oleh anak, mereka anggap saya orang yang menjijikan dan berdosa. Apalagi seorang ustad atau kyai, tapi ustad malah mencium tangan saya yang pendosa ini. Saya malu.”

Sampai saat ini, orang itu disebutkan masih menjadi penjaga pengajian di musala tempat Habib Munzir dulu mengajar dan meminta izin untuk diadakan pengajian dengan para pemuda dahulu. Selain kelembutan akhlak, idealisnya beliau dalam berdakwah juga sangat terlihat dari kuatnya beliau dalam memimpin majelis. 

Saya masih sangat ingat bagaimana beliau dahulu saat sakit-sakitnya masih hadir untuk memimpin majelis. Saat di monas untuk memimpin maulid akbar, walaupun dalam keadaan ringkih dan diinfus beliau sendiri masih “kuat” untuk memimpin langsung majelis yang berjalan dari awal sampai akhir. Bahkan, sampai sempat-sempatnya untuk mengatur shaf antara batas laki-laki dan perempuan, padahal beliau sendiri saja sakit-sakitan. 

Dakwah beliau tidak hanya sampai Indonesia saja, bahkan sampai ke Thailand Selatan dan Malaysia. Salah satu video tang pernah saya lihat, dan tentu saja saya takjub dalam usaha dakwah beliau, adalah ketika beliau pergi ke Papua sana untuk berdakwah. Beliau disambut oleh penduduk setempat. Videonya bisa dilihat di sini

Namun Habib Munzir akhirnya berpulang pada tahun 2013, tepatnya 15 September. Saya sendiri ikut menyaksikan bagaimana ramainya lautan manusia menghantarkan seorang pendakwah yang dicintai dan dikenal lembut dalam tutur katanya itu. Meski saya tidak mengenal almarhum secara personal, saya merasa kehilangan sosok seorang guru yang selain lembut juga mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan.

Perjalanan panjang dakwah dan kisah beliau di atas saya dapatkan dari buku kumpulan tanya jawab antara ia dan murid-muridnya yang bertajuk Cahaya Cinta Habib Munzir Al-Musawa (2011). 

Nasrulloh Alif Suherman

Sering dibilang mirip Tulus

View all posts by Nasrulloh Alif Suherman →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *