Pontang-panting Tukang Cukur di Bantul Saat Pandemi

susahtidur.net – tukang cukur

susahtidur.net – Setelah beberapa bulan menyatakan ketakutan akan pandemi, saya akhirnya memutuskan untuk potong rambut. Alasan utama saya mengurungkan niat adalah banyaknya berita bahwa tukang cukur rambut sangat berpotensi menularkan Covid-19 karena kontak fisik. Tetapi setelah rambut saya sudah melewati telinga, guatel nggak karuan, cukur rambut pun semacam omnibus law alias tidak bisa diganggu-gugat.

Malam itu, menjadi pertama kali saya cukur di tahun 2020. Jika ada sebuah upaya merayakan hal paling sentimentil, pun resolusi satu-satunya yang berhasil di tahun ini, menahan cukur rambut sampai berbulan-bulan adalah pilihan yang tepat.

Saya pun datang ke tukang cukur langganan saya. Datang-datang, saya sudah diberkahi sebuah sambat. Nampaknya, ketakutan saya akan pandemi setali dengan apa yang diresahkan oleh para tukang cukur. Menjadi tamu terakhirnya malam itu, obrolan berjalan dengan lahap, walau diseseli sebuah haru. “Sebenarnya kami takut, tapi mau kerja apa lagi,” jawab Adi, di dalam ruangan cukurnya.

Ia sempat menutup tempat cukur rambut selama beberapa bulan lantaran swakarantina yang ditetapkan oleh desa. “Lokasi saya ada di dekat desa, Mas. Jadi mau nggak mau harus nutup kiosnya. Jujur saya juga takut, soalnya penyakit ini (pandemi corona) belum ada obatnya. Tidak ada teguran dari pihak desa, sih, tapi saya sadar diri saja.”

Adi bukan berasal dari Banguntapan. Ia merupakan putra Imogiri dan datang kemari, membuat kios cukur rambut, karena geliat perekonomian Banguntapan yang lebih bernyawa. Lha gimana nggak bernyawa, konblok saja merajalela. Menjelma menjadi rumah-rumah yang sama bentuknya.

“Sewanya agak mahal, tapi di sini lebih ramai. Saya sempat membuka kios di dekat rumah saya. Di daerah Lanteng 1. Walau relatif lebih murah, nggak mbayar malah lha wong depan rumah, tapi yang cukur ya itu-itu saja, tetangga saya. Belum tentu sebulan sekali juga,” tuturnya.

TERKAIT:  Terbawa Suasana Romantis, Demo Aliansi Rakyat Bergerak di Jogja Berjalan Damai

Adi pun menyatakan resah dengan krisis finansial yang ia alami dan ia juga meyakini, rekan-rekan seprofesi pun merasakan hal yang sama. “Ada angsuran yang harus dibayarkan. Sedangkan kita takut dengan kondisi yang seperti ini. Itu dilema buat saya, Mas. Di rumah pun hanya bisa ikut orang tua berkebun, tapi ya hasilnya bisa dilihat sendiri. Brambang bawang jatuh, corona tiba pas banget sama musim panen di sawah yang digarap Bapak dan Ibu saya.”

“Nggak diberikan keringanan (mengenai sewa kios), Mas, menengok awal-awal pandemi itu kan seluruhnya—tidak hanya cukur rambut—seakan berhenti beraktivitas?” tanya saya.

Dengan nyisiri rambut saya yang bundet, Adi pun menjawab dengan getir, “Logikanya kalau saya butuh uang, ya, berarti pemilik kios juga butuh, Mas. Saya yakin Pak Min (pemilik kios) sama-sama orang kere, jhe, hehehe,” tawanya dengan getir.

Adi melanjutkan, “Walau nggak ada hitam di atas putih, pembayaran dan angsuran tempat harus tetap jalan. Saling mengerti dan ada rasa nggak kepenak. Kalau listrik memang bisa dihemat, tapi tetek bengek lainnya semisal mengurus alat-alat, itu menjadi problem yang susah.”

“Dampaknya, sudah nggak takut lagi, ya, Mas, buat mencukur?”

“Nah, kepepetnya seperti itu, Mas,” katanya sambil berhenti mencukur rambut saya dan melihat melalui kaca. “Mau nggak mau. Bahkan saya merasa aneh, ketika Jogja baru satu atau dua yang kena, bahkan Solo duluan yang kena (ada kasus pandemi corona) saya takut luar biasa. Apa-apa saya merasa gilo (risih), Mas. Nah, sekarang, jumlah kasus mencapai ribuan, seakan ada pemacu lain yang membuat saya berani nyukur lagi.”

Adi pun menambah ketat protokol kesehatan di kios cukur rambut miliknya ini dengan sederhana. Antara lain cuci tangan di depan sebelum masuk kios, selama cukur pun saya tidak diperbolehkan mencopot masker. “Sebisa saya menjaga kesehatan diri sendiri dan yang datang. Mau tidak mau, orang yang datang ini hilir mudik dan kita nggak bisa memantau dari mana, sebelumnya kontak dengan siapa dan kondisi tubuhnya.”

TERKAIT:  Kenangan Nyanyian Tentara dan Mahasiswa Tertembak di Kampus Atma Jaya Jakarta November 1998

“Lha ini dari tadi kayaknya nyukur nggak memegang kepala saya, Mas?”

“Iya, saya memanfaatkan sisir aja. Jadi tak sisir, lalu potong. Begitu dulu. Untuk alat cukurnya, sebisa mungkin saya bersihkan sebelum dipergunakan untuk pengguna jasa cukur berikutnya. Ribet dan menyita waktu, Mas. Tapi itu cara yang terbaik buat tukang cukur di desa seperti ini. apa lagi Banguntapan itu penyumbang angka paling besar (positif corona) di Bantul to, Mas.”

Di Bantul sendiri, dilansir dari Twitter resmi @pemkabbantul, per Rabu (14/10) pukul 15.30 WIB. Angka suspect Bandul ada 94 orang dengan catatan detail total 812, sembuh 695, dan meninggal 23. Banguntapan sendiri memiliki rincian total kasus 158, terbanyak dari kecamatan lainnya. Namun, dengan rincian 139 sembuh dan 5 meninggal.

“Saya itu sakit hati setelah melihat ramainya manusia yang nyepeda ketika pandemi. Lihat saja minggu pagi sampai sore, rame, Mas. Di saat saya prihatin, njogo, ini malah beberapa orang pada asik bersepeda. Ya, kalian (beberapa orang yang nyepeda) bisa kerja di rumah, pakai laptop atau apapun itu, sedangkan saya nggak bisa. WFH, WFH, apaan. Itu cuma meringankan sebagian orang saja, Mas!” tutup Adi.

Di tempat cukur Adi juga sebelumnya menyajikan minuman dingin sebagai tambahan penarik pelanggan untuk datang. Namun, selama pandemi ini, ia mencopot kulkas dan pembersih rambut yang tergeletak berdebu di pojok dalam kiosnya. “Sudah nggak ada fasilitas dapat minum gratis. Selain berhemat, kami nggak mau ada pengguna jasa cukur yang duduk-duduk setelah dicukur. Kami nyukurnya cepat namun tidak mengurangi kualitas, pun pengguna jasa cukur bisa langsung keramas di rumah.”

TERKAIT:  Ikut Berjuang dalam Demonstrasi Malioboro: Tetap Romantis dan Tidak Apatis

“Begitu menyiksa karena habis nyukur nggak bisa ngobrol dengan pengguna jasa seperti biasanya, Mas?”

“Iya dan nggak, Mas,” tawanya. “Kalau urusan ngobrol lha kayak gini we masih bisa, nggak masalah. Terpenting itu kita sama-sama jaga kondisi. Tahan wes keinginan untuk duduk, minum dan ngobrol bersama di kios ini,” jawabnya sambil menawarkan agar rambut bagian belakang saya nggak usah dikerik supaya wangun.

Sejatinya, segala lini perekonomian di Indonesia, sedang goyah lantaran pandemi ini. Usaha besar seperti perhotelan, hingga usaha kecil-kecilan seperti kios cukur rambut. Sebagai penutup, sepertinya saya harus mengutip apa kata-kata Adi mengenai harapannya kedepan. Katanya, “saya nggak berharap banyak. Bukan hanya nyepeda, orang-orang gedean itu kan sekarang sedang pilkada,” ia tertawa. “Saya aja nggak menyangka kalau sekarang kata-kata ‘berdampingan dengan corona’ benar-benar terwujud. Itu yang bikin saya gemetar. Seakan kita tidak bisa berharap kepada siapapun kecuali kepada Allah dan kesadaran diri kita sendiri,” tutupnya.

Gusti Aditya

Pernah makan belut

View all posts by Gusti Aditya →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *