Musik Pengamen Ondel-ondel Pas Rapat Daring itu Nyebelin tapi Ngangenin

susahtidur.net – ondel-ondel

Di kehidupan yang serba daring ini, rapat daring adalah kegiatan yang sudah jadi pemandangan sehari-hari bagi warga ibu kota yang memiliki kesibukan—ya kalo nggak punya kesibukan biasanya nggak melakukan kegiatan rapat sih. Bagi orang yang emang sukanya sibuk atau dipaksa sibuk, dalam sehari bisa ada 3-5 rapat yang dilakukan secara daring. Bagi orang yang sok sibuk pun sama, dalam sehari juga bisa ada 3-5 rapat. Tapi yang beneran rapat mungkin cuma satu, sisanya ngerumpi nggak jelas sama temennya (maaf yang tersinggung).

Seperti halnya kegiatan lain, rapat daring juga memiliki sisi positif-negatifnya. Positifnya, kita nggak perlu capek-capek bermobilitas untuk pindahin badan dari rapat satu ke rapat yang lain. Bayangin aja kalau dalam sehari kita ada jadwal rapat lebih dari sekali dan tempatnya beda-beda. Udah mah capek di badan, capek di ongkos juga. Lain halnya dengan daring, kita cuma mengandalkan jari aja udah bisa pindah rapat. Bahkan untuk orang-orang yang ekstrem bisa mengikuti lebih dari satu rapat dalam satu waktu dengan mengandalkan device ganda.

Negatifnya, banyak hal-hal tak terduga yang bakalan terjadi ketika kita rapat daring. Mengubah suasana rumah yang memang fungsi utamanya adalah tempat beristirahat menjadi suasana kerja memang sulit. Karena se-proper apa pun kita dalam memosisikan diri untuk bersikap profesional, kita nggak pernah tahu apa yang terjadi pada sisi eksternalnya. Entah orang rumah yang tiba-tiba masuk kamar dengan wajah tanpa dosanya hingga suara-suara gaib yang mengganggu (banget).

Suara gaib yang muncul itu bisa jadi distraksi, apalagi kalau posisinya kita lagi nyalain mikrofon. Udah mah bikin nggak fokus, bikin berisik yang denger lagi. Biasanya, pelaku dari suara gaib ini adalah orang-orang di luar rumah kita, kayak tukang bangunan yang getok-getoknya sambil dengerin lagu hardcore hingga pedagang dan pengamen yang lewat depan rumah pakai pengeras suara.

TERKAIT:  Alasan Kenapa Sandal Jepit Anak Sering Hilang di Jalanan

Sebagai warga yang tinggal di lingkungan pinggiran Jakarta, salah satu suara yang terkadang menjadi distraksi saya—atau mungkin kita—ketika melakukan rapat daring adalah suara musik pengamen ondel-ondel yang selain kencang karena pakai pengeras suara, juga instrumennya yang membuat terngiang-ngiang di otak. Kenapa terngiang-ngiang? Karena mereka memakai lagu yang itu-itu aja. Kalau nggak Kicir-kicir ya Sirih Kuning. Saya nggak tahu ini juga dipakai oleh seluruh pengamen ondel-ondel se-Jakarta atau nggak—atau mungkin pengamen di daerah elit pakai lagunya Beethoven saya juga nggak tahu.

Kalau lagi rapat dan suara itu tiba-tiba muncul tuh rasanya kesal sekali. Apalagi kalau posisi kita lagi nyalain mikrofon. Nggak lucu juga kalau lagi ngomong tiba-tiba mulut berubah jadi nyanyi Sirih Kuning. Satu-satunya penangkal suara ini adalah ruangan studio yang kedap suara. Sayangnya, saya nggak punya ruangan itu.

Sebagai pemerhati pengamen di depan rumah, awalnya saya rispek sekali dengan kawan-kawan pengamen ondel-ondel ini karena selain melestarikan budaya, yang mereka lakukan juga proper seperti ramai-ramai memakai baju betawi dengan masing-masing orangnya memegang alat musik yang berbeda-beda dan dimainkan secara bersamaan. Tapi, makin ke sini mereka semakin praktis. Bahkan yang sering lewat depan rumah saya sekarang hanya berdua. Yang satu masuk ke boneka ondel-ondelnya, yang satu mendorong speaker besar dan isi lagunya kalau nggak Kicir-kicir ya Sirih Kuning. Kan jadi mager juga ya liatnya. Tapi saya juga nggak bisa ngatur-ngatur mereka biar nggak lewat depan rumah. Kan itu haknya mereka juga. Jadi yaudah aja gitu.

Hal aneh terjadi ketika beberapa hari yang lalu saya berada di Bandung untuk mengurusi beberapa hal. Kebetulan, saya harus menghadiri rapat daring juga. Ketika rapat berlangsung, keadaan di sekitar saya sangat sunyi. Anehnya, di otak saya malah terbayang suara musik dari pengamen ondel-ondel yang biasa saya dengar di Jakarta. Walaupun nyebelin, ternyata kadang bikin kangen juga digangguin pake musik itu. Musik instrumen itu juga jadi sering saya senandungkan tanpa sadar ketika mandi, makan, hingga berjalan. Instrumen Sirih Kuning yang itu-itu aja emang nyebelin, tapi kenapa khas sekali. Ternyata, potongan lirik lagu wajib Tanah Airku yang berbunyi “Biarpun saya pergi jauh, tidak ‘kan hilang dari kalbu.” Itu ada benarnya juga. Musik instrumen Sirih Kuning khas pengamen ondel-ondel di Jakarta memang bikin sebal, tetapi kalau nggak ada malah jadi kangen. Masak iya sih saya harus pacaran sama instrumen musik?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *