Terbawa Suasana Romantis, Demo Aliansi Rakyat Bergerak di Jogja Berjalan Damai

susahtidur.net – demo ARB Jogja

Perjuangan rakyat dalam menolak keras UU Cipta Kerja masih berlanjut. Aksi demonstrasi kembali terjadi di Yogyakarta pada hari Selasa, 20 Oktober 2020 lalu. Bundaran UGM menjadi saksi tempat berkumpulnya para Mahasiswa yang berorasi untuk memperjuangkan Hak Rakyat. Gila saja, mereka seperti tak kenal lelah untuk menyampaikan aspirasi keadilan. Sungguh, pemerintah memang tuli lucu.

Sore hari sepulang kerja, saya mendapat lontaran pertanyaan, “Mas, nggak ikut demo?” Sontak tanpa basa-basi, saya langsung meluncur ke tempat demonstrasi. Sepanjang perjalanan, saya kerap bergumam, “Semoga tidak rusuh seperti kemarin.”

Hingga sampai di lokasi, saya kesulitan untuk parkir motor. Akhirnya saya menghubungi kawan yang berprofesi sebagai secwan agar mau menjadi jastip untuk motor supra tahun 2009 milik saya itu.

Berjalan menuju kumpulan demonstran, saya dikagetkan oleh suara letusan dari arah belakang. Seketika saya menengok, melihat apa yang terjadi. Ternyata suara besi penyangga yang jatuh dari bakul lesehan. Wasyeem, tak pikir ada kerusuhan.

Memantau dari jauh dan sekadar merokok di angkringan barat supermarket UGM, saya memberanikan diri untuk bertanya dan sekedar basa-basi kepada bapak aparat yang kebetulan ada di dekat saya. “Dari jam berapa acaranya, pak?” tanya saya.

“Dari habis Dzuhur mas, sampai sekarang masih orasi itu, anak-anak. Padahal cuma sampai jam 5,” kata bapak aparat.

Kemudian, saya melanjutkan pertanyaan, “Lha njenengan baru istirahat atau gimana?”

“Saya sih, santai mas disambi makan sama ngopi saja. Lha wong ibaratnya kita ini lagi diadu domba sama pemerintah kok. Penilaian masyarakat sama kita jadi buruk, kan? Lha yo terus kita mesti gimana? Kalau saya kok malah enak santai,” jawab bapak aparat.

TERKAIT:  Solo – Jogja di dalam Sebuah Lanskap Gerbong KRL

Menurut saya memang benar demikian. Dewasa ini, penilaian masyarakat soal aparat memang buruk. Ditambah dengan oknum aparat yang dengan seenak jidat memukul, menendang, dan main hakim sendiri kepada demonstran. Sering saya lihat di sosial media, terutama twitter. Bahkan kekesalan saya kepada aparat sempat memuncak ketika gerobak angkringan saya pernah diangkut paksa SatpolPP beberapa waktu lalu.

Kemudian saya melanjutkan pengamatan melalui jarak dekat. Aktivis berorasi dengan lantang. Seolah pemerintah memang harus benar-benar dihakimi. Bagaimana tidak? Mereka menyuruh rakyat untuk memilih dan mendengar. Lalu melupakan dan seolah tutup telinga tentang aspirasi rakyat begitu mereka terpilih. Giliran didemo dengan narasi Mosi Tidak Percaya, eh malah nyalahin rakyat yang milih. Aneh bener, dikritik kok malah nyalahin yang milih. Seketika ingat sebuah ucapan dari bapak tukang becak yang pernah saya temui saat awal demontrasi di Malioboro beberapa waktu lalu. “Pemerintah memang sudah gila, mas.”

Beberapa saat kemudian saya bertemu dengan teman lama saya yang bertugas sebagai tim medis. Saya bertanya ada berapa titik demo untuk saat ini, dan dia menjawab, “Cuma satu titik di sini kok, itu aja aman. Nggak sampai seperti kemarin. Semuanya rapi, bersih, dan tertib. Aman.” Jawabnya dengan mata sipit dan sayu.

Kali ini, unjuk rasa tidak ada keributan dan pembakaran. Berjalan damai dan aman. Tidak ada satu pun gas air mata terlontar. Tidak ada acara lempar batu dan suara tembakan. Benar-benar berjalan lancar sesuai aturan. Meski ya, entah apakah demonstrasi yang damai dan aman jaya sentosa ini bakal dilirik dan digubris pemerintah atau enggak.

Pukul 17:02 demonstrasi ditutup dengan nyanyian Darah Juang oleh Mahasiswa. Lalu saya meninggalkan lokasi demonstrasi, menuju tempat parkir untuk segera pulang. Menceritakan apa saja yang terjadi hari ini kepada Bunda.

TERKAIT:  Kenangan Nyanyian Tentara dan Mahasiswa Tertembak di Kampus Atma Jaya Jakarta November 1998

Bagi saya, Mahasiswa sudah banyak membantu membuka mata masyarakat. Namun masih ada saja masyarakat—banyak juga ternyata—yang hanya “Nerimo ing Pandum” segala jenis keputusan pemerintah. Akhir-akhir ini, saya berpikir bahwa yang layak disebut sebagai Perwakilan Rakyat, adalah Mahasiswa. Ucapan terima kasih dari saya untuk Mahasiswa. Serta untuk aparat, yang ikut mengamankan jalannya unjuk rasa. Bagi para provokator dan oknum laknat, enyah saja sana. Selimutan pakai sawi saja di kulkas. Hobi kok bikin rusuh.

Tapi bagaimanapun juga, semua keputusan pemerintah harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari rakyat. Pemilu saja yang menang diambil dari suara terbanyak oleh rakyat. Apalagi Undang-Undang yang akan menjadi sumber hukum. Ingat, Kedaulatan tertinggi berada di tangan rakyat. Bukan di tangan DPR.

Grantino Gangga

Tinggi Badan: 185cm

View all posts by Grantino Gangga →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *