Menolak Menunda Pilkada Adalah Sebaik-baiknya Jokowi Sebagai Bapak

susahtidur.net – bapak yang baik

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) adalah momen yang paling dinanti. Terutama bagi para calon kandidat yang sudah banting tulang dan akal untuk promosi. Meskipun menjadi kepala daerah adalah bentuk pengabdian, toh promosi tetap gencar dilakukan seperti kontestan lomba vokal.

Tapi, (yang katanya) pesta demokrasi 5 tahunan ini terhalang hal baru. Pandemi COVID19 benar-benar mengubah laku masyarakat dan negara. Sejak awal kasus, sudah banyak perubahan yang dirasakan masyarakat. Dari tertundanya pulang kampung, PHK massal, sampai hilangnya momen nongkrong. Semua karena satu alasan: mencegah orang berkerumun agar penyebaran COVID19 bisa direm.

Pasti Anda berpikir: untuk mencegah kerumunan orang, tentu Pilkada harus ditunda. Tenang, Anda tidak sendiri kok. Banyak pihak yang merasa Pilkada harus ditunda. Tapi, Bapak Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengeluarkan pernyataan lain. Beliau bersikukuh Pilkada harus tetap terlaksana. Wah, kok seperti menelan anjuran sebelumnya untuk tidak berkumpul?

Tapi saya melihat pernyataan ini dari sudut pandang alternatif. Menurut saya, pernyataan Jokowi untuk melanjutkan Pilkada telah melampaui jabatannya. Jokowi menunjukkan bahwa beliau bukan hanya pemimpin, namun bapak yang baik. Nah, sebelum mendalami pernyataan yang ngeri-ngeri sedap ini, mari kita mereview drama Pilkada 2020.

Sejauh saya bisa melihat ke belakang, pernyataan tegas Jokowi menolak menunda Pilkada mulai naik ke permukaan pada 8 September 2020. Dalam siaran di akun YouTube Sekretariat Presiden dan berita dari CNN Indonesia, Jokowi menyatakan penyelenggaraan Pilkada serentak 2020 harus tetap dilaksanakan di tengah pandemi COVID19.

“Penyelenggaraan pilkada harus tetap dilakukan dan tidak bisa menunggu sampai pandemi berakhir. Karena memang kita tidak tahu, negara mana pun tidak tahu kapan pandemi Covid ini berakhir,” ujar Jokowi saat memberikan arahan dalam rapat terbatas tentang lanjutan pembahasan ‘Persiapan Pelaksanaan Pilkada Serentak’.

TERKAIT:  Selain Meniadakan Kawasan Khusus Pesepeda, Harusnya Pemprov DKI Juga Meniadakan Hal-hal Ini

Sontak pernyataan ini mendapat berbagai respon dari masyarakat. Maklum, rakyat juga mulai terpecah karena COVID19. Sebagian menanggapi serius pandemi ini dengan mengamalkan protokol kebersihan, termasuk menunda untuk berkerumun. Sisanya merasa COVID19 hanyalah konspirasi besar yang merusak kehidupan dan penghidupan. Halo, bli Jerinx.

Tentu, membahas dukungan pada melanjutkan Pilkada tidak akan seru. Toh Presiden Indonesia telah mengeluarkan pernyataan. Apalagi Pak Luhut Binsar Panjaitan juga menyatakan bahwa Pilkada harus dilaksanakan jika sudah diputuskan. Menteri serba guna saja sudah membuat pernyataan lho, sudah tidak seru lagi.

Lebih seru jika kita melihat reaksi penolakan pada wacana Pilkada Serentak ini. Menurut saya sangat menarik, karena datang dari berbagai elemen masyarakat. Bahkan tokoh keagamaan sampai seniman juga turut menyuarakan penundaan Pilkada Serentak. Sejenak mengingatkan saat gonjang-ganjing reformasi.

Yang pertama datang dari dalam pemerintahan, yaitu DPD RI. Dalam berita yang dilansir antaranews.com, DPD RI tetap menolak pelaksanaan pemungutan suara Pilkada yang rencananya dilakukan pada 9 Desember 2020. “Komite I tetap menyatakan menolak atas pelaksanaan (pemungutan suara) Pilkada Serentak pada 9 Desember 2020 dan mengusulkan Pilkada lanjutan dilaksanakan pada 2021,” Ujar Ketua Komite I DPD RI Agustin Teras Narang dalam rapat kerja Komite I.

Bagaimana dengan pihak agama? Kali ini PBNU dan PP Muhammadiyah satu suara mengusulkan penundaan Pilkada Serentak 2020. Alasan kedua ormas ini adalah adanya kecenderungan peningkatan kasus yang diprediksi makin melonjak pada akhir tahun. Jika kedua ormas yang sering berselisih pandang saja bisa satu suara, kenapa tidak dipertimbangkan. 

Dari kelompok seniman saya tertarik pada pendapat Mbah Sudjiwo Tejo sang presiden Jancukers. Dalam akun twitter dan instagram beliau, beliau kerap menyinyiri wacana Pilkada ini.  Dan pasti anda sudah bisa membayangkan, Mbah Jiwo bakal memainkan kata dan istilah dengan kenakalan yang makrifat.

TERKAIT:  Membayangkan Seandainya Pak Jokowi Punya Close Friend di Instagram

Yang paling tegas adalah, “Pagi. Dalam konteks Corona, Pilkada yang tak ditunda konon akan menggembleng daya tahan dan ketangguhan para kontestan yang dipilih. Tapi, bagaimana dengan rata2 para pemilih yang akses serta ketajiran biaya pengobatannya pasti kalah jauh dibanding para kontestan?” 

Saya sendiri juga merasa Pilkada perlu ditunda. Jujur, pernyataan serentak untuk melanjutkan Pilkada lebih nggatheli daripada pernyataan awal pandemi COVID19 dulu. Menurut saya, penundaan ini adalah kesempatan bagi kepala daerah untuk menuntaskan tugas tambahan dalam penanganan COVID19. Kehadiran COVID19 menuntut kepala daerah lebih tanggap dan fokus dalam bekerja, jangan diganggu dengan pergantian kepala demi lumrahnya proses demokrasi.

Namun, mari kita lihat dari sudut pandang Pak Jokowi. Memang, pelaksanaan Pilkada tetap diputuskan oleh DPR RI. Jokowi bukanlah diktator ataupun sultan yang (kata orang) sabdanya harus diikuti tanpa alasan. Namun, pernyataan Jokowi untuk tetap melanjutkan Pilkada Serentak adalah bukti nyata Jokowi adalah bapak yang baik.

Bukankah bapak yang toxic kini menjadi pembahasan hangat. Bapak yang toxic akan menekan mimpi dan cita-cita anaknya. Memaksa anak untuk mengikuti pemikiran dan angan seorang bapak bukan bentuk pendidikan anak yang baik. Sedangkan, bapak yang baik akan tetap mendukung mimpi dan cita-cita anaknya. Bahkan menumpahkan seluruh tenaga dan privilese yang ia miliki.

Dalam kasus ini, fungsi sebagai bapak yang baik ditunjukkan Jokowi dalam pernyataan sikapnya. Jokowi menolak menunda Pilkada karena enggan menghalangi mimpi sang putra (bahkan menantu). Jokowi menumpahkan tenaga dan privilese yang beliau miliki agar cita-cita sang anak tercapai: menjadi walikota. Sungguh, Jokowi menunjukkan kapasitas sebagai bapak yang baik!

Den Baguse Prab

Orang yang setia untuk mempertanyakan segala hal. Membenci banyak hal dan orang dalam kebencian yang setara dan egaliter.

View all posts by Den Baguse Prab →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *