Pemutaran Film Propaganda yang Sarat Kebohongan di Sebuah Negara Fiktif

ilustrasi propaganda

Setiap pemimpin di negara yang punya potensi untuk jadi otoriter selalu mempunyai cara-cara yang di luar akal sehat untuk memuaskan birahi kekuasaannya. Ada yang memenjarakan orang-orang kritis, ada yang memelihara penjahat perang dan kemanusiaan, ada pula yang memaksakan doktrin tertentu, biasanya melalui film, kepada masyarakat sembari membasmi perlahan mereka yang menentang doktrin tersebut. Praktik-praktik seperti itu tidak hanya terjadi di negara yang sudah jelas otoriter. Di negara yang katanya demokratis pun, praktik-praktik seperti itu masih saja terjadi dan lumrah.

Kita mungkin sudah sering mendengar bagaimana para aktivis atau orang-orang kritis harus berurusan dengan hukum hanya karena protes atau karena sambat. Ada yang berhasil selamat, ada pula yang apes dan harus berada di balik jeruji besi, atau justru lenyap tak berbekas. Namun, praktik otoritarian yang mungkin paling halus adalah pemaksaan doktrin-doktrin melalui media hiburan, salah satunya film. Kita mungkin pernah mendengar kabar mengenai sebuah negara yang setiap tahunnya selalu memutarkan sebuah film propaganda yang kebohongannya sudah jadi rahasia umum. Kalau dulu diputar di bioskop, film propaganda ini diputar juga di televisi. Ya hitung-hitung pembodohan berjamaah lah.

Ironisnya, warga di sebuah negara tersebut banyak yang percaya dengan apa yang diceritakan dalam film. Mereka beranggapan bahwa seperti itulah sejarah yang sebenarnya terjadi. Doktrin kebencian terhadap suatu golongan atau ideologi pun berhasil tersampaikan. Imbasnya, orang-orang yang tidak sepakat dengan film propaganda tersebut dirundung habis-habisan. Mereka yang tidak sepakat karena tahu apa yang sebenarnya terjadi dianggap tidak mengerti sejarah, tidak manusiawi, tidak bertuhan, biadab, dan lain sebagainya. Bahkan yang lebih parah lagi, mereka-mereka yang tidak sepakat dengan film ini sempat dibasmi dan jumlahnya banyak sekali. 

TERKAIT:  Hak Buruh Squidward dan Spongebob yang Selalu Nrimo Ing Pandum

Meskipun cerita ini familiar dengan Republik ini, jangan ge’er dulu. Praktik propaganda ini terjadi di sebuah negara fiktif bernama Panem, yang ada dalam semesta The Hunger Games. Untuk yang belum tahu, Panem ini adalah sebuah negara yang lahir di era post-apocalyptic di Amerika Utara. Dengan ibukota bernama Capitol, Panem dibagi menjadi 12 distrik di bawah kepemimpinan Presiden Snow yang totaliter dan sak karepe dewe. Ya mirip-mirip Presiden kedua di republik ini gaya kepemimpinannya.

Bagi yang mengikuti film atau novel The Hunger Games, pastinya sudah paham bagaimana tangan besinya Presiden Snow saat memimpin. Lawannya adalah Katniss Everdeen, gadis berusia 16 tahun dan Peeta,  yang berusia 12 tahun dari distrik 12, yang menjadi peserta kompetisi hidup dan mati The Hunger Games. Kompetisi The Hunger Games sendiri diadakan sebagai bentuk pengingat terhadap mereka yang terbunuh karena pemberontakan dan sebagai perekat hubungan antar distrik. Kompetisi ini bahkan disiarkan langusung oleh televisi dan dibuat semacam acara reality show. Ya mirip-mirip cara propaganda di sebuah negara demokratis di Asia Tenggara lah, memanfaatkan media massa. 

Katniss dan Peeta yang berhasil memenangkan kompetisi tersebut menginspirasi banyak sekali kerusuhan dan pemberontakan kecil di distrik-distrik di Panem. Presiden Snow yang terusik, berniat membasmi Katniss. Berbagai macam propaganda disebarkan oleh Presiden Snow. Mulai dari peringatan bahwa pemberontakan terhadap Capitol adalah hal yang keliru dan akan diberi hukuman, hingga kekerasan langsung. Tujuannya jelas. Presiden Snow ingin masyarakat melihat konsekuensi jika mendukung pemberontakan kepada Capitol. Katniss yang dianggap sebagai pemberontak dan pengganggu Capitol dan rezim Presiden Snow, menjadi sasaran empuk bagi serangan-serangan Presiden Snow. 

TERKAIT:  Los Ingobernables: Ketika Hidup Berjalan Tanpa Kehadiran Negara

Propaganda Presiden Snow dan pemberontakan-pemberontakan yang terjadi ini mirip sekali dengan kasus film propaganda dan pemberontakannya. Presiden Snow adalah wujud dari film propaganda yang sering diputar ini. Cerita dalam film propaganda dan cerita Presiden Snow sangat mirip, seakan ingin menunjukkan bagaimana nasib buruk yang menimpa orang-orang yang melawan rezim. Pembantaian, fitnah, dan doktrin-doktrin kebohongan adalah cara untuk melawan pemberontakan. Tidak peduli bahwa pemberontakan itu didasarkan hal yang benar atau salah. Sementara Katniss, adalah wujud dari pemberontakan dan perlawanan terhadap hal-hal yang keliru. Katniss seperti mewakili orang-orang yang mau belajar dan tidak terkekang dengan doktrin-doktrin kebohongan. Katniss juga berjuang melawan segala macam propaganda dan kezaliman rezim, meskipun Katniss harus mengorbankan adiknya yang terbunuh. Tetapi Katniss paham, bahwa selalu ada konsekuensi untuk melawan sebuah rezim besar dengan berbagai macam propagandanya. Mungkin Katniss adalah kita, yang mencoba melawan propaganda seperti pemutaran film yang penuh kebohongan dengan fakta-fakta yang sebenarnya terjadi, meskipun hujatan dan fitnah tetap tertuju pada kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *