Direction Dyslexia Adalah Penyebab Saya ‘Dan Emak-emak Lainnya’ Sein Kiri Belok Kanan

susahtidur,net – direction dyslexia

Sering melihat orang yang sein kiri tapi belok kanan, atau sebaliknya? Mulai sekarang biasakanlah memakluminya sebagai sebuah kenormalan. Kok bisa? Ya bisa, karena keadaan seperti itu memang hal yang normal bagi penderitanya.

Sering saya menjadi navigator atau co-driver yang diberi tugas membaca peta dan menunjukkan arah yang duduk di sebelah supir saat bepergian bersama keluarga, saat mengakses GPS belum semudah sekarang. Saya harus membaca peta, harus menunjukkan arah, belok kanan atau kiri di persimpangan jalan. Dan yang sering kali terjadi adalah mulut saya berkata belok kiri, tapi tangan saya menunjuk ke arah kanan. (Nggak usah ketawa gitu).

Bagi seorang supir, hal itu tentu saja merepotkan, dan selalu berakhir dengan supir yang uring-uringan karena harus memutar lagi kendaraan. Seringnya melambatkan dulu kendaraan dan memastikan kanan atau kiri yang benar, bahkan terkadang meminggirkan dulu kendaraan daripada harus memutar arah lagi.

 Saya bukannya tidak tahu mana kanan dan kiri, tapi saya harus berpikir dulu mana sisi kanan mana sisi kiri, dan otak saya butuh waktu untuk mentransfer informasi itu. Saat dibutuh memberikan instruksi dengan cepat, badan saya bereaksi lebih cepat menunjukkan arah yang tepat dibandingkan mulut saya.

Dan kejadian itu terulang berulang kali.  Sungguh bersyukur GPS sekarang dengan mudah di akses, kalau diminta menunjukkan arah, tinggal bilang pakai GPS aja, dari pada nyasar. Beres

Itu baru perkara kanan dan kiri, lain lagi perkara arah mata angin. Lahir dan besar di Sumatra, saya tidak menggunakan arah mata angin untuk menunjukkan lokasi tertentu, hanya menggunakan kanan, kiri, depan, belakang. Misalnya mencari alamat cukup saja katakan di sebelah warung A, di depan pasar, dan seterusnya.

TERKAIT:  Jenis-jenis Pengendara Motor di Jalan yang Paling Bedebah!

Setelah pindah ke Jawa, ternyata di Jawa menggunakan arah mata angin untuk menunjuk ancer-ancer suatu tempat. Laah kepala dan otak saya tentu saja harus bekerja tiga kali lipat, selain harus menerjemahkan dulu arah mata angin dalam bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia, harus mencari Matahari dan arah di mana saya berdiri.

Bayangkan betapa repotnya saya ketika harus mencari suatu tempat dengan informasi semisal, “Panggok e kidule Pasar, ngetane mesjid!” Saya harus menerjemahkan kidul itu sama dengan selatan, ngetan sama dengan timur. Lalu saya harus melihat matahari apakah condong ke barat atau timur, setelah menemukan arah timur dan barat, otak saya masih harus mencari informasi utara dan selatan menurut arah mata angin. Bayangkan betapa ribetnya dan butuh waktu sekian menit untuk menganalisis data itu. Jadi kalau diminta menentukan dalam waktu sekian detik saya pasti kelabakan. Belum lagi kalau kejadiannya malam hari dan tidak ada bulan. Mati kutu wes.

Jika ada orang yang tidak bisa membedakan salah satu warna disebut buta warna, orang yang tidak bisa melihat disebut tuna netra, orang yang tidak bisa mendengar disebut tuna rungu, maka orang yang kesulitan mengenali kanan dan kiri, arah mata angin atau daerah yang di datangi, disebut direction dyslexia atau geographic dyslexia.

Direction dyslexia berbeda jenis dengan dyslexia yang sebenarnya seperti dyslexia yang kesulitan dalam membaca. Ini adalah jenis dyslexia dengan tipe berbeda dan apesnya belum memiliki pengobatan formal. Gejala umumnya adalah kesulitan membedakan kanan dan kiri, arah dan peta. Selain itu penderita direction dyslexia juga memiliki gangguan memori jangka pendek.

Saya sendiri mengatasi masalah kiri dan kanan dengan memakai jam tangan, gelang atau cincin di tangan sebelah kiri, mengosongkan tangan kanan dari berbagai pernak pernik. Soal arah saya melihat matahari atau bulan, jika harus mengingat rute saya harus nyetir sendiri, menandai bangunan, pohon atau nama jalan tertentu sebagai patokan. Jika hanya duduk sebagai penumpang butuh berkali-kali lewat untuk menghafal rute yang dilewati.

TERKAIT:  Alasan Kenapa Sandal Jepit Anak Sering Hilang di Jalanan

Karena direction dyslexia lebih banyak dialami oleh perempuan, maka bisa dimengerti jika banyak perempuan yang sein kiri belok kanan, atau kesulitan saat parkir sehingga parkirnya selalu miring melewati garis batas atau mengambil jatah lahan sebelah.

Makanya buat para lelaki, terimalah ketika bertemu perempuan sein kiri belok kanan, atau parkirnya miring sebagai sebuah kenormalan dari sebuah ketidaknormalan.  Ketika kalian di jalan mengatakan, “Ojo musuh wong wedhok nang ndalan, mesio bener mesti kalah.” (Jangan bertengkar dengan perempuan di jalan, walaupun benar tetap saja kalah) sebenarnya kalimat itu sudah sebuah pemakluman kalau begitulah keadaan sebagian (jika tak ingin di katakan banyak) perempuan saat di jalan. Ya mau bagaimana lagi, kami merasa benar kok kami sudah belok kanan, di luar kesadaran saja kami mencet sein kiri. Satu hal lagi, karena masalah memori jangka pendek, saya kadang tergangu. Bukan sekedar urusan di jalanan, tetapi sampai ke hal-hal lain pula. Jadi pahamilah jika pertengahan bulan, saya—dan banyak perempuan lain—sudah minta transferan lagi. Ya, soalnya saya lupa kalau sudah ditransfer. Anehnya lagi, untuk urusan awal bulan saya selalu ingat dan auto minta transferan.

Siti Zubaidah

Ibu rumah tangga yang menulis hal-hal ringan seputar kehidupan sehari-hari. Tinggal di Serang.

View all posts by Siti Zubaidah →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *