Bahaya Laten Coach Justin untuk Anak Kecil

susahtidur.net – Coachy

susahtidur.net – Di suatu sore yang membosankan, saya berselancar di media sosial bernama Twitter. Sedang asik-asiknya, jiwa selow saya memberontak kala menemukan cuitan nyleneh dari akun Twitter @txtdaricoachy. Isi cuitan mereka sedikit memaki. Begini, “Dasar fans kardus, tolol!” Saya yang awalnya bosan, makjegagik jadi semangat untuk mencari tahu. Cuitan tersebut ternyata hasil tangkap layar cuitan Coach Justin yang memaki sesama fans Barcelona karena berbeda pendapat tentang Busquet.

Astaga.  Bagi yang belum tahu nih ya, Coach Justin merupakan fans Barca yang bisa dibilang kurang suka dengan Sergio Busquet. Baginya, Busquet itu gelandang jelek dan nggak berguna, mengacu dari setiap ucapannya tentang Busquet. Pokoknya, Busquet itu jelek. Kalo masih ngeyel nanti Anda bakalan di-block. Titik.

Usut punya usut, ternyata akun @txtdaricoachy merupakan akun lucu-lucuan dari keresahan beberapa adminnya melihat tingkah laku absurd Coach Justin di media sosial. Daripada ikut mengabdi menjadi domba-dombanya (sebutan untuk pengikut si coach dari warganet), kumpulan orang-orang di balik akun ini lebih memilih untuk menertawakannya.

Coach Justin merupakan seorang pandit sepak bola, selain itu blio pernah juga menjadi pelatih dan direktur timnas futsal sepak bola Indonesia. Jadi branding “coach” itu anggap aja masih masuk walaupun udah lama nggak melatih terus berubah menjadi juru bacot doang. Bisa dibilang si coach so so lah, bacotfull but no vision.

Selain menjadi pandit, Coach Justin juga aktif di media sosial Twitter, akunnya pun memiliki jumlah pengikut sebanyak 76,3 ribu orang, sedangkan di Instagram blio ini memiliki 58,9 ribu pengikut. Coach justin juga mempunyai kanal YouTube yang aktif unggah video analisis sepakbola. Subscriber-nya pun sebanyak 203 ribu orang. Angka yang nggak sedikit untuk seorang pandit.

BACA JUGA YUK :  Mari Mendebatkan Cara Memakan Cilok yang Benar

Dari sekian banyak pengikut dan subscriber-nya, coach justin selalu punya panggung. Panggung besar yang selalu terbuka untuk memamerkan “Bullying”—jika kategori rasis terlalu jauh—yang entah sadar atau enggak, seringkali blio ucap atau ketikkan di media sosial.

“Dasar fans kardus!”

“Muka bengkoang!”

“Tolol!”

“Biji lu kotak!”

Apalagi? Banyak!

Itu hanya sebagian dari begitu banyaknya makian yang seringkali diucapkan atau diketik oleh Coachy ketika menutup argumen dari netizen yang berbeda pendapat. Atau berseberangan dengan pemikirannya. Seorang influencer yang “dianggap” lebih mengerti sepakbola, tetapi terkadang pendapatnya justru nggak rasional dan menjauhi kalimat mencerdaskan penonton dan pembacanya.

Siapa yang akan berpikir bahwasanya memberikan umpan di kerumunan bukanlah assist jika bukan si Coachy? Tapi, Coachy berpikir begitu, suatu argumentasi yang harus kita maklumi. Bahkan badan sepakbola dunia mulai dari FIFA sampai anak turunannya harus berpikir ulang untuk segera mengubah aturan ini.

Komentar provokatifnya yang lebih mengarah ke bullying ini pun sangat mengecewakan untuk dilihat dan dibaca. Padahal followers blio rentang usianya sangat bervariasi. Bayangkan jika kamu punya anak, adik ataupun saudara yang pada akhirnya terdistraksi dan selalu mengakhiri suatu argumentasi dengan kata “Tolol!”, “Goblok!”, “Muka Bengkoang!”, “Fans Kardus!” atau bermacam makian lain yang seringkali blio ini ucapkan hingga akhirnya ditirukan oleh anak kecil.

Hal-hal tersebut mengisyaratkan dan mengajarkan bullying kecil dan bisa juga mengarah kepada tindakan rasis. Menanamkan rasialisme ke alam bawah sadar anak kecil sejak dini, itu amat bahaya, Bung dan Sarinah semuanya. Padahal, sebagai seorang idola anak kecil, Coachy juga memiliki pilihan untuk menggunakan powernya menjauhkan tindakan bullying. Bukan justru malah sebaliknya, mencekoki anak-anak dengan bullying kecil seperti itu.

BACA JUGA YUK :  Final Coppa Italia: Kalahkan Juventus, Napoli Juara Coppa Italia musim 2019/2020

Potensi-potensi dari cuitan maupun video Coachy ini bisa berdampak buruk bagi mentalitas anak, selain anak akan memahami sepakbola yang “berbeda”, bullying kecil ini juga nggak baik bagi perkembangannya. Kerendahan hati untuk menghargai pendapat orang lain akan hilang, tergantikan dengan makian yang bernada bully—atau malah rasis—ketika kalah dalam berargumentasi.

Percaya lah, ketika saya sedang mengajar Pramuka untuk anak SD, tiba-tiba saja ada anak didik saya yang bilang begini pada kawannya, “Dasar kardus item, nggak paham sepakbola!” Sebagai pembina Pramuka, bagaimana hati saya nggak resah?

Sikap-sikap beliau dalam memberi argumentasi juga harus netral dan objektif karena blio seorang pandit yang setiap ucapannya bisa saja diamini oleh pengikutnya. Bukan malah selalu menganggap usaha dari suatu tim rivalnya itu penuh dengan “luck”. Oh, come on! Sepakbola dan Dewi Fortuna memang beririsan tipis, tapi nggak ada salahnya membaca data. Iya. D.A.T.A!

Menyepelekan pemain yang begitu dibencinya dengan kalimat driblang-dribling nggak jelas, pemain ancur-ancuran, skillfull but no vision atau pemain yang nggak banget. Sebab musababnya, anak akan menghilangkan nilai objektivitas dalam menilai suatu hal. Sepemahaman saya, itu akan berpengaruh banyak pada banyak aspek kala ia beranjak dewasa.

Daripada memaksakan pendapat konyolnya demi beronani dengan egonya, alangkah lebih baiknya Coach Justin mengurangi hal-hal sesat pikir tersebut. Sebab, betapa berbahayanya jika hal ini diteruskan dan dicekoki perihal bullying dan pendapat yang “menyimpang” tersebut. Menyebabkan banyak “domba kecil” yang tercemar hingga tanpa sadar menciderai nilai sportivitas yang olahraga ini junjung.

Sepakbola kita mau maju, kan? Bukan malah makin terjerembab? Sekarang, mari kita belajar dari ahlinya, kalau mau menikmati bacotan sih ya terserah aja. Salam jastok.

BACA JUGA YUK :  Kenangan Manis Bermain Tamiya
Avatar

Muhammad Arif Nur Hafidz

Aku ingin terkenal

View all posts by Muhammad Arif Nur Hafidz →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *