Antifasisme di dalam Dunia Sepak Bola

susahtidur.net – antifasisme

susahtidur.net – Rasisme seperti kanker yang tak sembuh dari peradaban manusia. Kecenderungan untuk membangun hierarki rasial masih mengakar dalam kehidupan sosial. Dari sesederhana pemilihan ketua RT, sampai rasisme yang didukung ormas hingga negara. Kebencian berbasis rasial ini menabur perilaku fasis, yang mungkin dinormalisasi sebagai sebuah budaya. 

Dunia sepak bola tidak lepas dari pengaruh rasisme. Mungkin masih hangat dalam pikiran saat rasisme tampil di tengah laga sepak bola. Dari menyebut pemain “monyet” sampai serangan fisik kepada pemain. Bahkan terjadi di Indonesia seperti yang dialami Persipura. Apakah ini normal? Apakah ini budaya yang wajar? 

Kalah dalam laga sepak bola itu wajar. Bersaing di lapangan hijau adalah lumrah. Rasisme, menurut saya (dan saya harap Anda juga) bukanlah hal wajar! Apapun alasannya, menggedepankan isu rasial di tengah sportivitas olahraga bukanlah sesuatu yang sehat. 

Tidak ada olahraga yang hanya pantas dilakukan satu ras saja. Tidak ada aturan bahwa sepak bola menjadi permainan khusus ras kaukasian. Bahkan, tidak ada alasan untuk menyerang individu lain dengan balutan kompetisi sepak bola. Memandang sepak bola sebagai pelampiasan kebencian rasial adalah omong kosong. Dan Anda tahu siapa lagi tukang omong kosong rasial? Adolf Hitler. 

Salah satu coreng hitam dunia sepak bola dikenal sebagai “Football War 1969“. Perang yang melibatkan Honduran dan El Savador ini dipandang sebagai akibat dari babak kualifikasi Piala Dunia 1970. Alasan yang berlebihan untuk sebuah konflik bersenjata. Tapi kita tidak bisa memungkiri bahwa sepak bola menjadi kedok promosi isu rasial dan tindakan fasis. 

Bukan berarti gelombang rasisme dan fasisme dalam dunia sepak bola tidak terbendung. Sering kali, olahraga kecintaan jutaan manusia ini menjadi alat kampanye anti rasis dan antifasisme. Salah satunya saat Estado Libre y Soberano de Chiapas, sebuah wilayah munisipal di Mexico, mengundang Real Madrid dalam pertandingan persahabatan. Sayang sekali, mimpi ini terhalang situasi politik di mana Chiapas dipandang sebagai pemberontak. 

BACA JUGA YUK :  Kelindan Rasisme Sepakbola

Suporter Barcelona FC juga pernah menjadikan laga sepak bola sebagai alat kampanye kemerdekaan Catalunya. Dengan mengangkat isu rasial dan fasisme pemerintahan Spanyol, para suporter ini menyuarakan perlawanan dari tribun stadion. 

Selain dua contoh tadi, ada gerakan antifasis yang tumbuh di dalam kelompok suporter sepak bola. Beberapa kelompok suporter ini menyebut diri sebagai “Ultras”. Berbeda dengan pandangan umum perkara casual outfit khas ultras, gerakan ini menyuarakan perlawanan pada kebencian rasial serta fasisme yang selama ini mencari panggung di 90 menit laga. 

Perlawanan ini diwujudkan dengan pakaian casual serba hitam. Tujuannya adalah untuk melepas identitas gerombolan dan menghindari pertikaian berbasis jersey klub kesayangan. Para antifasis tribun ini memandang bahwa persaingan hanya terjadi di dalam lingkup laga sepak bola saja. Setelah pertandingan, tidak ada lagi kebencian yang tersisa terhadap klub lawan. Apalagi kebencian berbasis kedaerahan dan rasial. 

Contoh besarnya tentu saja suporter St. Pauli FC. Berbasis di Hamburg, Jerman, klub serta suporter sepak bola ini dipandang sebagai pelopor gerakan antifasisme di daratan Eropa. Dikenal dengan logo tengkorak di atas bendera hitam, St Pauli menyuarakan perlawanan sengit terhadap rasisme dan fasisme yang kerap dilakukan suporter klub lain. 

Suporter klub Besiktas dari Turki juga serupa. Suporter ultras mereka yang bernama Co@rsi aktif dalam perlawanan terhadap rasisme yang menjadi-jadi di bawah kepemimpinan Erdogan.

Co@rsi juga menjadi motor pergerakan yang sukses menarik suporter ultras klub lain di Istambul dalam aksi besar melawan otoritas Turki di 2013. Barikade yang dibangun para ultras ini sukses menahan aparat Turki untuk menduduki daerah mereka selama beberapa minggu. 

Di Indonesia, banyak pula bermunculan gerakan antifasis berbasis suporter sepak bola. Salah satunya adalah Bobotoh Antifa. Berakar dari Bandung, ultras ini menyuarakan sikap anti pada rasisme, seksisme, dan homofobia. Ketika tiga isu tadi santer terasa dalam setiap laga, para ultras dan gerakan Antifa menyuarakan perlawanan. 

BACA JUGA YUK :  Menghitung Pendapatan Liverpool Sebagai Juara Liga Inggris, Eropa, dan Dunia

Dari contoh ini, saya menemukan kecenderungan positif dalam perlawanan terhadap rasisme dan fasisme. Dari tengah ajang olahraga yang dipandang sebagai sumber isu rasial, lahir pula kesadaran kolektif bahwa rasisme dan fasisme adalah paham destruktif. Isu ini memudarkan indahnya laga sepak bola serta menumbuhkan konflik berkepanjangan. 

Perlawanan dari akar rumput seperti ini lebih terasa daripada jargon-jargon serta promosi influencer. Tanpa mengartikecilkan upaya populis lain, tapi membangun semangat anti rasis dan anti fasis dari laga sepak bola akan lebih kuat tertanam. Tidak ada buku yang lebih hebat, atau teori yang lebih unggul, selain kesadaran bersama bahwa sepak bola dan kehidupan sosial bisa terlepas dari urusan rasial. 

Bukankah lebih nyaman untuk bersorak sorai menyanyikan dukungan dari tribun, lalu pulang dengan bahagia dan tenang? Untuk apa menabur isu rasial yang tidak relevan, bahkan meromantisasi sebagai cinta daerah? 90 menit bersaing, dan melawan rasisme serta fasisme selamanya!

Avatar

Den Baguse Prab

Orang yang setia untuk mempertanyakan segala hal. Membenci banyak hal dan orang dalam kebencian yang setara dan egaliter.

View all posts by Den Baguse Prab →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *