Alasan Mengapa Kita Demen Menonton Sinetron Meski Nggak Mutu

susahtidur.net – nonton sinetron

Sampai hari ini, setiap malam saya nggak pernah ketinggalan menonton sinetron di televisi. Kalau boleh jujur, awalnya saya ogah nonton sinetron. Hanya saja malam hari adalah waktu di mana televisi dikuasai emak saya yang suka sinetron, saya pun ikut menontonnya. Apalagi adik saya belakangan juga suka menonton sinetron.

Lama-lama saya pun kecanduan menonton sinetron. Hampir tiap malam saya usahakan nggak absen menonton sinetron. Alasan saya menonton sebuah sinetron karena udah terlanjur mengikuti ceritanya saja. Hehe.

Namun untuk pendapat mengenai sinetron adalah tayangan yang nggak bermutu, setidaknya sampai detik ini saya masih sepakat. Ceritanya itu-itu saja. Pengerjaannya yang dikebut. Judul yang aneh-aneh. Logika yang ditabrak-tabrakkan. Dan masih banyak lagi alasan untuk menyebut sinetron adalah tayangan yang blass ora mutu.

Meskipun didapuk sebagai tayangan yang nggak bermutu, sinetron pada kenyataannya sampai hari ini masih menghiasi televisi kita. Dulu, sekitaran tahun 1998 ada sinetron “Tersanjung”—btw, tahun segitu saya baru lahir. Terus ada sinetron “Putri untuk Pangeran” sampai “Dari Jendela SMP” yang muncul saat saya sedang bingung mikirin judul skripsi. Paling baru malah ada yang judulnya aneh banget yaitu “Anak Band”. Asli, aneh benar, setelah dulu ada “Anak Jalanan” terus melipir ke “Anak Langit”, eh sekarang malah “Anak Band”. Kayak… asli pingin ngomel-ngomel rasanya ada sinetron dengan judul yang terkesan malas dan dipaksakan itu. Tapi ah, yasudahlah.

Kalau dihitung sejak 1998 sampai sekarang saja, artinya sinetron telah bertahan selama kurang lebih 22 tahun. Tentu nggak cuma bertahan tapi juga bereproduksi dan berevolusi sesuai kebutuhan pasar.

Kendati gelombang layanan streaming digital semakin gencar, intensitas tayangan sinetron tak tergoyahkan. Bisa dikatakan layanan streaming digital hanya mampu menarik perhatian masyarakat barang sebentar. Itulah sebabnya, meski nggak bermutu tinggi, sinetron masih tetap tayang dan eksis.

BACA JUGA YUK :  Jenis Gangguan Tidur yang Paling Nyebelin dan Nyeremin

Saya diam-diam mencoba menganalisis mengapa banyak di antara kita—diakui atau tidak—masih tetap menonton sinetron. Walaupun banyak yang menyebut bahwa sinetron kita—karya sineas pertelevisian—kian hari kian kusut saja. Dari sebuah analisis, saya temukan alasannya.

Bermuatan Religius

Di Indonesia, satu hal yang bisa bikin rame adalah agama. Segala sesuatu kalau disangkut-pautkan dengan agama pasti rame. Orang-orang akan mudah tersinggung kalau agamanya diusik. Begitu pula sebaliknya. Orang akan senang jika agamanya terus ditampilkan.

Nah, makanya meski beberapa sinetron banyak yang dinilai nggak bermoral, muatan religius nggak mungkin terlewatkan.

Sinetron “Anak Jalanan” menjadi bukti bahwa pembalap motor liar adalah anak muda yang religius. Jauh berbeda dengan apa yang kita pikirkan tentang pembalap motor liar.

Lihatlah bagaimana Boy, si tokoh utama menjalankan salat dan mengaji. Malamnya balapan motor. Gendakan pula sama si Reva. Stigma pembalap motor liar yang dekil, cuma menganggu ketertiban jalan dan kenyamanan kuping seolah sirna usai menonton “Anak Jalanan”

Karena religiusitas bisa menjadi barang jualan, mungkin itulah sebabnya Indosiar betah menayangkan sinetron Azab dan satunya lagi yang soundtrack-nya Ku Menangis itu. Juga tak ketinggalan sinetron “Amanah Wali 4” yang episodenya diperpanjang.

Muatan religius dalam sinetron ada dua. Satu nonverbal kayak Boy tadi. Kedua verbal seperti di sinetron “Amanah Wali 4” atau “Dunia Terbalik”.

Dengan melihat Boy salat atau mengaji, kita paham kalau itu adalah perilaku-perilaku religius. Sedangkan muatan religius verbal bisa kita temukan saat menonton Apoy ceramah tentang sabar ke pedagang Pasar Makmur dalam “Amanah Wali 4” dan Ustaz Kemed yang mengisi tausiyah di semesta “Dunia Terbalik”.

Umat butuh wejangan-wejangan agama, sedangkan televisi sampai hari ini masih meyakini program dakwah paling cocok ditayangkan pada pagi-pagi sekali. Padahal di antara umat-umat ini subuhan saja tidak. Maka dari itu kehadiran sinetron bermuatan religi mampu memenuhi kebutuhan nilai luhur keagamaan masyarakat.

BACA JUGA YUK :  Mohon Maaf, Nggak Ada Perang Mercon Puasa Ini

Relatable

Kalau kita mau tahu sifat asli kita, tabiat kita yang sesungguhnya, tontonlah sinetron. Di sana bertebaran karakter yang relate banget sama kita. Tukang gosip, nyinyir, orang sombong, manusia kedekut, semua tumplek blek dalam sinetron.

Sinetron itu ibarat cermin. Jadi kalau kita nonton sinetron, yang kita lihat adalah diri kita sendiri. Bercermin juga aktivitas yang nggak mungkin kita lewatkan. Selesai mandi, bercermin. Menyisir rambut, bercermin. Potong rambut, bercermin. Memakai piranti pakaian, juga bercermin.

Selain mencerminkan diri masing-masing individu, sinetron juga menggambarkan realitas sosial. Istri yang mencak-mencak kalau uang bulanan dari suami secuil. Anak yang tidak tahu diuntung. Sampai perkara bagi-bagi warisan.

Oleh karena itu, tanpa perlu promosi apa pun, sinetron tentu bakal mendapatkan penonton. Masyarakat kita ini sudah sangat suka dengan segala sesuatu yang menyangkut dirinya. Relatable adalah barang jualan.

Satu-satunya Hiburan Saat Program Televisi Lainnya Makin Nggak Jelas

Alasan yang sangat tidak diplomatis. Namun memang seperti itulah kondisinya. Saya pernah mengalami sebuah masa di mana saat menyalakan televisi saya bingung mau nonton apa.

Hampir semua program televisi isinya nggak jelas dan membosankan. Terutama pada malam hari. Program kompetisi dangdut yang mendadak seolah-olah jadi program game show. Program yang modal kontennya comot media sosial. Program reality show yang lebih pantas disebut gimmick show.

Kalau sudah begitu, apalagi nggak ada tayangan Liga Inggris, sinetron adalah pilihan saya supaya ritual menyalakan televisi tiap malam nggak mubazir belaka. Meskipun bukan berarti sinetron itu program yang jelas. Sama-sama nggak jelas sih. Namun, setidaknya sinetron punya alur cerita. Itulah yang membuat sinetron memiliki daya tarik lebih, karena orang kalau sudah mengikutinya, nggak mau ketinggalan menonton barang satu episode pun.

BACA JUGA YUK :  Mari Mengenang Jasa-jasa Bioskop Transtv
Avatar

Muhammad Arsyad

Blogger, tinggal di pesisir Kota Pekalongan.

View all posts by Muhammad Arsyad →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *