Mengapa Harus dan Nggak Harus Nongkrong di Angkringan

sumber gambar dari google.com

Penaklukan Alexander The Great ke Mesir nampaknya adalah proses penting dalam pertukaran budaya. Alexander membawa budaya barat ke dunia timur, menamai sebuah kota dengan namanya sendiri yakni Alexandria, bahkan membangun perpustakaan terbesar sepanjang peradaban. Di kota itu pula alkulturasi budaya terjadi. Pengetahuan saling dibagi. Orang-orang timur mengetahui tentang orang barat dan sebaliknya, meski ya tentu saja budaya barat kemudian lebih menonjol di sana.

Well, itu adalah masa Alexander The Great yang sudah lampau. Eh tetapi, tau nggak sih, kalau sebenarnya kita juga punya kok alexandria-alexandria lokal yang sangat dekat dengan kita?

Tempat itu bernama angkringan. Sungguh. Pertukaran pengetahuan ada di angkringan. Alkulturasi budaya terjadi secara nyata. Orang-orang berkumpul dari segala kalangan dan membaur menjadi satu. Sungguh, universitas terbaik di negeri ini saja tidak bisa menyatukan antara pak RT, ojol, karyawan Indomaret, sampe emak-emak juragan kos di satu forum yang sama. Hanya angkringan, tempat yang rendah hati dan murah, yang bisa menyatukan semua itu.

Kalau kalian adalah mahasiswa baru di Jogja, nongkronglah di angkringan. Akan kalian temui pembahasan terkait isu politik secara mendalam, bahkan sampai ke ranah-ranah mistisnya sekalian. Ada juga pembahasan mengenai banjir dan solusi-solusi dari bapak-bapak pake sarung sambil minum kopi. Ada pula pembahasan perekonomian dunia. Semuanya lengkap, ditemani gorengan hangat namun alot itu. Wel, ada juga sih yang nggak alot.

Saya jamin, banyak info-info baru yang kalian dapet saat nongkrong di angkringan, kan? Salah satunya barangkali, kalian jadi tahu sistem Ojol dari sisi drivernya, kan? Emang enggak dikasih tau secara langsung, tetapi denger dari curhatan-curhatan abang ojol ini kita jadi tahu. Demikianlah, pengetahuan kadang tidak datang ketika kita diberitahu sesuatu, tetapi ketika mendengar dan menyerap segala bentuk pembicaraan di lingkungan kita.

Kalau kalian sedang beruntung, kadang ada pula dosen yang secara otomatis akan memberikan kuliah gratis kepada kalian. Atau kepada temennya, tapi kalian ikutan nguping sambil ngerokok tipis-tipis. Atau kalau nggak ada dosen, minimal asisten dosen deh. Yakin, tanya aja dikit tentang perkuliahan, nyerocoslah si asisten dosen ini. Pada dasarnya asisten-asisten dosen adalah pribadi yang gemar membagi pengetahuannya, entah itu bermanfaat didengar atau tidak.

Pun bapak pemilik angkringan adalah moderator yang sungguh bijaksana, tidak memotong pembicaraan maupun mengolok-olok suatu opini. Ia rendah hati mendengar dan kadang berkomentar sedikit demi sedikit mengenai apa yang ia ketahui, tidak sok pintar maupun sok menggurui. Makanya, layaklah jika suatu saat moderator ILC berasal dari bapak-bapak pemilik angkringan. Atau bahkan moderator debat calon Presiden sekalian.

BACA JUGA YUK :  6 Jenis Bapak-bapak yang Selalu Ada di Grup WhatsApp Ronda Desa

Namun kenapa memilih angkringan sebagai pelarian? Jelas tak lain tak bukan karena harga menu-menunya yang sungguh aman kantong. Nasi kucing seporsi dulu sempet seribu rupiah di tahun 2013an. Naik lima ratus menjadi seribu lima ratus, dan rata-rata harga nasi kucing menjadi dua ribuan. Gorengan? Siapa yang bisa menahan godaan wujud makanan satu ini? Gorengan dulu sempat di harga lima ratus per biji, sekarang rata-rata dua ribu dapet tiga, tetapi kalo beli satu harganya seribu. Entah matematika ilmu mana yang diterapkan. Pun segala minuman ada di sana, mulai air putih, esteh, es jeruk, susu jahe, jahe anget, sampe kopi joss yang didaulat menjadi minuman fusion juga ada di sana. Well, mungkin fenomena black charcoal yang menjelma dari sabun muka sampe ke pasta gigi asal usulnya dari fusion antara charcoal dan hot ‘black coffee from fire ship’—baca, kapal api—ini kali ya?

Dengan segala kemurahannya, tak heran jika banyak orang demen ke angkringan. Selain makanannya murah, daya tarik angkringan adalah acara ngumpul-ngumpulnya. Di sana kita bisa denger orang ngomingin saham, ngomongin kuliah, ngomongin kerjaan, ngomongin pilem, pun ngomongin temen. Tapi yang sekarang sering terjadi sih yang ngumpul di angkringan pada Mabar game onlen. Ya serah kalian sih mau ngapain aja, asal jangan bangun patung Hokage di sana.

Para ojol yang semakin merajalela jumlahnya itu juga sungguh menjadi sumber pemasukan bagi yang punya angkringan. Pun jadi tempat mangkal favorit karena bisa nongkrong-nongkrong santai sambil nunggu orderan. Bahkan salah satu kawan saya yang ojol kerap hanya memesan esteh dan ngetem di sana berjam-jam. Ada orderan, berangkatlah. Lantas balik lagi. Minum esteh seseruput, ngobrol ngalor ngidul, dapet orderan, berangkatlah lagi. Demikian terus siklus yang terjadi di sana.

Dengan segala pesona itu, tepatlah jika memilih angkringan sebagai tempat makan di malam hari seusai aktivitas melelahkan seharian, berkumpul dengan teman yang cuma beberapa, menyantap tiga nasi kucing karena satu aja nggak kenyang, ambil gorengan alot yang kayaknya udah digoreng di jaman Firaun, ambil sate usus, minum susu jahe, sambil ngobrol ngalor ngidul tentang bagaimana caranya kaya dengan cepat tanpa bantuan Tuyul.

Ketika malam mulai tinggi dan udaranya sungguh berat, pun suasana angkringan semakin tak kondusif karena ada sepasang kekasih bertengkar gara-gara yang cowok ketahuan ngelike postingan Anya Geraldine, maka saya putuskan untuk kembali ke kamar kos yang sudah lama saya tinggalkan. Ketika ingin membayar, barulah saya menyadari sesuatu.

Total tagihan saya adalah 13.500. Astaga. Ternyata lumayan juga pengeluarannya. Lebih murah beli olive paket hemat yang 9 ribuan dan makan di kos. Astaga, padahal kan mau hemat.

BACA JUGA YUK :  “Tentang Pulang”, Single Perdana Alurmaju untuk Obati Kerinduan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *