Agama (atau) Ketakutan

ilustrasi dari nyt

susahtidur.net – Hari yang penuh dengan senyum, berubah menjadi hari yang terkutuk. Tujuh orang biadab Mujahidin Indonesia Timur atau MIT membumi hanguskan nalar dan kemanusiaan. Entah bagaimana takaran nyawa menurut mereka. Otak hanya sekadar hiasan yang melekat. Tak pernah berfungsi sempurna. Kala agama lagi-lagi menjadi tameng kelakuan biadab.

Sebelum membicarakan hal biadap tersebut, saya akan menyampaikan beberapa hal yang saya anggap cukup “menyenangkan”. Menyenangkan di sini, dalam artian memiliki makna khusus dan destruktif. Jika Anda membaca mencari pembenaran, saya rasa tulisan ini kurang tepat. Lebih baik menutup tulisan ini dan ambil buku motivasi di rak buku berdebu, di pojok kamarmu itu.

Jika diberi satu kesempatan untuk menyampaikan pendapat, kemudian pendapat saya ini ditutup dengan kecaman, diburu, dibunuh, dipenjara atau lebih jauh diasingkan, tentu saya akan berbicara mengenai agama. Agama yang dahulu mewujud sebagai bentuk ritus yang khusyuk, kini berubah menjadi agama yang benar-benar bersifat sosial.

Emile Durkheim akan tersenyum mendengar pendapat ini. Lebih jauh lagi, Durkheim memetakan representasi dan ritus menjadi sebuah hal yang paling sederhana. Kini giliran saya yang tertawa, pendapatnya mengenai “bentuk agama primitif”, tak ubahnya sebuah pandangan mahasiswa baru mengenai dinosaurus atau fosil manusia goa yang ditemukan di Sungai Brantas. Membaca peradaban, namun tak mengkajinya secara dalam.

Tetapi itulah manusia. Ia terjebak dalam pencarian jati diri makrokosmos yang—kurang lebih—akan terus berjalan sampai bumi ini hancur (orang beragama menyebut kondisi ini bernama kiamat). Sebagai zat penenang, maka manusia menciptakan ritus-ritusnya yang—katanya—luar biasa menyentuh khalbu. Padahal, ritus ini merupakan penyederhanaan mereka atas kegagalan pencarian makrokosmos yang benar-benar manunggal.

BACA JUGA YUK :  Nasionalisme (Semu) Papua

Pemikiran manusia kian berevolusi, namun pandangan mengenai Yang Absolut masih stagnan. Kisah-kisah heroik dibangun begitu digdaya. Membelah lautan, menuju bulan, membelah dan menyunggi bumi, hingga muaranya akan muncul persembahan. Dari yang mulai menyediakan hal-hal pokok, sampai yang lebih jernih bernama ritus.

Kitab-kitab muncul dengan dalih penyempurnaan. Panduan untuk melaksanakan ritus. Untunganya saja terdapat muatan yang baik dan masuk akal. Namun tentu saja diselipkan sebuah dongeng, yang sejatinya lebih pantas dibacakan menjelang seorang anak kecil tertidur pulas dan memikirkan Miki Tikus dengan problematikanya.

Saya sependapat dengan Sigmund Freud, dalam The Thee Essays on the Theory of Sexuality, semenjak lahir, dorongan jasmani dan seksual telah mengendalikan sebagian besar tingkah laku anak-anak. Hubungan seksualitas dengan agama, memunculkan istilah menarik dari diri Freud yang bernama Oedipus Kompleks.

Salah seorang dosen filsafat menanyakan pertanyaan yang amat kacau, “Kenapa kita menyebut dengan Tuhan?” Seorang yang terdidik itu, bahkan pikirannya amat kosong. E.B. Taylor, mendalami teori animisme tanpa mengenyam bangku universitas, bahkan memiliki pola pikir yang lebih masuk akal ketimbang pertanyaan orang yang terdidik itu.

Taylor mengatakan, hubungan antara basis-rasional pemikiran dengan evolusi sosial dapat dilihat dalam setiap aspek kebudayaan manusia. Maka muncul simbol. Sebuah medium yang dianggap bisa menyampaikan maksud dan tujuan hanya dengan menjentikan jemari. Taylor menyokong ini dengan bukti masyarakat primitif. Tanpa disadari, lingkungan masyarakat terdekat kita, acap kali melakukan praktik ini.

Agama yang tidak berkembang, diikuti dengan pergerakan beradaban yang begitu hebat, maka melahirkan manusia-manusia tolol macam Ali Kalora dan anggota MIT lainnya. Mereka adalah prodak sempurna dari pikiran tak berimbang antara agama dan peradaban yang menyingsing dari kolektif matahari yang timbul dan tenggelam.

BACA JUGA YUK :  Mempertuhankan Demokrasi

Saya menyatakan banyak manusia paripurna yang menggunakan agama dengan baik dan benar. Sekalipun agama yang ia genggam, tidak pernah mengikuti lajur jaman. Tiap manusia memiliki pola pikir yang berbeda, sedangkan produk-produk gagal penyembang agama dengan membabi-buta, tentu saja nyata dan ada.

Muaranya adalah adu domba umat beragama. Kita ingat kala kejadian di Prancis, sebagai pihak minoritas, tentu terkena imbasnya. Kini terjadi di Indonesia, negara yang melandasi banyak agama dan kepercayaan adat, belakangan diklaim oleh satu agama, melihat kejadian beradab ini dengan picik dan tidak berimbang.

Agama atau ketakutan? Saya lebih suka menganggap kejadian biadab ini ulah orang-orang tolol yang salah kaprah mengimplementasikan agama. Tidak ada agama yang mengajarkan untuk membunuh, jika ada, itupun kepala tersebut berubah menjadi kepala domba. Tak ada ruang diskusi di antara mereka—Ali Kalora dan kolega—yang ada hanyalah kebodohan yang dipupuk dan beranak pinak.

Islam, setahu saya, mengajarkan kebajikan. Pun sama seperti Nasrani, Yahudi atau bahkan penyembah ‘Dinamo’. Agama, walau stagnan, berlomba menciptakan aturan, dalil, dan bulir ayat untuk kebajikan. Hal ini berlangsung dari masa ke masa. Konsekuensinya adalah melahirkan manusia picik dan tidak terdidik. Mereka tidak bisa melihat agama sebagai media penajam sekaligus pisau iris dalam sosial.

Jika Durkheim masih hidup, sembari menyalakan cerutu di pelataran rumah, membaca berita yang isinya kebodohan dan nalar pincang MIT, saya yakin ia akan tertawa. Ia lantas akan berbicara, “Ternyata saya salah. Ada yang lebih primitif dari bentuk agama elementer seperti Totem. Yakni manusia yang tidak bisa menggunakan agama secara bijak dan benar.”

Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut

View all posts by Gusti Aditya →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *