Adat yang Mengikis Agama

susahtidur.net – ilustrasi adat yang mengikis agama

Mau bagaimana pun—harusnya—adat ada di atas agama. Adat yang menyoroti subordinasi-subordinasi yang masuk ke sebuah daerah. Misalkan politik, ekonomi, dan juga agama yang berlainan dengan adat di tempat tersebut.

***

susahtidur.net – Namaku Diq—barang tentu bukan nama sebenarnya. Bisa gila aku memakai nama sebenarnya, namaku yang tercetak di KTP, untuk menulis hal seberbahaya ini di Rata Kiri. Malang betul nasibku ini. Aku tak pernah membayangkan bagaimana tekanan yang dialami oleh Gusti selama ini. Biarlah, aku tak peduli.

Jadi begini, sementara waktu, aku akan menggantikan kerja Gusti Aditya dalam mengelola kolom Rata Kiri. Aku tak elok menyusun kata, namun pengalamanku akan menampilkan realitas. Pun kata Gusti, “Biarkan apa yang kamu alami itu sebagai ujung tombak tulisan ini.” Entah maknanya apa, bisa saja Gusti menyuruhku untuk terjun ke lembah bernama nestapa.

Gusti menyuruhku bercerita tentang adat dan agama. Tentang pengalaman yang aku alami. Tentang stigma dan pandangan rendah dari berbagai pihak. Tentunya, Gusti tertarik dengan olah pikirku ini. Tentang pikiranku yang amat berbeda dari lingkungan adat tempat aku tinggali.

Menyampaikan pendapat ini, bisa saja aku berakhir tinggal nama belaka. Namun tak apa, bukankah kolom Rata Kiri itu memang bekerja bak keranda penjemputan jenazah? Atau paling tidak ya seperti genderang perang antar-suku. Makanya, tanpa banyak basa-basi lagi, mari kita mulai.

Aku mau menikahi kamu, namun besok aku “culik” dan “kawin lari”, ya?

Pantai Ketapang amatlah elok sore itu. Senja jingga lamat-lamat bak hendak memakan lautan lepas di Pulau Lombok. “Linduq tak lagi ada di lautan itu, kini berpindah ke pelupuk matamu,” begitu kataku kepada Rusmi. Ia hanya tersenyum cantik sekali.

“Tak ada linduq, Diq,” begitu jawab Rusmi. Linduq yang kami maksud adalah kepulan awan. Kepulan yang biasanya amat indah mengitari Rinjani. Sore itu adalah hari besar, aku hendak melamar Rusmi. Ia adalah cintaku. Ia adalah utuh. Tentu saja, adat merariq kudu aku lakukan, tidak bisa tidak.

BACA JUGA YUK :  Mempertuhankan Demokrasi

Kau kudu tahu merariq itu apa. Merariq itu semacam tradisi “menculik” calon mempelai sebelum melaksanakan tradisi perkawinan. Si laki-laki membawa kabur si perempuan ke bale panyeboqan. Itulah adatnya. Betul sekali, saudara sekalian, aku kudu menculik Rusmi sebelum dirinya aku nikahi. Dengan syarat bahwa Rusmi bersedia secara sadar untuk aku culik.

“Kata guruku, merariq itu menyalahi hukum dan agama, Diq. Tak bisakah kita menjalankan dengan normal?”

Normal, katanya? Ah, bahkan tak menyangkut pautkan merariq itu adalah hal yang tidak bisa aku anggap sebagai hal normal. Namun aku paham apa yang melandasi Rusmi berkata seperti itu. Belakangan, merariq acap kali dijadikan penyelewengan atas nama nikah paksa.

Rusmi melihatku terpaku menatap senja yang habis dilumat samudera. Ia berkata, “Pun merariq itu, ujar guruku, tak sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran agama kita, bukan? Artian lain, laki-laki harus melakukan khitbah kepada ayah perempuan jika menseriusinya.”

Aku mau dinikahi oleh dirimu dengan adat apapun, namun tunggu dulu…

“Nona manis,” itulah andalanku, kala Rusmi mulai berbelit dengan apa yang baru saja ia pelajari dan terima di dunia pendidikannya. “Nona kudu paham perihal adat dan agama…”

“Tidak, Diq, bahkan aku sudah paham,” itulah jawaban Rusmi. Sebuah jawaban yang mengisyaratkan bahwa aku kudu membuang jauh adat istiadat yang selama ini aku peluk rapat-rapat. “Diq, aku bukan bermaksud menolak ajakanmu itu, hanya saja aku bukan bagian yang permisif. Toh bukan hanya dalam pandangan agama, tetapi juga hukum.”

“Hukum katamu?” Aku terkejut bersama deburan ombak yang menabrak bahu jalan sepanjang jalan menuju Sembalun. “Ini hanyalah perihal penyalahgunaan adat saja!”

“Tidak, Diq, ini menjadi masalah kompleks. Amat kompleks,” wajah indah Rusmi berpendar bersama muramnya Pantai Ketapang sore ini. Tak ada mobil berlarian sepanjang Jalan Raya Lombok Utara. “Balutan adat yang seakan kudu diterima, menjadi marak penyelewengan. Banyak kasus pernikahan dini. Jika dikomparasi, akan bertemu dengan satu hal, yakni kemiskinan.

BACA JUGA YUK :  4 Alasan Mengapa Jadi Alumni Pesantren itu Nggak Enak

“Pun, Diq, aku punya harga diri. Aku adalah perempuan yang kudu kau nikahi secara baik-baik,” aku benar-benar diam seribu bahasa. Aku tak bisa paham lagi isi kepala Rusmi yang selama ini aku kenal. Sejak pergi ke kota, ia amat berbeda. “Nikahi aku dengan cara yang ala kadarnya, Diq.”

Aku menelan ludah. “Dan kamu menyalahkan adat atas segala problem yang coba kamu katakan tadi, Nona manis?” Aku memegang tangan Rusmi. Ia tersenyum melihat mataku yang terbelalak hampir keluar.

Ia menganggukan kepala. Pudar sudah kisah indah yang coba aku bangun selama ini.  

Adat sebagai kontrol agama

Rusmi adalah perempuan yang cerdas, Anda harus tahu itu. Lantaran Rata Kiri ini aku tulis dalam versiku, aku enggan membawa Anda tak adil dalam menimang sebuah perkara. Rusmi benar, terlebih tentang pernikahan dini dan kemiskinan. Aku tak mengelak—atau lebih tepatnya tak bisa mengelak.

Pun aku tahu bahwa tetua adat sudah banyak upaya memperjuangkan tradisi merariq ini. Aku akui, belakangan, orang-orang seperti Rusmi jumlahnya menjadi kian banyak. Entah itu melibatkan tafsir agama, atau pun membawa-bawa hukum dan martabat. Sekali lagi, tak salah. Hanya saja aku punya pendapat.

Ada hukum adatnya mengenai merariq. Misal telah disetujui oleh tetua adat, pun perjanjian antara dua pasangan ini. Paling gampang adalah telah melakukan melakoq atau ngendeng, yakni persetujuan perkawinan di antara dua pasangan tersebut yang melibatkan keluarga. Jadi, sesuai hukum negara maupun agama, merariq tidaklah ilegal di mataku.

Lagi pula, ini adalah adat. Sebuah ritus yang telah lama ada dan bisa jadi lebih lama dari masuknya agama-agama dengan segala sifat sucinya. Adat—tidak hanya merariq dan anggap saja bahasan tentang merariq usai sampai di sini (ah, bangsat betul menulis Rata Kiri. Bagaimana bisa Gusti selalu sanggup dan Riyanto selalu tega?)—pasti akan terbentur oleh agama lantaran agama langit yang muncul di jazirah Arab, barang tentu berbeda dengan adat ketimuran.

BACA JUGA YUK :  Onani Pendidikan Indonesia

Kita tak kudu repot-repot membicarakan pakaian, lebih sentimen daripada itu adalah pemikiran. Arif dan bijak dalam sebuah adat, tentu punya takaran berbeda dari agama. Adat lebih paham perihal kondisi dan lingkungan tiap daerah. Sedang agama adalah “barang baru” yang merangsek masuk ketika “diterima”.

Harusnya, adat menjadi kontrol masuknya agama. Bukan malah agama yang menjadi penyaring adat di sebuah tempat. Kondisinya kebanyakan memang begini, agama kini menyeleksi adat mana saja yang bisa digunakan dan tidak. Penyeleksian ini berjalan dengan gamblang, menyingkirkan adat demi adat yang tak sesuai.

Mau bagaimana pun—harusnya—adat ada di atas agama. Adat yang menyoroti subordinasi-subordinasi yang masuk ke sebuah daerah. Misalkan politik, ekonomi, dan juga agama yang berlainan dengan adat di tempat tersebut.

Di sebuah daerah, tentu sudah ada politik. Katakanlah politik y, sedangkan subordinasi dari luar, katakanlah politik x. Di sinilah peran adat sebagai kontrol, adat tentu akan berupaya mengedepankan politik y, dan menyaring politik x agar tidak tumpang tindih dengan politik y. Karena melalui adat, politik y telah memiliki nilai-nilai luhur kekhasan sebuah daerah tersebut.

Lantas bagaimana dengan agama? Ah, bukankah tiap agama itu ada satu garis lurus kesatuan yang sama, yakni menyembah Tuhan? Tenang saja, adat sebagai kontrol tentu akan menyaring dengan mudah, Tuhan mana yang paling masuk akal untuk diterapkan di sebuah daerah tertentu.

Jika sudah begini, adat menjadi sebuah sistem yang paling waras dari segala sistem yang pernah diciptakan oleh manusia di muka bumi. Karena adat lahir dalam riak-riak keresahan yang lebih nyata, bukan dari antah berantah di atas langit nun jauh di sana.

Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut

View all posts by Gusti Aditya →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *