Acara Televisi Sekarang Nggak Bermutu. Apa Iya?

sumber gambar dari pexels.com

Masih hangat pemberitaan terkait sebuah grup raksasa televisi menggugat platform video on demand yang kisahnya lucu lucu nggak lucu. Pun banyak yang kemudian beropini tentang kejadian itu, ada yang pro terhadap gugatan—minoritas, dan ada pula yang kontra dengan gugatan itu—mayoritas. Ada yang bilang bahwa perusahaan tersebut seakan kebakaran jenggot karena berkurangnya minat menonton televisi, sehingga alih-alih membuat konten yang disukai banyak orang, mereka justru menyerang platform lain yang mencuri pemirsanya.

Komentar semua orang beragam, tetapi bisa diringkas menjadi satu kalimat sederhana yaitu tayangan televisi sekarang sudah tidak bermutu. Tapi, apa benar begitu? Apa benar televisi kehilangan pemirsa hanya karena tayangannya semakin nggak bermutu? Jika memang alasannya demikian, bukankah pernyataan ‘Acara tv sekarang nggak bermutu’ terdengar sangat familiar di telinga kita? Tidak, bukan karena kita yang mengatakan kalimat tersebut, tetapi karena orang tua kita yang dulu mengatakannya kepada kita.

Menarik, bukan? Bukankah klaim dari generasi lama ke generasi penerus terkesan sama, bahwa generasi sebelumnya selalu membanggakan tontonan di masa mereka dulu dan mencemooh tontonan generasi berikutnya. Tentunya dulu kita ingat—yang generasi 90an—tentang acara kartun setiap akhir pekan dari pagi sampai siang dan betapa kita mendamba acara tersebut, tetapi tontonan yang menurut kita bermanfaat itu tetap saja dibilang tidak bermutu sama orang tua kita, bukan?

Kemudian saat kita beranjak dewasa dan tidak ada lagi acara kartun kesukaan kita semasa kecil, digantikan sinetron romansa yang benar-benar picisan, kita menganggap acara itu tidak bermutu, padahal barangkali acara tersebut sangat bermutu bagi generasi di bawah kita karena memang itu menarik bagi mereka.

BACA JUGA YUK :  Alasan Kenapa Seekor Kucing Mendapatkan Stereotip Buruk di Masyarakat

Kita merasa acara televisi yang kita tonton semasa kecil lebih bermutu daripada tontonan saat ini, semata-mata bukan karena acara tersebut memang bermutu, tetapi karena ada keterikatan antara kita dan tontonan tersebut. Kita tumbuh dewasa dengan budaya menonton tv tersebut entah apa pun itu tayangannya. Dan jujur saja, sebermutu-bermutunya tontonan kita dulu, kita pasti tetep nonton sinetron, kan? Lantas karena kita tumbuh dewasa dan memiliki akses untuk memilih tontonan kita, kemudian kita menganggap apa yang sudah tidak kita tonton lagi adalah sesuatu yang tidak bermutu. Ya, kita semakin berkembang sementara konten acara televisi mempertahankan ritme mereka, dan bukannya bermutu atau tidak, tapi semata-mata karena tontonan tersebut sudah tidak relate dengan selera kita.

Dulu kita tidak bisa memilih tontonan kita dan menelan apa saja yang diberikan oleh stasiun televisi. Ya, aneh memang kenapa stasiun televisi yang pada dasarnya adalah bentuk kapitalisme, tetapi malah berpedoman pada rating yang seharusnya bertentangan dengan kapitalisme. Kapitalisme, tetapi kenapa disetir lapisan masyarakat?

Memang ada tv kabel di mana kita bisa memilih saluran mana yang ingin kita tonton dan acara seperti apa yang kita sukai, tetapi tv kabel bukanlah sesuatu yang bisa diakses oleh semua lapisan masyarakat sehingga sekalipun tv kabel itu ada, bukan menjadi masalah besar bagi stasiun-stasiun tv swasta, toh beberapa stasiun tv swasta juga memiliki jaringan tv kabel mereka sendiri.

Permasalahn yang kemudian terjadi bagi industri televisi adalah munculnya pilihan yang lebih mudah untuk menonton sebuah acara. Kita semua menjadi dewasa dan bisa mengaskes segala sesuatu yang kita inginkan, kemudian kita menjadi tidak cocok dengan konsep kapitalisme televisi. Toh kenapa harus terpaku jam siar kalau kita bisa menonton acara yang kita sukai kapan saja. Lagipula sebagai manusia modern dengan banyaknya aktivitas, mana sempat kita meluangkan waktu untuk duduk di depan televisi sekedar untuk menonton acara tertentu, sementara dengan platform video on demand kita bisa bebas kapan saja menonton acara yang kita sukai.

BACA JUGA YUK :  Kenangan Manis Bermain Tamiya

Permasalahannya sesederhana itu. Bukan masalah acara televisi sekarang bagus-bagus atau jelek-jelek, tetapi sebatas karena kita bebas memilih apa yang ingin kita tonton saat ini. Toh kalau memang sebuah televisi menanyangkan acara super bagus dan super mendirik dan super berkualitas, tetap akan terbentur dengan jam siar yang tidak fleksibel. Kita ingin menonton acara Tonight Show yang akan segera tayang lagi itu, tetapi ternyata ada saja pekerjaan yang harus kita lakukan. Pada akhirnya kita lupa untuk menontonnya dan memilih mencari di platform youtube, bukan?

Seberkelas-berkelasnya acara di stasiun televisi akan selalu terbentur dengan jam siar. Dunia saat ini bergerak dengan cepat, bahkan beberapa kalangan tidak sempat untuk mengetahui apa-apa saja yang sedang booming di dunia maya karena sibuk mengurusi start-upnya, sibuk mengurusi skripsinya, sibuk mengurusi pekerjaannya, dan lain-lain.

Kita sebagai manusia modern terlampau cepat bergerak untuk dijangkau stasiun televisi dengan acara yang tidak fleksibel. Maka dari itu kita menjadi tidak menyukai acara-cara televisi, sekedar karena kita tidak terlalu punya waktu. Bagi mereka yang punya waktu luang, acara-acara televisi tetap saja bagus dan sama bermutunya dengan beberapa tahun lalu.

Pun kalau memang acara televisi sekarang memang tidak bermutu, nyatanya banyak juga konten tidak bermutu—bagi pihak yang nggak suka dengan kontennya—di kanal youtube tetapi mendapat jutaan view. Jadi permasalahannya bukan sekedar apakah kontennya berkualitas atau tidak, tetapi karena kemudahan untuk menonton acara di kanal lain.

Kita tumbuh dewasa, memiliki preferensi tersendiri terkait tontonan kita, menjadi sibuk karena rutinitas, kemudian mendapat akses untuk menonton acara kesukaan kita di platform video on demand, kemudian menganggap apa yang tidak kita sukai sebagai sesuatu yang kurang bermutu.

BACA JUGA YUK :  Mohon Maaf, Nggak Ada Perang Mercon Puasa Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *