4 Golongan Manusia Nyebelin yang Biasa Ada di Tongkrongan

sumber gambar dari pexels.com

Saat ini nongkrong sepertinya sudah menjadi kegiatan yang wajib bagi remaja, orang dewasa, bahkan anak-anak sekolah. Saking wajibnya, sampai-sampai kegiatan nongkrong atau bahasa gawlnya adalah nongki—yang saat ini sudah masuk Kamus Besar Bahasa Indonesia—ini tak bisa dibendung sekalipun pandemi masih naik-naiknya nih.

Saya termasuk orang yang nggak suka nongki. Tapi kalo sekali dua kali ya nongki lah kalo udah bosen di rumah terus. Sesekali saya memperhatikan berbagai karakteristik dan tipe-tipe orang yang nongki ini. Sadar nggak sadar ternyata ada banyak tujuan orang nongki selain cuman makan dan minum loh. Ada yang sambil ngerjain tugas, rapat kelompok atau komunitas, sekedar bertemu kawan lama atau bincang-bincang santai. Tapi di antara orang-orang ini masih ada lagi loh kelompok orang yang nyebelin. Berikut adalah daftarnya.

1.      Geng ghibah yang paling di atas

Layaknya Bu Tejo tapi versi anak remaja, geng ghibah versi remaja lebih nyelengking didengar telinga. Mereka pasti selalu ada di setiap kedai kopi yang lagi hitz. Kadang mereka berasal dari satu geng, satu sekolah ataupun teman satu kampus. Bayangkan saja ada lima Bu Tejo dalam satu ruangan. Ada satu saja sudah bikin kuping panas apalagi kalau ada lima?

Nggak masalah sih, cuman saya sebagai orang yang mudah insecure rasanya sedikit minder dan semakin minder saat mendengar ghibah-an kaum-kaum nyinyiers ini. Sudah menggosip, nyaring lagi. Pastinya mengganggu pengunjung sekitar banget.

2.      Ributnya cowok-cowok yang lagi mabar

Ini adalah hal pertama yang harus dihindari saat pertama kali masuk ke kedai kopi. Yak, menghindari duduk di sekitar mereka. Apalagi kalau tujuan kita nongki sambil ngerjain tugas, duh yang ada malah naik darah dan nggak jadi ngerjain tugas. Ributnya teriakan para cowok-cowok yang lagi mabar ini sama dengan ributnya mak-mak komplek yang lagi berkelahi, tapi versi kasarnya ini. Segala macam nama binatang sudah pasti engga bakalan absen disebut deh.

BACA JUGA YUK :  Menilik 7 Sisi Gelap Manusia Lewat Drama “The World of the Married”

Saya pernah terpaksa duduk di sekitar mereka, karena sudah tidak ada lagi tempat kosong lain. Benar, saya nggak jadi ngerjain tugas, cuman browsing doang sambil nyinyir di Twitter. Teman saya yang satu malah mendengarkan musik pakai earphone. Sesekali kami mencoba fokus kembali ke tugas kami masing-masing tapi tak bisa dimungkiri, teriakan nama-nama binatang yang sering kali bikin kaget itu nyatanya lebih mendominasi otak saya.

3.      Hebohnya main kartu dan uno stako

Nah kalau yang ini harus dihindari tapi sepertinya sulit dan tak terhindarkan. Si pemain kartu atau uno stako ini awalnya seperti pengunjung biasa, ngobrol santai dan minum santai. Tapi setelah agak lama, mereka bosan dan mulai deh memainkan permainan andalan mereka. Biasanya mereka terdiri lebih dari 4 orang, terus kalau sudah asyik main sampai lupa mereka lagi ada di mana.

Pernah saya kena sialnya, lagi asyik-asyik kerjai tugas, eh yang tadinya anteng-anteng saja malah jadi blunder. Mereka asyik sendiri main kartu, sampai-sampai mereka pada berdiri-an mainnya karena takut diintip sama teman di sebelahnya. Atau kalau yang main uno stako, pas balok uno sudah runtuh, rasanya jantung saya mau copot sebab teriakan dan bunyi gubraak balok yang runtuh terjadi begitu saja. Inilah yang saya sebut heboh, hebohnya sampai lupa tempat dan bisa merugikan orang lain. Ya tahu sih kita di sini sama-sama bayar, tapi nggak begitu juga kali mainnya.

4.      Aktivis paling gema

Kebanyakan aktivis pasti memiliki suara yang lantang, besar, dan bergema sehingga orasi mereka dapat didengar jelas oleh para demonstran lain dan sampai ke pihak-pihak tertentu yang dituju. Hal ini memang sangat bekerja dengan baik saat sedang demo di depan bangunan DPR. Tapi kalau sedang rapat di tempat umum apa iya harus berbicara dengan lantang seperti itu? Ya mungkin sudah kebiasaan atau terbawa suasana.

BACA JUGA YUK :  Ayo Diet Plastik! Tanpa Mantan Bisa Hidup, Tapi Nggak Bisa Tanpa Bumi!

Saya sebenarnya orang yang membela aktivis, tetapi untuk keresahan yang satu ini sepertinya saya tak akan membela mereka. Sayangnya, saat mereka sedang rapat di tempat umum, mereka sama sekali tidak bisa mengondisikan suara mereka. Bayangkan saja kamu lagi ngobrol santai, tiba-tiba sekitar kamu lagi ada yang demo dan orasi. Walaupun kamu berusaha cuek, tapi secara nggak sadar kamu sama temanmu jadi mesti ikut teriak-teriak juga ngomongnya karena suara kamu dan temanmu kalah nyaring dan besar sama suara aktivis itu.

Well, membuat keributan, keramaian dan kehebohan di sebuah tempat seperti cafe, kedai, atau tempat makan lainnya itu sah-sah saja kok asalkan tetap sadar diri dan tahu situasi sekitar ya. Kamu yang suka main game, mengobrol ketawa-ketiwi nggak sadar sama volume suara sendiri coba deh lebih diperhatikan lagi sikapnya. Memang sesama pelanggan sudah sama-sama bayar dan berhak menikmati fasilitas yang disediakan, tetapi ingat lagi ya kalau suara kamu lebih mendominasi tempat tersebut itu nggak adil bagi pelanggan lain dan sangat-sangat mengganggu jiwa-jiwa yang ingin nongki santai. Terkadang saya sadar diri juga memang salah saya kalau memilih nongki sambil ngerjain tugas. Tapi apa salah saya saat saya hanya ingin bertukar pikiran dengan teman-teman saya namun akhirnya kamu-kamu semua secara nggak sadar mengganggu dengan kehebohan dan keramaian yang kalian ciptakan? Entah apakah saya pantas untuk bilang, “Bisakah kamu memanusiakan manusia lain di sekelilingmu?” Mending private room saja sekalian kalau mau rapat organisasi, kan nggak enak juga itu masa rapatnya didengar sama orang banyak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *