4 Acara di Stasiun Televisi RCTI yang Layak Diapresiasi

RCTI belakangan ini memang seperti membakar api di lautan minyak. Sudah di masa pandemi, bukannya hiburan bermutu yang diutamakan, mereka malah menyusun bara dengan cara menggoyang YouTube dan Netflix. Tidak hanya RCTI, namun juga iNews. Namun, kedua stasiun televisi ini memiliki inang yang sama. Mereka mengajukan judicial review Pasal 1 ayat 2 UU Penyiaran. Penyiaran berbasis spektrum frekuensi radio harus tunduk kepada UU tersebut. Itu artinya, secara tidak langsung, Live Instagram selebgram favoritmu bisa terancam.

Tapi terlepas dari semua itu, apa yang dilakukan RCTI tidak sepenuhnya salah. Pihak yang sudah kalah, dalam kasus ini kalah karena mati kreativitasnya, tindakan paling lazim adalah mempermasalahkan segala sesuatu yang bisa dipermasalahkan. Lihat saja kawanmu ketika kalah main PES. Segala angin kencang di luar ruangan yang tidak ada hubungannya saja bisa dipermasalahkan. Tulisan ini contohnya, bisa juga dipermasalahkan. Tapi tunggu dulu, di sini saya bukan sedang protes atas tindakan mereka, justru saya akan memuji acara-acara RCTI atas dasar rasa ikhlas.

Pertama, Tukang Ojek Pengkolan. Saya pernah memuji habis-habisan, melalui tulisan “Lama-lama Sinetron ‘Tukang Ojek Pengkolan’ Membosankan Juga“. Bahkan, pujian saya disambut sumringah di kolom komentar oleh beberapa masyarakat yang suaranya saya wakili. Lagi pula, acara ini sejatinya mendidik sekali. Adek kakak yang berantem terus, orangtua pacaran, mantan mantu yang dimusuhi, pengamen annoying, dan pertengkaran antara ojek online dan pangkalan yang—saat ini—hanya ditemui dalam acara yang katanya komedi.

Drama-drama Netflix tidak ada apa-apanya ketimbang Tukang Ojek Pengkolan. Coba sebutkan drama di Netflix yang tokoh-tokohnya, banyaknya sampai satu desa. Nggak ada, kan? Nggak bakal ada. Kita dipaksa untuk melihat problem masing-masing tokoh, satu kampung, namanya Rawa Bebek. Ceritanya bukan mengenai ojek pangkalan, tapi tentang penjual sup buah, penjual kopi, penjual cendol dawet, dawet dawet cendol cendol ho a ho e.

BACA JUGA YUK :  Menebak Karakter Orang dari Caranya Memasak Indomie

Kedua, Dunia Terbalik. Jujur, saya nggak setuju dengan tulisan di Mojok yang berjudul “Sinetron Dunia Terbalik Sebaiknya Menghilangkan Tokoh-tokoh Nyampah Ini” karena bukan hanya mereka yang layak dihilangkan, namun acaranya. Ah, saya cuma bercanda. RCTI berani menggoyang Netflix, berarti ia berani menampilkan kualitas yang—setidaknya—menyaingi. Dan sinetron Dunia Terbalik salah satu contohnya.

Dari sini, kita dibuat paham tentang gampangnya menyingkirkan satu karakter yang putus kontrak dengan produksi. Di cerita, buat saja tokoh tersebut meninggal. Sesimpel itu. Kala produksi besar, ketika cast-nya sedang mengalami masalah dan terpaksa digantikan, mereka dibuat putar kepala untuk megisi kekosongan ini. Namun, sinetron Dunia Terbalik memiliki cara yang terbaik. Sudah berapa tokoh yang terpaksa dibuat mati. Kenapa mudah? Simpel, karena sinetron ini nggak punya alur cerita yang jelas.

Mari kita tinggalkan saja Money Heist Season 5, kita beralih menonton lucunya anak kecil yang “dipaksa” menjadi bodoh agar terlihat menggelitik.

Ketiga, Dagelan OK. Saya suka pelawak-pelawak di dalamnya. Saya suka komedi yang putih, merah, biru atau bahkan hitam. Namun, hadirnya Mbak Cupi Cupita adalah daya tarik yang membuat penonton lebih menunggu dirinya ketimbang lawakannya. Banyak juga yang menjadikan dirinya sebagai objek komedinya.

KPI memang nggak asik. Masak acara semendidik ini sampai kena teguran. Saya kutipkan teguran tertulisnya, dilansir dari laman resmi KPI, “Program siaran tersebut menampilkan adegan seorang pria berkata, “..sama ada giniannya.. (sambil menunjuk ujung tutup teko)”. Di sampingnya duduk seorang pemeran wanita dengan pakaian yang menunjukkan lekuk tubuhnya. Secara keseluruhan, candaan yang dilontarkan cenderung bermakna asosiatif mengarah ke bagian dada pemeran wanita.”

Peringatan itu memang sudah lama. Sekitar dua tahun yang lalu. Tapi tayangan ulang acara ini, kerap ditemui ketika jam sudah mendekati dini hari. Saya hanya bisa menyesali, mengapa acara semendidik ini harus ditempatkan di jam yang amat larut. Ah, pantas seks edukasi dari Dokter Boyke saja jadi problematis. Padahalkan Dokter Boyke membahas…ah, sudahlah. Pokoknya televisi terbaik! Boom!

BACA JUGA YUK :  Saya Mendukung Gugatan RCTI Karena Media Digital Sudah Terlalu Binal

Keempat, Anak Jalanan. Saya sumringah ketika menyalakan televisi, jika tidak salah ketika Si Gundul sedang iklan, iseng saya mencet saluran terbaik ini. Muncul sinetron Anak Jalan. Saya kira episode terbaru, jebul hanya acara ulang saja. Padahal saya sangat penasaran dengan gaya berantemnya Mas Boy yang amat mendidik itu.

Apa lagi acara ini ada di jam prime time anak sekolah, ketika selesai mengerjakan tugas online, sebagai kawan untuk menyambut kantuk. Ditambah jam-jam sibuk orangtua mengurus pekerjaan online maupun realitas di luar. Televisi masih menjadi akses paling mudah untuk anak-anak dalam mencari hiburan.

Ketika YouTube tidak lagi menjadi sorotan untuk individual dan konten kreator, masuk industri besar seperti yang terjadi kepada T-Series. Putaran waktu mengajak kita untuk terjebak kepada lini masa yang berbeda, namun dengan problem yang sama. Televisi masuk platform semisal YouTube amat mudah, namun para konten kreator ini amat sulit. Tapi melihat kualitas dari empat acara di atas, Netflix dan YouTube rasanya sudah tidak dibutuhkan lagi. Nice move RCTI, sekarang sana cari rating, jual air mata dan masukan iklan di sinetron-sinetronmu lagi.

Avatar

Gusti Aditya

Pernah makan belut

View all posts by Gusti Aditya →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *