3 Alasan Mengapa Kita Nggak Perlu Pindah Kewarganegaraan

susahtidur.net – pindah kewarganegaraan

Ketika masyarakat berda di sebuah negara yang sedang berantakan, protes adalah sebuah hal yang wajar. Di Indonesia, paska pengesahan UU Cipta Kerja yang sarat akan ketidakberpihakan kepada rakyat ini, protes mulai bermunculan. Ada yang melakukan protes langsung, ada pula yang protes secara tidak langsung. Salah satu protes tidak langsung yang sempat ramai adalah banyak warganet yang ingin pindah kewarganegaraan. Meskipun ini konteksnya guyonan, namun beberapa menganggapnya serius. Apalagi setelah tulisan di Tirto.id mengenai tata cara pindah kewarganegaraan muncul kembali. Ya mau tidak mau, isu pindah kewarganegaraan ini sempat ramai.

Banyak warganet yang mulai berangan-angan negara mana yang jadi tujuan identitas baru mereka. Negara Eropa semacam Swiss jadi salah satu negara yang banyak diminati oleh warganet. Tentu ini hanya sebatas angan saja, karena berpindah kewarganegaraan itu bukan hal mudah. Ada banyak sekali yang harus diurus. Membayangkan ribetnya saja sudah pusing. Belu lagi berhadapan dengan birokrasi di Indonesia yang ribetnya sudah jadi rahasia umum. Belum lagi tidak ada jaminan mau kerja apa dan tinggal di mana. Kalau ujung-ujungnya jadi gelandangan ya percuma saja.

Meskipun hanya sebatas angan, saya cukup yakin bahwa ada segelintir orang yang benar-benar ingin pindah kewarganegaraan. Mereka mungkin sudah mempersiapkan segala macam syarat untuk bisa pindah kewarganegaraan. Destinasi negara baru pun juga sudah didapat, dan mau kerja apa di sana juga mungkin sudah dipikirkan. Namun, untuk memastikan keputusan orang-orang ini sekali lagi, saya akan coba paparkan tiga alasan mengapa kita tidak perlu pindah kewarganegaraan, sehancur apa pun kondisi negara kita.

1. Di Luar Negeri Tidak Ada WC Jongkok

BACA JUGA YUK :  Cara Ajaib Biar Bisa Bangun Sahur

Ini adalah alasan paling prinsipil dan fundamental. Selain sebagai alat pembuangan, wc jongkok juga merupakan identitas masyarakat Indonesia. Khasiat wc jongkok pun bermacam-macam dan sudah teruji secara klinis. Di luar negeri, terutama di negara yang sudah lebih maju dari Indonesia, akan susah menemukan wc jongkok. Semuanya wc duduk. Sudah gitu, tidak ada air untuk membersihkannya. Sudah tidak sehat, jorok lagi.

Bayangkan saja kalau orang yang terbiasa dengan wc jongkok, memutuskan untuk pindah negara di Eropa. Selain adaptasi lingkungan dan cuaca, dia juga harus adaptasi dengan wc duduk. Sudah pasti akan susah dan menyiksa. Cobalah pikir-pikir, alasan pertama saja sudah menjelaskan bahwa kita tidak perlu pindah kewarganegaraan. 

2. Makanan di Luar Negeri Tidak Enak

Seaneh-anehnya dan semewah-mewahnya makanan luar negeri, rasanya tidak lebih nikmat dari makanan Indonesia. Saya memang tidak pernah pergi ke luar negeri. Tetapi, teman saya yang pernah tinggal beberapa tahun di Eropa mengeluhkan soal makanan. Katanya, makanan di Eropa biasa saja, tidak ada yang nikmat. Namanya saja yang keren, tetapi rasanya biasa. Tentu bukan hanya teman saya saja yang mengatakan hal tersebut. Banyak pula orang-orang Indonesia yang tinggal di luar negeri, yang punya pendapat serupa.

Kalaupun sampai jadi pindah kewarganegaraan dan tidak tinggal lagi di Indonesia, kita akan susah menemukan makanan yang nikmat dan murah meriah. Nasi pecel, rawon, soto, gado-gado, dan sate akan menjadi makanan yang susah ditemukan dan kalaupun ada, harganya akan jauh lebih mahal. Maka dengan segala kemudahan mencari makanan di Indonesia, opsi untuk pindah kewarganegaraan harusnya dipikir lagi secara matang, atau kalau bisa dibatalkan saja.

BACA JUGA YUK :  Jenis-jenis Orang Aneh bin Nyebelin yang Saya Jumpai Saat Demonstrasi

3. Budaya Nongkrongnya Beda

Bagi warga Indonesia, nongkrong itu adalah sebuah budaya dan sebuah kebiasaan yang tidak boleh dilewatkan. Duduk-duduk, minum kopi sambil berbincang ngalor-ngidul menjadi sebuah ciri khas masyarakat Indonesia. Sesibuk apa pun kita, pasti kita akan menyempatkan waktu untuk nongkrong. Mau itu di rumah, di kampus, di kantin kantor, atau di warung kopi sekali pun. Kegiatan ini tentunya akan susah ditemukan di negara-negara lain. Maka dari itu, keputusan untuk pindah kewarganegaraan harusnya dipikirkan kembali, karena kalau sampai kejadian, kita akan terancam susah untuk nongkrong. Bisa nongkrong, tetapi suasananya akan berbeda dan jauh tidak lebih asyik dari nongkrong di Indonesia.  Itulah tiga alasan mengapa kita tidak perlu memutuskan untuk pindah kewarganegaraan.

Tiga alasan di atas harusnya cukup untuk meruntuhkan segala ambisi dan segala nafsu untuk pindah. Kita boleh marah terhadap kondisi negara saat ini, tetapi kita akan lebih marah kalau sampai kita pindah ke luar negeri dan menyadari segala kemudahan dan kenikmatan yang kita dapat di Indonesia, susah kita dapatkan di negara yang baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *